Arus Bawah PDI-P dan Format Gelar Aksi Lagi

Labuh Wayang Celeng di Pantai Congot

Temon, Bernas
Massa arus bawah PDI Perjuangan dan Forum Aksi Rakyat Mataram (Format) kembali menggelar aksi ritual sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa. Kali ini aksi itu berupa labuhan di Pantai Congot Kulonprogo. Aksi yang digelar Selasa (24/4) dini hari itu diikuti sekitar 500 orang. Aksi juga diikuti Banser NU DIY, Barisan Shiraatal Musthaqiem (BSM), dan Forum Persaudaraan Umat Beriman. Sebelumnya, mereka telah melakukan ritual mubeng beteng tapa bisu di Yogyakarta, Kamis (19/4) malam.

"Aksi labuhan ini merupakan rangkaian aksi sebelumnya (mubeng beteng tapa bisu-red) yaitu tetap merupakan ungkapan keprihatinan terhadap kondisi bangsa, prihatin terhadap sikap-sikap elit yang hanya mementingkan diri dan kelompoknya tanpa memikirkan penderitaan rakyat, dan lagi-lagi kami tegaskan dukungan kami pada duet kepemimpinan Gus Dur-Mega sampai 2004," jelas Sekretaris Format Ir Cindelaras.

Aksi ini, tambah Cinde, juga merupakan wujud keprihatinan masyarakat terhadap cara-cara culas yang dilakukan elit politik sisa-sisa Orde Baru (Orba) yang bercokol di parlemen dan birokrasi, baik sipil maupun militer, untuk menipu rakyat.

Dijelaskan Cinde, aksi labuhan ini merupakan simbolisasi dari upaya mengakhiri, memangkas, dan menghancurkan sisa-sisa Orba dengan segala perilaku kotornya. Aksi simbolis ini diwujudkan dalam bentuk labuhan wayang yang bersosok binatang celeng, yang menggambarkan tiga tokoh nasional yang selalu ribut memperkeruh suasana kehidupan politik nasional. Dan, satu lagi wayang bersosok Citraksi yang menggambarkan seorang tokoh yang mengaku reformis tetapi sesungguhnya hanya reformis gadungan, yang selalu memancing keributan sosial politik dan berambisi besar merebut kekuasaan.

Menurut Ketua Banser Kota Eka Yulianta BP SH, aksi tersebut merupakan bagian dari laku kultural spiritual yang sekarang ini banyak ditinggalkan orang. Ditambahkannya, pemilihan lokasi dilatari oleh keberadaan Pantai Congot yang terkait dengan perjuangan para tokoh masa lalu, antara lain Pangeran Diponegoro dan Panglima Besar Jenderal Sudirman.

"Aksi ini juga merupakan bentuk wacana lain dari pengungkapan aspirasi. Agar dalam melihat persoalan kita tetap menghargai perbedaan, tidak dilakukan dengan cara-cara anarkis," ujar Ketua BSM, Joko Waskito alias Donak.

Acara ritual
Sebelum massa berangkat mengikuti acara labuhan, diadakan doa bersama yang diwarnai pekik merdeka di depan kantor PWNU DIY Jalan MT Haryono, Senin (23/4) malam, sekitar pukul 23.30. Kemudian massa dilepas Ketua PWNU DIY Drs H Sofwan Helmy menuju lokasi Gunung Lanang, Congot, Temon, Kulonprogro, dengan menggunakan tiga bus, puluhan mobil, dan sepeda motor.

Sesampai di lokasi, kepada massa dibagikan sobekan kain mori untuk kalung, dan selanjutnya diadakan upacara keliling Sendang Sinongko sebanyak 7 kali dan siraman (mandi). Acara kemudian dilanjutkan babar lakon wayang yang akan dilabuh di Joglo Pesanggrahan Gunung Lanang, yang dipimpin oleh Triatmojo. Dalam babar wayang juga dilantunkan tembang Babaran Buwana Bangkit diiringi gamelan demung.

Setelah upacara di joglo selesai, dilanjutkan upacara keliling batu Yoni di punthuk (bukit) Gunung Lanang sebanyak 7 kali. Selanjutnya, selesai keliling batu Yoni, massa mulai bergerak menuju Pantai Congot yang jaraknya kurang lebih 2 km dari Gunung Lanang.

Di pantai ini, uba rampe berupa tiga wayang celeng, satu wayang Citraksi dan kembang setaman yang telah dipersiapkan, dilabuh atau dilarung (dibuang ke laut). Hujan deras yang mengguyur tidak mengurangi kekhusyukan peserta labuhan. "Semua biang sial bangsa ini, sekarang sudah hanyut," tutur salah seorang peserta ritual labuhan. Upacara labuhan selesai Selasa pukul 03.00 dini hari. (cr10/cr9)