Aruh FKIP
Unlam 2004 yang pertama kali ini digelar, ditutup
Pembantu Dekan I FKIP Unlam di GOS Taman Budaya Kayutangi Banjarmasin. Terhadap
pelaksanaan aruh ini, saya melihatnya dari dua sisi: sukses pada satu sisi dan
gagal di sisi lain.
Panitia merasa bangga karena kesuksesannya yang luar biasa. Mulai tahap persiapan,
pimpinan FKIP memberikan fasilitas terbaik dan terhormat, Ruang Rapat Fakultas. Bayangkan,
mana ada di dunia kampus di jagat raya ini, ruang khusus untuk membicarakan segala masalah
fakultas direlakan untuk dikuasai panitia. Ini sungguh luar biasa.
Bahkan, Dekan FKIP Drs H Rustam Effendi merelakan diri untuk menggelar Rapat Fakultas
di ruang kuliah. Dalam pembukaan aruh itu, baik rektor maupun dekan kita memandang aruh
ini positif dan perlu dibudayakan. Artinya, di masa mendatang perlu digelar aruh
berikutnya. Bukan itu saja. Aruh ini dibuka oleh Wakil Gubernur Kalsel Hussin Kasah.
Ketika acara penutupan, Pembantu Dekan I FKIP Unlam Drs H Ahmad Sofyan MA menyatakan
Aruh FKIP 2004 ini sukses. Kesuksesan itu, menurut ia, tak lepas dari panitia
yang cukup militan. Harap dicatat, itu pernyataan resmi pejabat FKIP. Beranjak dari situ,
tentunya Aruh FKIP ini harus kita katakan sebagai acara serius dan bukan main-main. Ke
depannya, bila aruh atau apa pun namanya digelar, harap dibantu dana, paling tidak doa
restu. Hadirlah dan ikutilah segala kegiatannya. Serta, hendaknya tidak memandang aruh
yang sarat agenda serba hebat itu dengan sebelah mata. Sebagus-bagusnya agenda
yang direncanakan, tanpa didukung dan diikutsertai, it will be useless and meaningless.
Tanpa dukungan penuh dan keikutsertaan dari sebagian besar warga FKIP Unlam, agenda itu
pada hakikatnya gagal dilaksanakan.
Kepedulian Kita Dipertanyakan?
Tema Aruh FKIP 2004 adalah Peningkatan Kinerja FKIP Unlam Dalam Melaksanakan Tri
Darma Perguruan Tinggi. Sungguh, itu tema yang hebat. Jauh-jauh hari sebelum Hari H,
spanduk ganal terpampang di dalam dan luar kampus FKIP tercinta. Bila sosialisasi
dirasa kurang, saya tak bisa komentar lagi. Wong informasinya sudah diketahui.
Bahkan, semua ketua jurusan dan ketua program terlibat dan dilibatkan dalam setiap rapat
umum. Bila hal itu dirasa kurang, mau dibilang apa lagi, acara Aruh itu sudah berakhir.
Hebatnya lagi: Aruh FKIP 2004 dibilang sukses?
Sosialisasi ekstern kampus dilakukan via surat pemberitahuan dan undangan ke seluruh
penjuru Kalsel. Sebagai bukti, kawan saya yang bertugas di Kuripan, salah satu kecamatan
di Kabupaten Barito Kuala, tahu FKIP ber-Aruh-an. Untuk sekadar diketahui, Kuripan itu
adalah kecamatan paling terpencil dan terisolasi di kabupaten itu.
Menurut Dr Tarto, banyak kawan yang berdomisili di Banjarmasin menanyakan tentang Aruh
ketika acara hampir selesai. Ironis memang. Lebih ironis lagi, sebagian kawan di FKIP
menyatakan kurang tahu soal Aruh yang diselenggarakan di kampus tercinta ini. Kendati
sosialisasi ke daerah dilakukan -baik melalui surat, pemberitaan pers maupun iklan- namun
saya sangat maklum bila kawan alumni banyak yang tidak bisa hadir.
Ketidakhadiran mereka tentu didasarkan pada berbagai alasan. Misalnya: informasi tidak
sampai, kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan dan sejenisnya yang membuat rencana temu
kangen dan pembentukan ikatan gagal. Lalu, kita katakan kawan-kawan alumni
tidak mempunyai kepedulian terhadap rencana pembentukan ikatan alumni yang kelak
diharapkan bisa menjadi partner dalam rangka memajukan pendidikan di daerah ini? Atau,
panitialah biang keladi kegagalan itu?
