Propaganda Negatif Sawit
BANJARMASIN, BPOST - Kepala Dinas Perkebunan Kalsel, Haryono tetap bergeming bahwa
perkebunan Kelapa Sawit patut ditumbuhkembangkan di Banua. Ia tidak gentar meski banyak
pihak menyerukan bahwa tanaman monokultur tersebut berdampak negatif bagi kehidupan
hayati.
Bahkan Haryono menilai seruan-seruan ketidak setujuan atas perkebunan sawit tersebut
merupakan bentuk dari black campaign (kampanye negatif) atau propaganda negatif
dari pihak-pihak yang luar yang takut akan kebangkitan perkebunan sawit di Indonesia.
"Sayangnya orang di negara kita sendiri kok ikut-ikutan menyerang. Padahal menurut
saya ini black campaign bangsa luar yang takut perkebunan kita bangkit,"
ujarnya penuh semangat pada sesi Jumpa Pers Bulanan di Gedung PWI Kalsel, Selasa (10/7).
Haryono menjelaskan, kelapa sawit merupakan komoditi yang paling efisien menjadi
biodiesel untuk menggantikan minyak bumi yang defositnya semakin berkurang dibanding
dengan tanaman kebun lain sepeti kacang atau bunga matahari.
Menurutnya, kandungan Crude Palm Oil (CPO) pada buah kelapa sawit paling tinggi
yakni 22 sampai dengan 26 persen. Hal itulah katanya, yang ditakuti dunia luar jika sampai
perkebunan Indonesia bangkit sehingga melancarkan kabar negatifnya.
Saat ini kata Haryono, produksi Kelapa Sawit di Indonesia menduduki peringkat terbesar
ke dua di dunia. Nomor satu dipegang Malaysia. "Tapi tahun depan kita yang akan
menjadi nomor satu karena perkembangan semakin meningkat," tukasnya.
Sebagai contoh, lahan Kelapa Sawit yang menjadi komoditas unggulan di Kalsel saat ini
telah mencapai 184.290 hektare dan diperkerikan terus berkembang dan 75 persen di
antaranya adalah perkebunan rakyat.
Produksi CPO sendiri di Kalsel saat ini sudah mencapai angka 141.640 ton per tahun. CPO
tersebut diolah di 14 perusahaan pengolahan kelapa sawit yang tersebar di Kalsel.
Meski Kelapa Sawit menguntungkan petani, Haryono mengakui perkebunan sawit yang masuk
dalam kategori monokultur memiliki dampak negatif khususnya terkait ragam hayati. Namun
menurutnya hal ini sudah dapat diantisipasi.ais |