Sumedang, BPost
Ketidakwajaran IPDN juga ditandai dengan keberadaan sel di dalam kampus. Sel ini
diduga kuat kerap digunakan untuk menghukum praja yang dianggap nakal. Ruang kurungan itu
letaknya agak tersembunyi, di pos pengendalian keamanan Kesatrian IPDN.
Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam kawasan tahanan ini. Keberadaannya pun tidak
banyak diketahui publik, selain para petugas keamanan kampus.
Akan tetapi, sejak kasus kematian Cliff Muntu mencuat, sel tak lagi digunakan untuk
menghukum praja-praja bandel. Sel berukuran enam meter persegi itu hanya digunakan untuk
menyimpan barang-barang dan tempat shalat bagi para anggota pengamanan dalam IPDN.
Toh demikian, keberadaan sel di dalam sekolah praja-- yang sesungguhnya tak lazim itu,
makin menguatkan fakta bahwa pola pembinaan yang lekat dengan kekerasan memang ada di
IPDN.
Priyo Susilo, seorang di antara perancang sekolah itu mengatakan bahwa IPDN memang
mengadopsi sekolah militer. "Kita belajar di West Point, itu asramanya Akabri-nya
Amerika," kata Priyo.
Ketika dikonfirmasi lebih jauh, Kepala Sub Bagian Keamanan dalam IPDN, Azhari,
menyatakan, sel itu dibangun pada tahun 1998. Namun ia menolak jika keberadaan sel
dikaitkan dengan aksi kekerasan yang sering terjadi di kampus. Sel baru digunakan jika
terjadi tindak kejahatan. Sel juga diperuntukkan untuk menahan pelaku sebelum diserahkan
ke polisi.
Ada fakta lain di sekitar Kampus IPDN yang sampai kini masih menjadi misteri. Sebuah
kompleks makam tersembunyi berada di antara rerimbunan semak. Beberapa di antaranya tanpa
nisan dan nama. Adapun informasi yang diperoleh dari sejumlah kalangan kampus, disebutkan,
di antara makam tersebut adalah kuburan praja IPDN atau STPDN.
Dukung Tim
Atas munculnya berbagai tindak kekerasan--bahkan hingga mengakibatkan kematian, mantan
ketua DPR RI, Akbar Tandjung pun mengharapkan agar IPDN diubah total. Diharapan, ke depan
lembaga pendidikan tersebut sejajar dengan lembaga pendidikan lainnya yang ada di bawah
Depdiknas.
"Kalau tujuannya untuk mencetak pamong atau pegawai ya harus diubah seperti
lembaga pendidikan lain. Artinya budaya kekerasan juga harus dihilangkan dan benar-benar
dijauhi di kampus tersebut," tegasnya, saat menghadiri pelantikan Badko HMI
Kalsel-teng di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Sabtu (14/4) siang.
Mantan ketua Golkar ini, juga mendukung upaya pemerintah membentuk tim investigasi
terhadap kasus-kasus kekerasan yang ada. Dengan begitu semua kebiadaban di kampus pencetak
pamong praja itu terungkap.
Praja Kalteng
Kemarin siang, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang menemui 147 praja asal Kalteng di
aula Balairung Jenderal Rudini, kampus IPDN. Dalam pertemuan itu sebagian praja mengakui
pernah melakukan tindak kekerasan.
"Saya mewakili teman-teman, mengakui ada sebagian kecil praja (Kalteng) yang
melakukan penyimpangan (kekerasan, red). Tapi jangan hanya melihat itu, masih banyak
prestasi (kami) yang dapat dibanggakan. Kami berharap pemerintah provinsi, kabupaten dan
kota mengunjungi kami untuk memantau kegiatan kami seperti yang dilakukan pemerintah
daerah lain," tutur Erwindi, Koordinator Kontingen Praja Kalteng.
Mendengar ini, Teras meminta meminta mereka tidak mengulangi. "Saya minta kalian
menyetop penganiayaan. Kami meminta kalian untuk terbuka dan tidak menutup-nutupi kejadian
yang sebenanya. Beranikah kalian melaporkan praja yang melakukan penganiayaan kepada
rektor, jika terjadi penganiayaan? Saya bangga pada praja yang berani melaporkan. Praja
yang seperti inilah yang layak jadi PNS," kata Teras. TJ/coi/lip/mtv