MARTAPURA, BPOST- Anak-anak kampung nelayan
di Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar memilih bekerja membuat tambak
dengan menebang kayu bakau di hutan mangrove, daripada harus melanjutkan sekolah ke
tingkat SLTP.
Informasi yang dihimpun, di SD Sungai Musang, dari 10 anak yang lulus pada tahun 2007
ini, tercatat hanya dua orang yang melanjutkan sekolah. Delapan siswa lainnya, memilih
bekerja membantu orangtuanya membuka tambak melaut atau bercocok tanam.
Satu dari dua orang yang masih bisa melanjutkan sekolah yaitu, Ramadhani (13), mengaku
bisa melanjutkan sekolah karena kakaknya berada di Kota Banjarmasin.
"Untung ada kakak di kota, seandainya tidak ada saudara yang bekerja di
Banjarmasin, mungkin saya juga tidak bisa sekolah," katanya. Ramadhani menuturkan,
teman-temannya tak bisa melanjutkan sekolah karena sampai sekarang di desa itu belum ada
sekolah setingkat SMP.
Satu-satunya SMP berada di kota Kecamatan, yang jaraknya cukup jauh, dan hanya bisa
ditempuh dengan angkutan sungai lebih dari satu jam. "Bila harus pulang pergi Sungai
Musang-Aluh-Aluh memerlukan biaya transportasi cukup tinggi.
Begitu juga bila harus kos atau ngontrak rumah, sehingga para orangtua memilih anaknya
membantu bekerja daripada harus sekolah," kata Arsyad, kakak Ramadhani.
Hingga saat ini tercatat ratusan anak-anak Sungai Musang hanya mampu menamatkan SD.
Setelah itu mereka bekerja melanjutkan pekerjaan orangtuanya dan menikah. Sedangkan
anak-anak gadis, terlihat hanya membantu ibunya memasak dan bertanam padi pada saat musim
tanam.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Faturakhman mengungkapkan, tingginya jumlah
anak putus sekolah tak hanya di Sungai Musang. Di Kabupaten Banjar, tercatat 15 Desa
dengan tingkat anak putus sekolah cukup tinggi, diantaranya Desa Kuin Besa, Kuin Kecil,
Paramasan, Batu Tiris, Aranio, dan beberapa daerah terpencil lainnya.
Rata-rata desa tersebut tak memiliki fasilitas pendidikan lanjutan, sehingga anak-anak
memilih tidak melanjutkan sekolah karena terkendala biaya.
Mengurangi anak-anak putus sekolah akibat minimnya fasilitas pendidikan tersebut, pada
2007 diprogramkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar pada 10 titik desa yang
tingkat anak putus sekolahnya tinggi. Program tersebut di antaranya, mendirikan SMP Kecil,
SMP terbuka, program SD satu atap yaitu menjadikan SD sekaligus SMP. ant