Buntut Penyerangan SMUN 9

Lima Siswa Diamankan Polisi

Yogya, Bernas
Buntut penyerangan terhadap SMUN 9 Yogyakarta, Selasa (16/1) lalu, lima siswa sebuah SMU Negeri di Yogyakarta diamankan Tim Gabungan dari korps reserse, intel, dan Unit Perintis Shabara (UPS) Poltabes Yogyakarta, Rabu (17/1) siang. Yang bersangkutan diamankan Tim Gabungan dari jajaran Poltabes Yogyakarta karena dicurigai akan mengulangi aksi kekerasan, seperti yang terjadi pada Selasa (16/1) lalu yakni merusak SMU 9 Yogya.

Lima siswa yang diamankan di Mapoltabes Yogya itu adalah RAP dan MOS, keduanya alumnus sekolah yang siswanya diduga menyerang SMUN 9, sedangkan tiga orang lainnya BYP, BAP, dan DAN masih menjadi siswa sekolah itu.

Sementara itu, hasil pemeriksaan dan penggeledahan isi tas mereka, petugas penyidik menemukan sebilah pisau dapur. Pisau tersebut ditemukan polisi di dalam tas milik BAP. Selain itu, polisi mengamankan lima sepeda motor dan beberapa keping kaset Video Compact Disc (VCD) porno.

Seperti diberitakan Bernas, Rabu (17/1), sekitar 45 siswa dari sebuah SMUN Yogyakarta, Selasa lalu menyerang SMUN 9. Mereka merusak bangunan sekolah itu dan beberapa sepeda motor.

Kapoltabes Yogya Komisaris Besar Polisi Drs Ibnu Sudjak Mahfudz SH didampingi Kasat Korps Reserse Ajun Komisaris Polisi Drs Raden Djarot Agung Riyadi, Rabu kemarin di ruang kerjanya mengatakan, untuk mengungkap dan mengurai kasus perusakan terhadap SMU 9 Yogya itu pihaknya memerlukan proses pemeriksaan secara intensif. Bila mereka tidak terbukti melakukan perusakan, yang bersangkutan akan dilepas kembali dan dipulangkan kepada orangtuanya.

Hal itu juga dilakukan terhadap AR yang diamankan pada Selasa (16/1). AR akhirnya dilepas kembali pada Selasa malam karena berdasarkan hasil pemeriksaan yang bersangkutan tidak terbukti ikut melakukan perusakan.

"Hasilnya belum dapat dilaporkan sekarang. Mereka masih kita periksa secara intensif. Kalau nanti tak terbukti, ya kita lepas. Termasuk mengapa sampai ada yang membawa pisau. Masih kita mintai keterangan," katanya.

SMUN 9 libur
Sementara itu, suasana di SMUN 9 setelah diserang sekelompok siswa dari sebuah SMUN di Yogyakarta itu tampak lengang. Belajar-mengajar di sekolah itu diliburkan selama satu hari. Kecuali para siswa, di sekolah itu hanya tampak beberapa guru, satpam dan penjaga sekolah.

Menurut seorang guru SMUN 9 yang ditemui Bernas, Rabu kemarin hal itu merupakan salah satu upaya sekolah meredam peristiwa kekerasan yang terjadi pada Selasa (16/1). Selain itu, kepala sekolah SMUN 9 dan SMUN yang siswanya menyerang melakukan rapat koordinasi, disaksikan pihak Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) DIY.

Sebelum rapat koordinasi, Kasubag Penyusunan Rencana dan Program Depdiknas DIY Drs Syamsury mengatakan, masalah kekerasan yang terjadi pada pelajar ini tidak bisa hanya mengandalkan pengarahan dan pendidikan dari sekolah saja. Tapi, harus banyak didukung orangtua masing-masing.

Rapat koordinasi tersebut menghasilkan pernyataan untuk segera berupaya meredam tindak kekerasan yang dilakukan para siswa dengan tidak saling menyalahkan. Semua permasalahan akan dibahas secara musyawarah. Begitu juga dengan upaya peredaman masalah itu, pihak sekolah sudah mengkoordinasikan guru bimbingan penyuluhan untuk mengintruksikan penggantian segala kerugian yang sifatnya fisik, baik yang dialami sekolah maupun para siswa.

Diinformasikan, kerugian materi yang diderita pihak sekolah karena rusaknya bangunan mencapai Rp 750.000. Sedangkan kerugian siswa yang umumnya mengalami kerusakan sepeda motornya belum bisa diperkirakan jumlahnya. Namun, pihak SMUN 9 siap mengganti secara keseluruhan.

Dikatakan Kepala SMU N 9 Drs Bashori Muhammad MM, pihaknya tidak mencari siapa yang bersalah. Segala penyelesaian dengan cara musyawarah akan segera ditempuhnya. "Untuk mengatasi persoalan itu, kami akan mengadakan pertemuan lanjutan besok (Kamis, 18/1-red) di Kandepdikanas dengan menghadirkan kedua belah pihak serta beberapa perwakilan siswa," katanya.

