226 Dukuh Berikrar Bebas Pekat
*Dihadapan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X
Bantul, Bernas
Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk menjadikan
wilayahnya bebas penyakit masyarakat (pekat), mendapat tanggapan
dari berbagai pihak. Tidak hanya aparat kepolisian maupun Satuan
Polisi (Satpol) Pamong Praja, namun masyarakat pun telah beramai-
ramai ikut memerangi pekat.
Upaya untuk mewujudkan daerah bebas pekat itu ternyata tidak
sia-sia. Setidaknya hal tersebut terbukti dengan adanya 226 dusun
di wilayah Bantul yang menyatakan diri bebas pekat.
Ikrar bebas pekat tersebut, hari Sabtu (29/3) diungkapkan
para Dukuh (Kepala Dusun) di hadapan Gubernur DIY Sri Sultan
Hamengku Buwono X ketika mencanangkan gerakan bebas pekat tingkat
DIY di balai Desa Trimulmulyo Kecamatan Jetis, Bantul. Selain
dihadiri Muspida Bantul, acara tersebut juga dihadiri oleh Camat,
Lurah Desa dan Dukuh se-Kabupaten Bantul serta ribuan warga ma-
syarakat lainnya.
Bupati Bantul Drs H Mohammad Idham Samawi pada saat itu
menjelaskan, keberhasilan 226 Dusun dalam menciptakan kawasan
bebas pekat tidak terlepas dari keseriusan masyarakat. Hal itu
terbukti ketika gerakan pemberantasan pekat telah dicanangkan,
masyarakat Bantul kemudian menindaklanjutinya dengan rembug dusun
dan desa.
Sedangkan dalam melakukan gerakan pemberantasan pekat, Idham
Samawi berpesan kepada masyarakat agar menghindari tindakan
anarkis. Melainkan upaya tersebut harus dilakukan dengan
pendekatan serta berlomba-lomba meningkatkan kebajikan.
Sedangkan Sri Sultan HB X meminta agar ikrar yang diucapkan
oleh para Kadus tersebut bukan rekayasa. Melainkan ikrar nyata
dan ada tindak lanjutnya.
"Kalau ternyata di dusun masih ada malima (madat, main,
madon, minum dan maling), konsekuensi apa? Apakah Pak Kadus mau
mundur dari jabatannya? Saya berharap ikrar ini tulus dan ada
realitanya," katanya.
Sebab, menurut Sultan, pernyataan bebas pekat yang dibuat
para Kadus itu tidak hanya akan berlaku di Bantul. Namun akan
digunakan untuk memacu gerakan bebas pekat di tingkat DIY.
"Di Samas bagaimana?"
Dari komponen malima, Sultan yakin bahwa unsur madon (main
perempuan) tidak ada di pedukuhan. Sebab di pedukuhan tidak ada
prostitusi. "Tapi di Samas bagaimana?" sindir Sultan mengenai
keberadaan prostitusi di kawasan Pantai Samas.
Pada kesempatan itu Sultan juga mengatakan bahwa pemerintah
memiliki tekad untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera. Namun
upaya tersebut menemui kendala dengan masih maraknya perjudian
dan minum.
"Namun upaya ini seolah-olah sia-sia. Sebab ketika ma-
syarakat dapat tambahan penghasilan, tapi digunakan untuk minum
dan judi," kata Sultan.
Sehingga dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, salah
satu program yang akan dilakukan Gubernur adalah menciptakan
bebas pekat. Hal ini dilakukan dengan maksud, hasil yang
diperoleh masyarakat bisa digunakan seoptimal mungkin bagi
kepentingan keluarga masing-masing. (skd)