SIAPA pun yang melihat wajah Donny Lukmana (8) pasti
hatinya luluh dan iba. Dua bola mata bocah penderita crouzon syndrome (pembesaran
tulang tengkorak) ini membesar dan nyaris keluar dari kelopaknya.
Rasa iba
itu pun dirasakan seorang penumpang taksi, yang saat itu bersamaan dengan Donny dan
ibunya, Saripah (35), dalam perjalanan dari Pal 6 Jalan A Yani menuju Kantor Askes
Banjarmasin, Senin (9/7).
"Pas saya mau turun, tiba-tiba seorang bapak yang satu taksi dengan saya
langsung membayarkan ongkos taksi dan memberikan uang Rp 100 ribu," kata Saripah,
Selasa (11/7).
Saripah menceritakan pengalamannya itu kepada Bupati Tala Drs H Adriansyah, Kadiskes
Tala dr H Gt Rifaniansyah, dan rombongan Yayasan Suaka Ananda BPost yang dipimpin
Ketuanya dr Dharma PTR Maulega, A Wahyu Indriyanta, yang juga pemimpin perusahaan BPost
Group dan anggota lainnya. Mendengar cerita Saripah tersebut, Bupati dan semua yang
hadir tertegun.
Pertemuan di ruang kerja Bupati tersebut merupakan acara pelepasan Donny yang akan
menjalani operasi mata di Australia. Yayasan Suaka Ananda BPost bekerjasama dengan Yayasan
Citra Baru (Surabaya) serta Pemkab Tala akan menanggung biaya operasi Donny selama di
Rumah Sakit Adelaide Australia.
Rencananya, Kamis (12/7), Donny didampingi ibunya akan dibawa ke RS Doktor Soetomo
Surabaya guna menjalani persiapan dan pemeriksaan kesehatan tahap akhir selama tiga
minggu.
Kemudian, tanggal 5 Agustus, Donny terbang ke Ausralia melalui bandara internasional di
Bali. Selama di Australia, Donny didampingi dr Dharma. Lama operasi diperkirakan tiga
bulan.
Bola mata Donny sendiri tidak apa-apa. Namun bola mata bocah kelas II SDN Kunyit
Kecamatan Pelaihari ini menonjol ke luar karena terus terdorong oleh tulang tengkorak yang
mengalami pembesaran. Jika dibiarkan, lama-kelamaan bola mata Donny akan ke luar dari
cangkangnya.
Saat ini saja kelopak mata Donny tidak mampu lagi menutup secara sempurna. Donny pun
tidak bisa lepas dari topi. Jika bola matanya langsung terkena sinar matahari, selain
pedih, air matanya langsung bercucuran.
Itu sebabnya, jelas dr Dharma, operasi mata Donny akan menyita waktu. "Operasinya
pun tidak bisa langsung, mesti bertahap," jelas dokter spesialis bedah plastik RS
Ulin Banjarmasin ini.
Untuk mempelancar keberangkatan Donny ke Australia, Pemkab Tala membantu biaya tiket
Surabaya-Denpasar-Australia plus uang saku. Sebelumnya, Aad juga memberikan bantuan Rp10
juta untuk biaya akomodasi selama Donny menjalani perawatan di RS Doktor Soetomo.
Saripah sangat berbahagia. Bola matanya tampak berkaca-kaca, menahan haru atas
kepedulian Pemkab Tala, Yayasan Suaka Ananda BPost dan Yayasan Citra Baru.
"Terimakasih, Pak. Terimakasih," tuturnya dengan suara bergetar.
Tanpa uluran tangan dari dermawan, Saripah memang tak sanggup membiayai operasi anak
sulungnya itu. Jangankan untuk operasi, untuk makan sehari-hari saja pas-pasan.
Gabah yang masih ada di rumah, tutur Saripah, hanya sembilan karung. "Kemarin baru
dijual tiga karung untuk bayar utang pupuk," ujarnya.
Kerana kesahajaan itu pula, tidak ada rencana menggelar selamatan menjelang
keberangtakan Donny.
"Nggak ada uang lagi, Pak. Yang penting saya mohon doanya semoga operasinya
berjalan lancar," ujar Saripah.
Donny sendiri lebih banyak diam. Bocah berkulit gelap ini tergolong pendiam. Jika
ditanya, ia lebih banyak menggelengkan atau menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Donny kangen dengan sekolah? Ia pun menggeleng. "Malu," ucapnya sengau sambil
menyembunyikan wajahnya di dekapan sang ibu. Rupanya bocah ini terbayang-bayang, wajahnya
kelak menjadi jelek setelah dioperasi. Namun setelah sang ibu menjelaskan kelak wajahnya
justru akan lebih baik, matanya tidak menonjol lagi, Donny langsung tersenyum.
Ia pun mengaku mau bersekolah lagi agar menjadi orang pandai. idda royani