SOSOK wanita yang satu ini memang tak pernah lepas dengan persoalan gender. Bagi
Dra Hj Masyithah Umar MHum, gender bukan sekadar sebuah istilah. Tapi yang terpenting bisa
diaplikasikan secara adil dan nyata, jangan hanya secara normatif. Apalagi Allah tidak
pernah membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki.
alam menerapkan gender itu sendiri perempuan harus menyadari posisinya. Ketika wanita
merasa dirinya lemah jangan malah pesimis, namun harus bisa memberdayakan dirinya. Begitu
pula bila merasa mampu, tumbuhkan rasa optimis dan bersikap mandiri.
Karena dengan adanya penyadaran dan pemahaman akan potensi diri dalam diri wanita, akan
mudah mencapai suatu kemajuan. Sulit bagi seorang perempuan untuk maju atau mengembangkan
diri jika ia sendiri tak tahu potensi dirinya. Begitu pula kelemahan guna perbaikan diri.
"Pemberdayaan itu sendiri harus sesuai hu- kum Islam, dengan kapa- sitas yang
tidak berlebihan seperti pemahaman akan hak dan kewajibannya sebagai isteri," tutur
wanita yang juga Ketua Women & Child Crissis Center (WCCC) Kalsel.
Selain tertarik persoalan gender, kekerasan yang menimpa kaum hawa terutama kekerasan
dalam rumah tangga juga jadi pekerjaannya di Women & Child Crissis Center (WCCC)
Kalsel. Bahkan ia dipercaya menjadi Ketua WCCC untuk membantu berbagai persoalan
menyangkut wanita.
"Tidak banyak orang yang menangani permasalahan wanita, saya melihat trauma dan
kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi saat ini. Karena itu, keberadaan WCCC sebagai
wadah untuk membantu dan mendengarkan keluhan para wanita," jelasnya.
Sebagai wanita yang aktif yang juga Pembantu Rektor III IAIN Antasari, ibu empat anak
ini menyadari jabatan yang diembannya cukup berat. Namun ia memandang jabatan sebagai
suatu amanah yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan dan kalangan wanita harus
menyadari hal itu. Jangan sampai suatu jabatan yang dipegang kaum hawa malah jadi
bumerang.
"Bagi saya, jabatan yang diraih kaum wanita sebagai prestasi karena memang punya
kemampuan. Dan saya memangdang jabatan suatu amanah yang harus dilaksanakan dan
dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Wanita kelahiran Banjarmasin, 13 Agustus 1955 ini melaksanakan tugasnya sebagai
Pembantu Rektor III IAIN Antasari sesuai aturan atau job yang diberikan. Baginya,
kebijakan yang dibuat jangan sampai merugikan orang lain.
Ia ingin mahasiswa IAIN Antasari bisa menjadi orang yang berkualitas, akhlaqul
kharimah dan memiliki wawasan keilmuan sesuai kapasitas masing-masing. Termasuk
menerapkan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan sebaik-baiknya.mia
Biodata
Nama : Dra Hj Masyithah Umar MHum
TTL : Banjarmasin, 13 Agustus 1955
Pekerjaan : PNS/Pembantu Rektor III IAIN Antasari Banjarmasin
Suami : DR H Muhammad Hasyim MA (Alm)
Anak :
- dr Noor Maziyati Nida (24)
- Muhammad Ajib Nuzula (21)
- Maulidah Nur Afa (18)
- Mufidah Nur Pasha (18)
Orangtua : H Muhammad Umar (Alm) - Hj Saniah
Hobby : Berbincang
Motto : Kebenaran tutur, kejujuran hati dan keadilan sikap
Riwayat Pendidikan :
- D Negeri I Tanah Grogot (1968)
- SMP Negeri I Tanah Grogot (1971)
- Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (SPIAIN) Banjarmasin (1973)
- IAIN Antrasari Banjarmasin Fakultas Syariah (1981), Pasca Sarjana Universitas Indonesia
(UI) Jakarta (1993) jurusan Kajian Wanita
Riwayat Pekerjaan :
- Kepala jurusan perbandingan Mazhab IAIN Antasari Fakultas Syariah
- Ketua jurusan Tafsir Hadist IAIN Antasari Fakultas Syariah
- Pembantu Dekan III IAIN Antasari
- Dekan Fakultas Syariah IAIN Antasari
- Pembantu Rektor III IAIN Antasari
Organisasi/Diklat :
- Ketua Senat mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin (1978-1981)
- Ketua Pusat Studi Wanita IAIN Antasari (1996)
- Ketua Women & Child Crissis Center (WCCC) Kalsel 2006
- Wakil Ketua MUI Kalsel (2007 - 2012)
- Wakil Ketua ICMI Kalsel (2006 - 2011)
- Wakil Ketua PKBI Kalsel
- Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalsel
- Mengikuti workshop tentang gender di Pakistan (2000)
- Penelitian kerjasama 3 negara (Pakistan, Indonesia, Kanada) tergabung dalam kajian
wanita UI (2000-2005)
Prestasi :
- Pelajar Teladan Tingkat SMP (1971)
- Mahasiswa Teladan IAIN Antasari (1975)
- Dosen Teladan Tingkat Nasional untuk Perguruan Tinggi Agama Islam