Isu Sogokan Redam Interpelasi
- Bagi-bagi Handphone dan Uang Rp 5 Miliar
- Anggota DPR melunak
JAKARTA, BPOST - Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) tak galak lagi. Mereka tak bersuara keras meskipun presiden tak
hadir dalam sidang paripurna yang membahas interpelasi Iran, Selasa (10/7). Kabar adanya
sogokan pun berembus.
Kabarnya
sikap DPR yang tak keras dikarenakan adanya bingkisan berupa handphone komunikator
seri terbaru yang diberikan kepada orang-orang penting di fraksi yang hadir dalam sebuah
pertemuan di Hotel Nikko, Jakarta, Minggu (8/7).
"Saya memang mendengar ada yang bagi-bagi handphone seri terbaru kepada
anggota dewan yang hadir di pertemuan itu. Tapi saya akan cek kebenarannya. Kalau itu
benar bertujuan agar mereka tunduk," ungkap salah seorang penggagas interpelasi, Ali
Mochtar Ngabalin.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR Effendy Choirie juga mengaku
mendengar isu bagi-bagi handphone yang bernilai sekitar Rp 12 juta itu. "Saya
juga dengar ada seperti itu. Saya dengar dari anggota dewan yang lain. Tapi saya belum
bisa pastikan," ujarnya.
Bila itu
terjadi, akan merusak institusi dan citra anggota DPR. "Siapa pun yang bagikan handphone
itu jelas sudah tidak benar," tukasnya.
Pertemuan tertutup di Lantai 15 Hotel Nikko itu disebut-sebut diprakarsai Fraksi
Demokrat (FD) DPR. Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda hadir dalam pertemuan itu mewakili
pemerintah. Hanya tiga fraksi DPR yang tidak menghadirkan anggotanya yakni FPDIP (Fraksi
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, FPPP (Fraksi Partai Persatuan Pembangunan) dan
FPKB.
Ketua FD Syarief Hasan mengakui adanya pertemuan itu. Namun, dia membantah partainya
membagi-bagikan handphone kepada perwakilan fraksi yang hadir kala itu. "Ah
tidak ada bingkisan apa-apa," katanya. Syarief juga membantah pertemuan itu untuk
menjinakkan anggota dewan.
Informasi yang diperoleh BPost, pertemuan di Hotel Nikko merupakan kelanjutan
dari pertemuan makan siang para pimpinan fraksi, sebelum rapat konsultasi dengan presiden,
Selasa (3/7) kemarin.
Ketua Fraksi Partai Bintang Reformasi Bursah Zarnubi membantah bila dalam pertemuan itu
ada bagi-bagi handphone. "Tidak ada itu. Kita di sana membahas masalah
kebangsaan," katanya.
Lain lagi informasi yang diberikan anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) Yuddy Chrisnandi.
Salah satu inisiator interpelasi ini mengaku pernah ditawari uang Rp 5 miliar oleh orang
kepercayaan Presiden Susilo bambang Yudhoyono. " Tujuannya agar saya lebih
lunak," ujar Yuddy sebagaimana dikutip dari Tempo.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Ahmad Mubarok membantah meski ia tak menyangkal ada
lobi dari para menteri untuk menjinakkan pengusul iterpelasi. "Lobi itu bentuk
tanggung jawab menteri terhadap pemerintah bukan atas permintaan presiden," katanya.
Melemah
Terlepas dari isu sogokan itu, sidang paripurna interpelasi soal Iran tidak seramai
sidang sebelumnya, Selasa (5 /7). Meski ada beberapa interupsi, tidak ada lagi suara-suara
ngotot maupun adu argumentasi. Jumlah anggota dewan yang hadir pun hanya 277 dari 549
anggota DPR. Itupun banyak pula yang hanya datang mengabsen, setelah itu pergi.
Bahkan Yuddy Chrisnandi dalam interupsinya justru meminta semua anggota dewan dari FPG
tidak melakukan interupsi. "Tidak ada yang harus diinterupsi lagi. Saya kira akan
sia-sia dan tidak akan mengubah keadaan. Saya minta anggota dewan mengalah saja,"
katanya disambut tawa para anggota dewan dan pengunjung yang memenuhi balkon.
Dalam rapat ini, Yudhoyono diwakili tujuh menteri yakni Mensesneg Hatta Radjasa, Menhan
Juwono Sudarsono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menlu Hassan Wirayuda, Menkum HAM Andi
Matalatta, Menristek Kusmayanto Kadiman, dan Menko Polhukam Widodo AS.
Dalam jawaban presiden yang dibacakan Widodo AS disebutkan dukungan atas resolusi
dilakukan karena Iran tidak transparan dalam program pengayaan nuklir sejak negara itu
mendapat teguran dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa. "Pemerintah menilai
Iran tidak terbuka dalam pengayaan nuklir Iran yang mengarah pada program penggunaan
senjata nuklir," kata Widodo.
Menurut dia, pemerintah juga telah mengingatkan Iran tentang dampak pengayaan nuklir
itu terhadap negara-negara Timur Tengah. Tak hanya itu, belum ada perjanjian khusus
penghapusan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah. "Indonesia terus mencari jalan
damai terhadap penyelesaian nuklir Iran," katanya. dtc/JBP/aco |