Tanjung, BPost
Peningkatan kualitas pendidikan melalui Ujian Nasional (UN) sekolah dasar (SD) mulai
tahun ajaran 2008-2009 tampaknya sulit di terapkan di sekolah pinggiran dan desa
terpencil. Jangankan menghasilkan lulusan berkualitas, anak putus sekolah dan buta huruf
saja masih banyak.
Di Kelurahan Binjai Kecamatan Muara Uya yang terdiri dari enam desa yaitu Tiara,
Binjai, Gala-gala, Tangkan, Sungai Kumap dan Sinango, dengan 369 kepala keluarga, 40
persen warganya masih buta aksara. Selebihnya mereka berhenti sekolah di tingkat SD.
Hamdan, Kepala Kelurahan Binjai mengatakan warga buta huruf di daerahnya tidak cuma
berusia lanjut. Di Desa Kumap yang paling terisolir, banyak anak usia belasan tahun belum
juga mengenal huruf karena tidak bersekolah.
"Banyak penyebab warga buta huruf dan putus sekolah. Di antaranya tidak adanya
sarana sekolah yang dekat," katanya, Jumat (14/4). Di Desa Sungai Kumap yang hanya
dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 4 jam melalui jalan setapak dari Desa Binjai,
tidak ada sarana sekolah.
Warga bisa mengenyam pendidikan hanya mereka yang sekolah keluar desanya dan menumpang
di rumah sanak saudara yang dekat kota atau kos. Dengan kondisi ini tak heran bila
sejumlah guru di daerah terpencil baru berani menargetkan agar warga mau bersekolah dulu,
setidaknya bisa baca tulis .
Penerapan UN SD justru dikhawatirkan menambah deretan warga yang buta huruf dan putus
sekolah. Edy, guru di SDN Binjai I, Kecamatan Muara Uya memprediksi siswa di daerah
terpencil kemungkinan besar hal itu akan berdampak pula pada banyaknya siswa tak lulus.
Bila UN tanpa pengawasan ketat, Edy pun yakin banyak sekolah terpencil yang berusaha
menyelamatkan anak didiknya agar sukses ujian. "Sekarang saja, siswa selalu dibantu
dengan memberikan kisi-kisi soal yang akan diujikan,"katanya. nda