Dengan demikian, militansi panitia seperti disampaikan Pembantu Dekan I
FKIP Unlam itu, perlu dipertanyakan. Sebab, kendati penggalangan dana dari berbagai pihak
tergolong sukses, namun keikutseraan warga FKIP dalam Aruh itu minim dan sejumlah
agendanya gagal digelar.
Namun demikian, saya masih punya keyakinan ikatan alumni FKIP Unlam Banjarmasin akan
terbentuk. Entah kapan? Sebab, dari sekian orang alumni telah bersepakat membentuk tim
kecil. Tim kecil ini akan meneruskan rencana Panitia Aruh FKIP 2004 untuk
membentuk Ikatan Alumni FKIP Unlam Banjarmasin? Kita tunggu saja program kerja mereka!
Amosfir Akademik Digugat?
Pada awalnya Dr Syakrani MSi dan Dr Wahyudi, terlihat sungkan membahas habis-habisan.
Mungkin dalam memberikan kata pengantar, ketua panitia menyatakan proses penulisan amat
singkat dan penulisnya dikategorikan sebagai pemula namun mempunyai keinginan
kuat untuk menulis. Maka, pembedahan yang mereka lakukan, hanya saran. Kendati begitu, Dr
Wahyudi, sesekali melontarkan kritik tajamnya kepada insan FKIP Unlam.
Menurut saya, Aruh FKIP 2004 utamanya Peluncuran Dan Bedah Buku Menguak Atmosfir
Akademik (16 September 2004), memunculkan kritik dan otokritik terhadap -dan ide
cemerlang tentang- upaya yang bisa diambil untuk perbaikan dan pengembangan FKIP Unlam. Dr
Wahyudi, seorang praktisi dari SMAN 1 Banjarmasin, misalnya melontarkan kritik, FKIP Unlam
masih memberikan yang out of date sementara di lapangan (sekolah) memerlukan yang up
to date. Bahkan, dia menantang insan pendidikan di FKIP untuk menawarkan
program inovatifnya? dengan melibatkan praktisi (sekolah).
Otokritik terhadap FKIP, misalnya, datang dari Dr Wahyu MS, dosen FKIP yang punya dua
keahlian: pendidikan dan sosiologi? Memang, dalam sejumlah diskusi kecil dan seminar
tentang pendidikan baik yang digelar di FKIP maupun di luar FKIP, Dr Wahyu selalu
berbicara lantang melontarkan kritiknya. Salah satu pernyataannya, mirip dengan pernyataan
Dr Wahyudi, bahwa insan akademis di FKIP hendaknya tidak duduk manis di menara gading, tak
tahu situasi nyata di lapangan.
FKIP Siap Dikritik?
Sebagai penutup tulisan ini, saya mengutip pernyataan pimpinan FKIP Unlam melalui
Pembantu Dekan I yang menyatakan kesiapannya untuk dikritik. Untuk itu, saya sampaikan ada
sejumlah masukan antara lain dalam hal: penciptaan atmosfir akademis FKIP; lulusan FKIP;
peran FKIP untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan sekolah; pendokumentasian masukan atau
kritikan, utamanya melalui media massa.
Tiga masukan pertama ditindaklanjuti atas dasar: kumpulan tulisan dengan judul
Menguak Atmosfir Akademik (2004); tulisan Norrahmiati Output FKIP Antara
Penawaran Dan Permintaan (Kalimantan Post, 14 Agustus 2004); tulisan Wahyudi
Menggugat Peran FKIP Unlam Terhadap Kebutuhan Dan Tuntutan Sekolah (Kalimantan
Post, 15 September 2004).
Masukan keempat bisa dilakukan dengan menunjuk petugas khusus mengkliping tulisan di
Koran yang menyinggung soal pendidikan dan FKIP. Beranjak dari kliping ini, fakultas dapat
membutiri poin penting yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk membuat kebijakan tertentu.
Kurang lebihnya, saya mohon maaf. Wallahu alam bish-shawab.
Dosen FKIP Unlam Banjarmasin, tinggal di Banjarmasin