:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 05 Januari 2005 02:10


Unlam Mau Dibawa Kemana ?

Oleh : Padli SSos

Jangan berhenti pada riset (penelitian). Kewajiban sebuah perguruan tinggi tidak sekadar melaksanakan perkuliahan, tapi juga harus mampu mengkaji, meneliti dan menjadi problem solving terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Inin yang dikatakan Rektor Unlam H Alfian Noor, pada dies natalis ke-44 Unlam dan membanjirnya dana hibah kompetitif dari Dirjend Dikti. (BPost 25-26 November 2004).

Menurut saya, apa yang dikemukakan H Alfian Noor adalah sesuatu yang wajar untuk tidak mengatakan sebuah kehawatiran, karena kini visi dan misi Unlam telah berubah. Unlam yang semula bercita-cita ingin membangun universitas terkemuka di bidang riset (akademik), tapi pada kenyataannya lebih cenderung mengembangkan program diploma. Ironisnya, banyak program studi tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi pasar tenaga kerja, namun tetap dipertahankan untuk menjadi ‘mesin uang’ sebagai penghasilan tambahan.

Ketika masih mahasiswa, saya sering bertukar pendapat dan terkadang juga mendengar keluhan dari dosen senior tentang minimnya alokasi dana untuk riset. Fasilitas yang dimiliki Unlam belum cukup untuk menunjang penelitian yang validitasnya terpenuhi. Belum lagi mengenai pembiayaannya. Bayangkan saja, alokasi dana untuk riset selama ini tidak lebih dari lima persen dari alokasi dana perguruan tinggi secara keseluruhan. Dengan membanjirnya dana hibah seperti Due-Like, Semi QUE V maupun ADB, kita tentu berharap Unlam ke depan mampu menjadi research university.

Sebagai sebuah perguruan tinggi negeri, Unlam boleh dikatakan masih beruntung karena semua gaji pegawai dan dosennya dibayar pemerintah. Berbeda jika dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta (PTS) yang harus survive dengan menggaji semua stafnya dari dana SPP mahasiswa. Selain itu, pengelola Unlam boleh dikatakan cukup kreatif dalam pencarian dana, ini terlihat dari berbagai program studi yang kini semakin bertambah. Program studi ini bisa dikategorikan kedalam dua kelompok studi, yaitu jalur akademik (riset) dan jalur diploma (professional).

Jalur akademik diwakili oleh program S1-S2, karena memang sifatnya yang akademik maka mahasiswa S1-S2 dibekali dengan wawasan keilmuan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan analisisnya ketika lulus dari perguruan tinggi. Sebaliknya, jalur diploma (profesional) mahasiswanya diarahkan untuk memiliki keterampilan (skill) dan ketika mereka lulus dari program tersebut, bisa langsung memasuki dunia kerja tanpa memerlukan training karena dianggap sudah siap pakai.

Dari 10 fakultas di Unlam, ada 21 program diploma ditambah tiga program studi baru di FKIP. Bagi saya, sebenarnya sah-sah saja pengembangan program studi selama itu memang relevan dengan pasar kerja, seperti teknik pertambangan yang memang sesuai dengan kondisi wilayah Kalimantan, kemudian fisika, transportasi, geografi dan sosiologi/antropologi. Sayangnya, pengembangan program studi tersebut tidak diimbangi dengan mengevaluasi program studi lama yang pasar kerjanya sudah jenuh. Bukankah pendirian program diploma di Unlam hanya bersifat sementara sesuai kebutuhan, karena Unlam merupakan universitas riset yang harus memfokuskan diri pada jalur akademik.

Seperti yang diketahui bersama, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dikenal sebagai salah satu fakultas yang lulusan sarjana (S1)-nya banyak tidak tertampung di pasar kerja. Sebagai alumni, saya tahu persis. Fasilitas gedung untuk S1 saja, masih kurang memadai, apalagi harus membuka dua program diploma dengan konsentrasi yang sama dengan S1.

FISIP tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk standar diploma. Seperti belum tersedianya internet, Network Local Area (LAN), laboratorium khusus diploma, perpustakaan yang masih dikenal sebagai museum, bahkan sampai sekarang komputer cuma berjumlah 10 unit dengan mahasiswa lebih 800 orang. Mungkinkah FISIP mampu menghasilkan lulusan diploma yang terampil dan siap pakai? Ketersediaan fasilitas yang minim, cenderung berpengaruh pada kualitas yang dihasilkan. Kalau kualitas kurang bagus, tentu akan menimbulkan masalah lagi di pasar kerja.

Rupanya pengelola Unlam belum mempunyai sikap tegas. Apakah akan membangun universitas riset (akademik) atau universitas politeknik (profesional). Ini menunjukkan adanya suatu kebingungan dan hal tersebut akan menjadi sebuah dilema besar, ketika harus banting setir mengikuti visi dan misi awal yang dirumuskan untuk menjadi perguruan tinggi terkemuka di bidang akademik. Untuk membangun universitas riset, mestinya Unlam memperkuat jalur akademik. Berarti, harus lebih mengutamakan program sarjana (S1-S2) sebagai produk unggulan.

