Pesan Damai Sultan untuk Peserta Istighotsah

Danurejan, Bernas
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menitipkan salam perdamaian dari Yogyakarta untuk Indonesia. Pesan Sri Sultan HB X itu diharapkan bisa dibawa delegasi DIY yang mengikuti istighotsah Nahdlatul Ulama (NU) 29 April 2001 di Jakarta. Menurut Sultan, istighotsah merupakan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara, sehingga diharapkan tidak ada ekses negatif yang dapat mempersulit keadaan negara.

"Saya berharap, doa bersama yang dilakukan warga NU dapat diterima Allah SWT, dengan membawa kedamaian dan kesejukan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Sultan HB X kepada wartawan seusai acara pelantikan pengurus GNOTA Cabang Yogyakarta, di Kepatihan Yogyakarta, Kamis (26/4).

Sebelumnya, pada hari yang sama, Sultan juga mengemukakan hal yang sama saat memimpin apel siaga bersama aparat TNI/Polri di Alun-Alun Selatan, Yogya. Hadir dalam apel siaga TNI/Polri antara lain Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY Brigjen Polisi Drs Saleh Saaf beserta jajaran pejabat Polda DIY, Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas DIY Kolonel Bambang Suherman, perwakilan dari Komandan TNI AU, dan AL serta Walikota Yogya HR Widagdo.

Harapan Sultan tersebut disampaikan berkaitan dengan upaya antisipasi menjelang diselenggarakannya Istighotsah Akbar massa NU, Minggu (29/4) mendatang maupun Sidang Paripurna DPR RI, Senin (30/4) di Jakarta.

Simpang jalan
Menurut Sri Sultan HB X, delegasi DIY yang hendak berangkat mengikuti istighotsah NU di Jakarta, harus bisa menjadi contoh yang baik, tertib, disiplin, dan mentaati aturan yang ada, sehingga pelaksanaan istighotsah dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan, yakni minta petunjuk kepada Allah SWT.

"Mari kita kumandangkan, semangat satu Yogya salam damai untuk Indonesia. Bukankah kita sudah terlalu banyak bersimbah darah dan menangis? Maka, janganlah bangsa ini menangis lagi," kata Raja Yogyakarta dalam pesannya di apel siaga itu.

Sri Sultan HB X menyatakan, salam damai dari Yogyakarta yang diserukan ini dapat menggema ke seluruh pelosok negeri dan membawa angin rekonsiliasi ke para politisi elit, yang sekarang ini lebih dari sebelumnya dituntut tanggung jawabnya untuk menyelamatkan bangsa yang sudah demikian terpuruk.

Berkait pelaksanaan istighotsah NU di Jakarta, Sultan HB X juga minta kepada aparat keamanan untuk meningkatkan kesiagaan karena adanya tanda- tanda eskalasi yang mengancam stabilitas keamanan masyarakat yang dikhawatirkan bisa memicu konflik horizontal antarkelompok massa.

Namun, Sultan juga mengingatkan, dalam usaha menjaga dan memelihara keamanan serta ketertiban, memang lebih baik jika kita melakukan tindakan preventif dan persuasif ketimbang tiba-tiba dihadapkan pada kondisi di mana aparat terpaksa harus melakukan tindakan represif, yang biasanya akan menimbulkan jatuhnya korban.

Dikatakan pula bahwa saat ini bumi Nusantara sedang berada di titik kritis, di simpang jalan menuju kehancuran ataukah kebangkitan. Indonesia yang dibangun dengan tangan Tuhan lewat Proklamasi '45 dan dengan gagasan indah membangun masyarakat yang damai, adil, dan makmur kini menjadi titik api perseteruan yang merintihkan suara kepedihan.

"Sungguh awal dari sebuah perpecahan menyedihkan, karena kebencian memang selalu tragis. Ia melukai yang membenci maupun yang dibenci, ia memecah kepribadian, menggores jiwa bangsa, dan meretakkan semangat Bhinika Tunggal Ika. Namun, kini rakyat terus bertanya, apakah rasa damai takkan pernah akrab lagi dengan bumi Pertiwi ini. Sampai kapan kebencian, kekerasan dan kekejaman akan berlangsung? Padahal, bukankah lebih banyak rakyat yang mendambakan kedamaian daripada pertikaian? Andaikan sejarah adalah rujukan, bukankah akan menyadarkan bangsa ini, bahwa kita adalah bersaudara," lanjut Sultan. (tt/als)