Karyawan Telkom Yogya Gelar Aksi Protes

* Ancam Mogok Nasional

Gondokusuman, Bernas
Sekitar 300 karyawan PT Telkom Tbk Yogyakarta yang menamakan dirinya Serikat Karyawan (Sekar) Telkom DPD Yogya, Senin (23/4), dengan menggunakan 15 kendaraan terbuka menggelar aksi keliling Kota Yogya. Aksi itu sebagai sikap penolakan terhadap rencana pemerintah melakukan transaksi tukar guling, antara PT Telkom Tbk dan Indosat yang dituangkan dalam MoU 15 Februari 2001. Bahkan, jika tuntutannya itu tidak dikabulkan, mereka mengancam akan mogok nasional.

Sebelum mereka aksi turun ke jalan, seorang peserta aksi membacakan pernyataan sikap Sekar di depan kantor Telkom Distrik Yogya, Jalan Suroto Yogya. Dalam pernyataan sikapnya, Sekar dengan tegas menuntut digagalkannya MoU 15 Februari 2001, menolak pengalihan aset Telkom Divre IV Jateng-DIY kepada operator lain, dan seluruh karyawan tetap menghendaki agar tetap menjadi karyawan Telkom. Selain itu, Divre IV tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam satu kesatuan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.

"Aksi yang kami lakukan ini sebagai bentuk protes keras terhadap sikap pemerintah, dalam hal ini Menko Ekuin Rizal Ramli, yang memaksa tukar guling antara Telkom dan Indosat dengan harga sangat murah, yaitu sekitar 375 juta dolar. Padahal, aset kami (Telkom Divre IV Jateng-DIY) bisa mencapai 900 juta dolar," jelas Wakil Ketua DPD Sekar Yogya Rusliansah kepada Bernas seusai aksi.

Rusliansah menambahkan, aksi ini telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti DPD Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) DIY, Serikat Pekerja BUMN, Serikat Pekerja Indosat, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, DPR RI Komisi IV dan IX, bahkan -- melalui Cahya Kumala -- Wapres Megawati Soekarnoputri pun mendukung.

"Jika sampai Telkom pindah tangan, dan Indosat jadi membeli PT Bimagraha yang pekerjanya banyak orang asing, sangat berbahaya. Sebab, telekomunikasi adalah sarana vital, kalau sampai jatuh ke tangan asing bisa membahayakan pertahanan dan keamanan Indonesia. Benar tidak?" katanya.

Skenario besar
Sedangkan Kepala Distrik Telekomunikasi DIY Imran Umar kepada wartawan mengatakan, nilai historis Telkom itu tidak bisa dinilai dengan uang. Jika sampai Divre IV dijual akan memecah-belah Telkom."Angkatan muda Telkom, pada perjuangannya mendukung semangat persatuan dan kesatuan Proklamasi 17 Agustus '45. Proses kelahiran Telkom pun memiliki nilai semangat persatuan dan kesatuan. Maka saya sebagai pimpinan hanya bisa mendukung perjuangan karyawan, dengan melanjutkan aspirasi mereka ke tingkat yang lebih tinggi," ujarnya.

Di tempat sama, salah seorang pengurus Sekar, Dwi Cahyanto, merasa ada skenario besar di balik tukar guling antara Telkom dan Indosat. "Kita ini diperdaya dengan cara diadu domba (Telkom-Indosat). Kalau kita sudah lemah, maka operator asing akan masuk Indonesia dan menguasainya. Dan, ini sangat berbahaya bagi negara kita," kata Dwi Cahyanto.

Menghadap Gubernur
Rencananya, hari ini, Selasa (24/4), pukul 11.30, Sekar DPD DIY akan menghadap Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kepatihan, Jalan Malioboro. Mereka bermaksud untuk mengeluarkan unek-uneknya, sekaligus berpamitan dan minta doa restu, terkait dengan rencana keberangkatannya menuju ke Jakarta pada sore harinya.

Di Jakarta, mereka akan beraksi di Kantor Menko Ekuin dengan tuntutan yang sama. Bahkan, kalau perlu minta Menko Ekuin Rizal Ramli mengundurkan diri.

Direncanakan yang akan berangkat ke Jakarta sebanyak 600 orang dan merupakan perwakilan karyawan. Meski sebagian besar karyawan Telkom melakukan aksi di Jakarta, menurut Rusliansah, aktivitas Telkom, terutama dalam pelayanan kepada masyarakat, tetap berjalan seperti biasa. Jika tekanan- tekanan mereka diabaikan dan MoU tetap ditandatangani, mereka akan mogok secara nasional. (cr10)