"Saya Minta Keadilan"
- Honorer Lanjut Usia Tak Dijadikan PNS
KUALA KAPUAS, BPOST - Kegembiraan menyelimuti
435 honorer yang dinyatakan lulus sebagai CPNS, Selasa (10/7). Namun 98 honorer usia
kritis tidak merasakan adanya keadilan, karena nasib mereka belum diakomodir pemerintah
dalam kebijakan yang baru.
Akibatnya, mereka yang kembali harus gigit jari. Padahal, rata-rata pengabdian
berlangsung lebih dari sepuluh tahun dengan honor seadanya. "Saya hanya minta
keadilan. Sekarang, harapan saya benar-benar tertutup untuk bisa diangkat sebagai
CPNS," kata Suriansyah.
Pria yang sehari-harinya bertugas sebagai staf di Gedung DPRD Kapuas ini sangat
menyesalkan kebijakan pemerintah yang dinilainya plin-plan. Secara pribadi, dia juga
mengaku sangat dirugikan karena baru sekarang usia maksimal 46 tahun diperkenankan dapat
menjadi CPNS.
Ketika PP 48/2005 diterapkan, Suriansyah bersama 97 honorer lainnya tidak bisa
menikmati kegembiraan rekan-rekannya yang dinyatakan diterima sebagai abdi negara saat
itu. Pasalnya, usia lelaki itu telah mencapai 46 tahun atau melewati batas maksimal 35
tahun yang ditetapkan.
Kini ketika peraturan itu direvisi dan usia maksimal diperpanjang menjadi 46 tahun,
lagi-lagi dirinya tak masuk dalam hitungan alias kadaluarsa. "Lebih kurang 25 tahun
sudah saya mengabdi sebagai honorer, tapi tetap saja belum ada perhatian pemerintah untuk
memperjuangkan nasib orang seperti saya," keluhnya.
Dengan honor bulanan Rp 275 ribu, Suriansyah tentu sangat berharap bisa diangkat
sebagai CPNS guna menghidupi istri dan tiga anaknya. Apalagi sang istri dari warga Jalan
Anggrek VI Kuala Kapuas ini hanya merupakan seorang ibu rumah tangga.
Dari 98 honorer yang terganjal karena usia yang kadaluarsa itu terdiri 95 orang guru
bantu dan sisanya merupakan tenaga strategis yang tersebar pada sejumlah instansi di
Kabupaten Kapuas.
Pelaksana tugas Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kapuas Bustani, mengaku tidak
bisa berbuat apa-apa mengenai nasib honorer usia kadaluarsa tersebut. Alasannya, kebijakan
ini sepenuhnya merupakan keputusan dari pemerintah.
"Tapi masalah ini rencananya memang akan kami pertanyakan kepada BKN di
Jakarta," ujar Bustani didampingi Kabid Pengembangan Sindai SE, terpisah. ami |