Swasta Siap Menampung
- SMAN 10 Buka PSB Tahap Kedua
- Lemparkan Calon Siswa PSB Online
BANJARMASIN, BPOST - Dari 5.918 peserta
Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online SMA/SMK, 1.894 di antaranya harus terlempar. Mereka
yang terlempar masih diberi kesempatan untuk memperebutkan PSB tahap kedua di SMAN 10 dan
SMKN 5 Banjarmasin yang kurang daya tampungnya.
Di
SMAN 10 Banjarmasin, masih tersedia 40 kursi kosong. Sedang di SMKN 5 Banjarmasin, khusus
untuk jurusan Teknik Konstruksi Kayu menyisakan 34 kursi.
Namun demikian, mereka juga bisa mendaftarkan diri ke sekolah swasta. Sekolah-sekolah
itu siap menampung mereka. Bahkan, sejumlah SMA swasta bersedia menerima calon siswa yang
belum lulus UN (Ujian Nasional), namun sudah ikut Ujian Nasional Paket Kesetaraan (UNPK)
atau Paket B. Sekolah itu antara lain, SMA PGRI 4, SMA PGRI 2, SMA PGRI 3, SMA PGRI 7, SMA
Muhammadiyah 1 dan 2, SMA Kartika VI-3, SMA Bus Anwar dan SMA Bur Anwar.
Untuk PSB tahap kedua dibuka mulai Selasa (10/7) hingga 15 Juli mendatang. Sedang untuk
sekolah swasta, pendaftaran dibuka hingga sebelum pelaksanaan tahun ajaran baru.
Berdasar informasi yang dihimpun BPost, pendaftaran sekolah swasta memang
berbeda dengan PSB Online. Salah satu perbedaan itu adalah adanya pungutan biaya
pendaftaran.
"Yang jelas, untuk besaran uang pendaftaran masing-masing sekolah itu relatif,
tidak ada yang sama. Termasuk, untuk biaya daftar ulang," jelas Kepala SMA PGRI 4
Banjarmasin, Syahripansyah.
Mengenai biaya daftar ulang di sekolah swasta, menurut dia tidak terlalu memberatkan
orangtua. "Karena semua biaya diputuskan berdasarkan keperluan sekolah. Untuk sekolah
kami hanya Rp 575 ribu. Semua itu untuk uang pangkal, iuran Pramuka, Koperasi, OSIS,
Perpustakaan dan UKS untuk satu tahun, SPP Juli, dan atribut sekolah," bebernya.
Sementara itu, Kepala Sub Dinas Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Banjarmasin,
Metroyadi menjelaskan, bagi calon siswa baru yang gagal masuk sekolah negeri melalui PSB Online,
masih ada peluang untuk masuk sekolah swasta di Banjarmasin.
"Mengenai biaya sekolah di swasta, saya kira tidak terlalu memberatkan orangtua
siswa. Karena operasioanal sekolah swasta juga ditopang dengan dana BOS (Bantuan
Operasional Sekolah)," katanya. Kemudian, lanjut dia, untuk proses pembelajaran di
sekolah swasta juga tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri. "Karena guru pengajar
di sekolah swasta rata-rata dari sekolah negeri, sehingga untuk kualitas pendidikan yang
diajarkan hampir sama," jelasnya.
Untuk itu, imbuhnya, bagi calon siswa baru yang gagal masuk sekolah negeri, bukan
berarti harus putus sekolah. "Apabila masih ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah,
alangkah baiknya tetap dilakukan. Ini semua demi masa depan," pintanya. mdn |