- Sesalkan sweeping
- Izin demo tak keluar
Surabaya, BPost
Strategi korban lumpur PT Lapindo Brantas yang berasal dari Perumahan Umum
Tanggulangin Anggun Sejahtera I Sidoarjo untuk berangkat berunjuk rasa ke Jakarta
benar-benar jitu. Mereka berhasil mengelabui polisi yang menjaga ketat Stasiun Pasar Turi
Surabaya.
Saat dilakukan pemeriksaan, Sabtu (14/4), polisi hanya bisa menggagalkan satu warga.
Ashari, warga Blok E Perum TAS I, diamankan karena kedapatan membawa KTP serta karcis
kereta Kertajaya jurusan Jakarta. Polisi juga menemukan kaos orange yang akan digunakan
untuk demo.
Sedang beberapa korban lumpur lainnya berhasil berangkat dengan menggunakan Kereta Api
Rajawali jurusan Semarang yang berangkat Pukul 14.15 WIB. Meski mengetahui mereka membawa
KTP dari daerah semburan lumpur, polisi tidak bisa menghalangi karena tujuannya ke
Semarang.
"Sesampai di Semarang, kita melanjutkan ke Jakarta," ungkap salah seorang
warga yang enggan disebut namanya.
Agar lolos dari sergapan polisi, warga dibagi dalam delapan kelompok.
"Pengelompokan ini untuk mempermudah koordinasi saja," kata salah satu ketua
kelompok, Soemitro. Apalagi demo sebelumnya batal.
Soemitro menyesalkan aksi aparat yang berlebihan terhadap rencana warga. Padahal,
kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat diatur undang-undang.
Kapolsek Bubutan AKP Riswandi saat ditemui di Stasiun Pasar Turi mengelak dikatakan
men-sweeping warga Perum TAS I. "Kita tidak melakukan sweeping. Ini hanya operasi
multisasaran," ujarnya.
Ada sekitar 200 korban lumpur yang diba di Jakarta, Sabtu sore, untuk menuntut
pembayaran ganti rugi tunai. Warga berkomitmen berkumpul di Tugu Proklamasi, Senin, dan
demo di depan Gedung Istana Merdeka dan DPR.
Namun rencana mereka sepertinya gagal. Izin demonstrasi tak kunjung keluar hingga
hingga Sabtu sore.
"Bahkan, Kapolres Sidoarjo secara langsung juga melarang kami ke Jakarta dan
berjanji akan ikut memperjuangkan aspirasi warga ke pusat," ujar Koordinator aksi
Yohanes Bambang Imam Suadi.dtc/ant/tic