Sedangkan SMUN di Yogya yang diduga beberapa siswanya merusak gedung SMUN 9 Yogyakarta, tampak masih melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun, dikatakan salah seorang guru SMUN itu, kegiatan belajar dipersingkat, sesuai dengan instruksi kepala sekolah.

"Sekolah memang tidak libur, tapi sesuai instruksi kepala sekolah setiap pelajaran dikurangi waktunya 10 menit. Sehingga, siswa bisa pulang cepat," katanya.

Dikatakannya, kegiatan belajar-mengajar yang dipercepat dan selesai pada pukul 11.45 itu merupakan salah satu upaya untuk menghindari berlanjutnya tindak kekerasan di kalangan siswa. Diakuinya, pihaknya dengan SMUN 9 tidak ada masalah. Sehingga, pihak sekolah tidak mengetahui secara pasti akar permasalahan yang merugikan SMU Negeri 9 dan melibatkan sekolahnya.

Namun, berdasarkan pantauan Bernas, sekitar pukul 11.30 puluhan orang bersepeda motor dengan mengenakan pakaian bebas dan penutup muka berusaha memasuki sebuah SMU Negeri yang diduga siswanya melakukan perusakan gedung SMUN 9 itu. Namun, niat tersebut tidak jadi dilakukan karena di sekolah tersebut banyak aparat yang melakukan penjagaan. Melihat gejala itu, pihak aparat menutup jalan-jalan menuju lokasi sekolah tersebut.

Sementara itu, para siswa SMUN tersebut sebelum meninggalkan sekolah terlebih dulu mendapat operasi senjata tajam (sajam) dari pihak aparat.

Meski SMUN 9 diliburkan, para siswanya terutama yang laki-laki, Rabu kemarin ternyata banyak yang bergerombol di depan sekolahnya sejak pagi. Umumnya mereka menanyakan nasib kelima temannya yang ditangkap aparat setelah berupaya membalas.

Seperti dikatakan salah seorang siswa yang tidak mau disebutkan identitasnya, mereka berkumpul di depan sekolah untuk berjaga-jaga bila ada penyerangan lagi. Selain itu, mereka juga mempertanyakan soal rekannya yang ditangkap aparat.

Menurut seorang guru SMUN 9, emosi anak-anak memang sulit dikendalikan. Namun, pihak sekolah tetap berusaha untuk meredam segala kemungkinan negatif yang akan terjadi. "Salah satu upaya sekolah telah bekerjasama dengan pihak aparat untuk membebaskan kelima siswa SMUN 9 yang ditangkap aparat," katanya.

Kakanwil prihatin
Perusakan gedung SMUN 9 Yogyakarta mendapat perhatian langsung dari Kakanwil Depiknas DIY, Drs Sunarjo dengan meninjau langsung ke lokasi kejadian. Kedatangannya itu disambut langsung oleh Kepala SMUN 9 Drs Bashori Muhammad MM dan staf jajarannya.

Dalam tinjauannya, Sunarjo menyatakan sangat prihatin dengan tindak kekerasan yang dilakukan para pelajar tersebut. Ia menyarankan agar kasus tersebut diajukan ke pengadilan. Namun hal itu masih dipertimbangkan pihak sekolah.

"Kami menempuh jalur musyawarah terlebih dahulu. Karena menurut pengalaman selama ini dapat diselesaikan dengan baik," kata Bashori.

Soenardjo menambahkan, aparat kepolisian diharapkan bisa menangkap dan memproses sesuai prosedur hukum yang berlaku terhadap pelaku perusakan itu. Apalagi, tindak perusakan itu sudah tidak sesuai dengan norma dan etika siswa.

Aksi ini, menurut Soenardjo, tentu ada pihak luar yang memprovokasi untuk melakukan perusakan. Apabila tidak ada pihak luar yang memanas-manasinya, tentu kejadian itu tidak mungkin terjadi. Meski demikian, ia belum dapat memastikan siapa pihak yang melakukan provokasi untuk melakukan perusakan itu.

"Kami yakin tindakan itu pasti hasil provokasi pihak luar agar siswa sekolah yang diserang terpancing dan melakukan pembalasan. Namun untungnya, aksi pembalasan itu berhasil dicegah aparat keamanan," jelas Soenardjo.

Soenardjo menambahkan, apabila hubungan antara orangtua siswa dengan guru terjalin baik, aksi perkelahian antarsiswa tidak akan terjadi. Selain itu pihak luar agar turut menciptakan iklim dunia pendidikan yang kondusif. Keberhasilan untuk mewujudkan iklim dunia pendidikan yang kondusif harus melibatkan semua pihak. (hri/tt/kun/m1/m2/msa)