Tiket Masuk Borobudur Naik per 1 April
Kota Mungkid, Bernas
Tiket tanda masuk Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) mulai
1 April mendatang naik Rp 500 menjadi Rp 6.500. Kenaikan itu
dilakukan menyusul disahkannya Perda tentang perubahan Perda
Nomor 1 tahun 1999 tentang pajak hiburan yang menetapkan pajak
tanda masuk TWCB setinggi-tingginya 35 persen oleh DPRD.
Wakil pimpinan Unit TWCB Pujo Suwarno di sela-sela acara
Bakohumas di Pendopo Timur Hotel Manohara, Kamis (27/3)
mengatakan, pelaksanaan perda tersebut dilakukan secara bertahap.
Untuk tahap I ditetapkan sebesar 25 persen. Sebelumnya, Perda
Nomor 2 tahun 2001 menetapkan tiket tanda masuk TWCB sebesar 20
persen.
Kenaikan tarif tersebut, kata Pujo, akan diimbangi dengan
pembenahan di kompleks TWCB dengan tujuan agar pengunjung merasa
lebih nyaman. Pembenahan yang akan dilakukan antara lain dengan
menyeragamkan atap warung 'emplek-emplek' yang menjamur di
kawasan itu. Luas warung juga dibenahi agar tidak terlalu
luas.
"Para pedagang kami kumpulkan untuk musyawarah. mereka tidak
boleh diwakilkan agar tidak terjadi distorsi informasi," kata
Pujo. Ia juga mengatakan, saat demo pembangunan Pasar seni Jagad
Jawa, para pedagang menyatakan siap untuk ditata demi kenyamanan
komplek TWCB.
Untuk keperluan pembenahan warung emplek-emplek, biaya akan
dibebankan kepada masing-masing pedagang melalui pinjaman lunak
tanpa agunan dari Bank Bukopin. TWCB dalam hal ini hanya sebagai
fasilitator dengan pihak penyalur dana tersebut.
"Agunannya adalah warung milik pedagang itu sendiri. Kalau
kreditnya macet, warung milik mereka yang akan disita," kata Pujo
seraya mengatakan, gara-gara rencana pembenahan tersebut ia
diadukan ke Gubernur Jateng telah menjual kios Rp 250 ribu per
buah kepada pedagang.
Di bagian lain, Pujo juga menjelaskan, TWCB juga me-
rencanakan akan menggeser kios pedagang di sekitar loket. Rencana
itu untuk mengurangi tingkat kriminalitas yang sering terjadi di
tempat itu.
Tujuan lainnya, selain menjamin faktor keamanan juga me-
ngembalikan konsep asli penataan kawasan sehingga fungsi 2 buah
pohon beringin besar akan kembali sebagai gerbang masuk komplek.
Selain itu, prasasti yang ditandatangani mantan Presiden Soeharto
juga akan kelihatan lagi.
Pembenahan ini juga untuk menyambut 3 event bertaraf
internasional seperti Borobudur Internasional Festival (BIF),
Expert Meeting yang menghadirkan Dirjen Unesco 4 Juli mendatang
serta Waisak.
TWCB juga akan membangun 2 buah gerbang utama untuk parkir
kendaraan. Selama ini, TWCB banyak menerima masukan dari
pengunjung yang merasa kesulitan menemukan tempat parkir dan
loket tiket masuk.
Masih berkaitan dengan penataan penataan, TWCB telah
melakukan pendekatan dengan berbagai pihak seperti kepolisian,
DPRD, Bappeda dan kantor pariwisata agar mereka mendukung
dibukanya jalur masuk wisatawan diantaranya dengan memaksimalkan
Tourist Information Centre (TIC). Dikaitkan dengan filosofi
Borobudur, semestinya pengunjung masuk ke kawasan Candi melalui
arah timur bukan dari barat ke timur seperti saat ini. "Saat ini,
ibaratnya pengunjung masuk rumah lewat pintu belakang,"
katanya.
Menurut Pujo, TIC merupakan aset yang cukup besar sebagai
pusat informasi. Namun selama ini jarang dimanfaatkan karena pada
jalannya terpampang rambu verboden (larangan masuk) begitu juga
jalan yang menuju ke Candi Pawon.
Apabila 'welcome-nya' pengunjung melalui TIC, maka tempat
itu bisa difungsikan sebagai loket karcis masuk TWCB. Di TIC juga
disiapkan guide yang siap memandu para wisatawan.
Menanggapi keluhan pengunjung karena sering terjadi pe-
malakan dan pemaksaan dari tukang cuci kendaraan di lokasi parkir
roda 4, TWCB telah mengadakan pendekatan secara persuasif kepada
para pelakunya. Mereka ditawari menjadi juru parkir. "Kalaupun
jadi tukang cuci mobil kami tawarkan bukan untuk kendaraan roda 4
melainkan untuk bis saja," kata Pujo. (tie)