Anggota Dewan Tolak Lencana Emas

Sleman, Bernas
Setelah di DPRD DIY Syukri Fadholi mengembalikan kelebihan gajinya sebagai anggota dewan karena merasa tak etis, fenomena serupa terjadi di DPRD Sleman. Anggota DPRD Sleman yang mendapat lencana baru terbuat dari emas, banyak yang menolak memakainya. Bahkan, ada anggota dewan yang justru memberikan lencana emas itu kepada masyarakat.

Keengganan sejumlah anggota DPRD Sleman mengenakan lencana emas itu, sebagian karena alasan tak pantas. Lencana itu dinilai terlalu mewah bagi wakil rakyat, apalagi dalam kondisi ekonomi rakyat yang sedang sekarat.

Ketua Komisi C DPRD Sleman Esti Wijayati mengatakan, lencana emas untuk anggota dewan sangat tidak tepat untuk masa-masa seperti sekarang ini.

"Menurut saya, dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini, sangat tidak layak kalau anggota dewan memakai lencana emas. Itu dapat menyakiti hati masyarakat. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan saya kalau saya memakai lencana itu. Padahal, saya sedang mengadakan kunjungan kerja ke masyarakat Sleman yang tidak mampu. Sangat ironis!" tegas Esti kepada Bernas, Rabu (25/4) di kantornya.

Esti yang hingga saat ini belum mengambil lencana itu menambahkan, lebih baik lencana emas itu dikumpulkan kembali dan disumbangkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan, mengingat saat ini masih banyak masyarakat yang hidup kurang layak.

Sedangkan anggota Komisi C, Drs H Susi Esanedi, justru sudah memberikan lencana yang dikabarkan seberat 8,20 gram itu kepada seorang warga Minggir yang saat ini sedang sakit di RS PKU Muhammadiyah dan sangat membutuhkan uang.

"Ini jelas tidak rasional, dan pasti akan melukai hati rakyat. Saya tidak tega memakainya. Saya sudah memberikan lencana itu kepada seorang anak yang saat ini terbaring di RS PKU Muhammadiyah, kasihan dia kena tumor, sehingga butuh biaya untuk pengobatan dan operasi. Biarlah lencana itu dijual untuk tambahan biaya pengobatan," kata Susi.

Sementara itu, anggota dewan lainnya, Riyanto Kuncoro, tidak mau mempermasalahkannya. Dia mengatakan, hanya memakai lencana yang telah diberikan oleh kantornya.

"Saya malah tidak berpikir sampai sejauh itu. Saya hanya asal pakai saja lencana ini. Selama ini saya tidak pernah berpikir neko-neko, yang penting saya kerja untuk masyarakat saya," kata Kuncoro sambil menunjukkan lencana yang telah melekat di bajunya.

Seorang staf Sekretariat Dewan (Setwan) saat dimintai komentarnya mengenai hal itu mengatakan, pembuatan lencana emas itu merupakan pemborosan, dan sangat tidak etis.

"Wah, itu pemborosan mas. Masak tega-teganya bapak-bapak wakil rakyat memakai lencana emas. Untuk makan anak-istri saya saja susah, masak cuma lencana saja dibuat dari emas," kata seorang staf Setwan yang tidak mau namanya disebutkan. (sig)