Sebelum dibuka program diploma maupun kelas eksekutif ekstensi, banyak dosen Unlam yang mengajar di PTS. Namun kini, swasta harus mengusahakan sendiri staf pengajarnya karena dosen negeri yang dulu diandalkan semakin sibuk dengan program diploma dan kelas ekstensi. Semakin banyaknya tawaran yang menggiurkan dari Unlam seperti yang diuraikan di atas, sehingga hampir lupa pada penelitian yang menjadi kewajiban dalam salah satu Tridharma Perguruan Tinggi. Untuk itu, rektor perlu mengingatkan agar dosen jangan berhenti untuk melakukan penelitian.

Sebagaimana diketahui, Unlam terlalu berlebihan dalam mengembangkan jalur diploma sehingga terkesan menjadi ‘mesin uang’. Kalau alasannya hanya itu, maka keberadaan jalur diploma (profesional) patut dipertanyakan. Selayaknya pembukaan sebuah program studi harus disertai feasibility study untuk mengetahui sejauhmana permintaan pasar atas tenaga terampil yang kelak akan diluluskan. Sebab kalau tidak, tak ubahnya hanya menghasilkan penganggur terdidik yang tidak jelas mau ditampung di mana.

Lebih mengherankan lagi, lulusan diploma yang kini jumlahnya semakin banyak malah berlomba masuk jalur S1 (sarjana) dengan menambah waktu kuliah dua tahun. Sementara pemilik jalur S1 senang-senang saja menerimanya.

Saya tidak ingin mengatakan, pengelola Unlam kurang memahami apa sebenarnya tujuan dibukanya program diploma. Atau barangkali karena mengandalkan rasa iba, daripada lulusan diploma tidak diterima di lapangan kerja, lebih baik diterima dijalur S1. Mungkin juga adanya alasan yang tersembunyi, yaitu program alih jenjang ini dapat mendatangkan rupiah bagi Unlam itu sendiri. Apalagi biaya SPP alih jenjang umumnya lebih mahal.

Dengan tidak bermaksud menghilangkan makna dan arti dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Kalimantan, tampaknya pengelola Unlam belum dapat membaca atau pura-pura tidak tahu terhadap permintaan pasar tenaga kerja khususnya di sektor swasta. Maka, hal ini memunculkan keinginan yang tidak rasional untuk membuka program studi dari berbagai jurusan. Penawaran program diploma yang semakin membanjir, mendorong mereka yang tidak diterima di jalur S1 mengalihkan pilihannya ke jalur diploma. Sebagian mereka berpikiran, program diploma adalah batu loncatan untuk masuk S1 dengan tingkat kompetisi yang lebih ringan.

Begitu pula dengan kelas ekstensi yang mendapatkan banyak kemudahan, menimbulkan protes dan kecemburuan bagi PTS karena mahasiswanya semakin tahun semakin berkurang. Selain itu banyak mahasiswa PTS yang pindah ke program ekstensi, untuk bisa mendapatkan ijazah Unlam yang sebenarnya tidak berbeda dengan ijazah pada umumnya. Kelas ekstensi juga tidak luput dari upaya penggalangan dana SPP yang memang relatif lebih mahal dengan perkuliahan hanya pada Jumat dan Sabtu yang materinya serba dipadatkan. Hal ini karena adanya demand dan supply mereka yang sibuk bekerja, baik sebagai birokrat atau swasta mempunyai keinginan untuk meningkatkan wawasan keilmuan, namun ketersediaan waktu yang terbatas.

Rektor terlalu santai dalam memimpin. Unlam belum mengalami banyak perkembangan, meskipun sudah tidak tepat lagi untuk dikatakan sebagai Universitas Lambat Maju. Hampir tidak ada prestasi Unlam yang bisa dibanggakan baik tingkat nasional maupun internasional. Peraihan ranking masih menempati urutan 20 besar dibanding perguruan tinggi lain di Indonesia.

Hal lain yang sangat disayangkan adalah kelemahan daya saing lulusan di pasar kerja, kurangnya fasilitas bagi mahasiswa, gedung, komputer dan perpustakaan yang semakin sunyi karena bukunya yang kedaluarsa. Semestinya hal tersebut tidak perlu terjadi lagi, apabila Unlam benar-benar ingin merealisasikan visi dan misi awal sebagai perguruan tinggi terkemuka di bidang akademik. Selamat ulang tahun Unlam tercinta semoga semakin maju.

Dosen Politeknik Negeri Banjarmasin,
tinggal di Banjarmasin
E-mail: ali_padli@yahoo.com


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


O P I N I
Unlam Mau Dibawa Kemana ?

Kilas Balik Aruh FKIP Unlam 2004 (Antara Keberhasilan Dan Kegagalan)


Tajuk: Satu Lagi Senjata Untuk Koruptor


Hot Line


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123