Calo Guru Bantu Pasang Tarif Rp 3 Juta
Purworejo, Bernas
Para calo disinyalir bergentayangan mencari mangsa dalam
penyaringan guru bantu Kabupaten Purworejo yang dilaksanakan,
Senin (31/3) kemarin. Sebab dari beberapa peserta mengaku kalau
didatangi oleh oknum yang mengaku bisa memuluskan jalan untuk
bisa diterima sebagai guru bantu.
Bahkan ada sebagian yang menjanjikan pembayaran bisa
dilakukan di belakang jika yang bersangkutan telah diterima
sebagai guru bantu. Tawaran itu tidak murah kompensasinya, karena
dana yang diminta untuk masing-masing calon guru bantu berkisar
Rp 3 - Rp 4 juta.
Namun ada juga para calon guru bantu yang justru kasak-kusuk
sendiri untuk bisa mencari celah agar bisa diterima duduk dalam
formasi guru bantu tahun ini. Ada yang mendatangi orang yang
duduk di kepanitiaan di kabupaten dan ada juga yang mencari
tokoh-tokoh yang dipandang bisa membantu mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo Drs Untung
Sadermo MM yang dikonfirmasi Bernas saat memantau jalannya
seleksi guru bantu di SLTP 6 Purworejo membantah kabar yang
berhembus tersebut. Bahkan Untung menyatakan pihaknya sama sekali
belum menerima laporan kemungkinan adanya unsur calo-mencalo
dalam tes tersebut.
"Saya belum menerima laporan tersebut sampai saat ini,"
tegas Untung. Dijelaskan kepada masyarakat agar tidak mempercayai
omongan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Sebab untuk penerimaan dan penyaringan guru bantu di Kabupaten
Purworejo sepenuhnya dilakukan oleh pusat. Sehingga kemungkinan
terjadinya Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) dalam rekrutmen
guru bantu saat ini adalah sangat kecil.
Ketika disinggung kemungkinan adanya pajabat Purworejo yang
bisa membuat koneksi ke pusat, lagi-lagi Untung membantahnya.
"Saya katakan tidak ada KKN dalam rektrutmen guru bantu ini dan
yang mempercayai omongan orang kalau bisa dibantu dalam rekrutmen
guru bantu ini adalah tindakan yang sangat bodoh," katanya.
Tidak ikut tes
Sementara itu pelaksanaan seleksi guru bantu yang dimulai
pukul 08-14.00 kemarin berjalan lancar. Ada tiga tes yang kemarin
diujikan yakni tes bakat skolastik, tes pengetahun umum dan tes
mata pelajaran. Ratusan wajah yang terlihat tegang dengan tekun
mengerjakan soal-soal dengan ditunggui beberapa guru pengawas.
Bukan hanya yang muda yang mengikuti jalannya rekrutmen guru
bantu, tetapi ibu-ibu dan bapak-bapak juga banyak yang mengadu
nasib, kemarin. Namun sejauh pengamatan Bernas banyak
kursi-kursi kosong yang tidak digunakan peserta untuk mengikuti
tes.
Ada lima lokasi yang menjadi tempat penyelenggaraan tes
seleksi guru bantu yakni SMU 7 Purworejo, SLTP I, SLTP II, SLTP
IV, dan SLTP VI Purworejo. "Saya juga belum tahu alasan mereka
yang tidak mengikuti tes. Hanya saja mungkin karena mereka
melihat peluang yang sangat sedikit atau karena telah bekerja di
swasta yang honornya lebih besar daripada menjadi guru bantu,"
kata Untung Sedangkan Kepala Sekolah SMUN 7 Purworejo Drs
Muhamad Hani MHum menyatakan pelaksana tes di sekolahnya
menggunakan 26 ruang dengan jumlah peserta 515 orang. Yang
mengikuti tes di tempat tersebut adalah guru TK dan SD berijasah
SLTA sederajat. "Kita di sini sebatas menyediakan tempat," kata
Hani kepada Bernas.
Begitu juga dengan pekasanaan tes di empat SLTP berjalan
sesuai jadwal yang ditetapkan panitia. Sedangkan pejabat yang
nampak meninjau pelaksanan tes adalah ketua DPRD Purworejo S
Marsoedi, Sekteretris Daerah Purworejo H Moleyono SH MM, Kepala
Dinas Pendidikan Drs Untung Sadermo MM serta dari jajaran Dewan
Pendidikan Purworejo.
Di Magelang
Sementara itu dari 468 peserta tes guru bantu di Kota
Magelang, 33 orang diantaranya tidak hadir saat tes berlangsung.
Diperkirakan, mereka lebih memilih tes di daerah lain yang
dianggap lebih berpeluang.
"Tes dilaksanakan serentak di semua daerah. Kemungkinan yang
tidak hadir ikut tes di daerah lain," kata Kepala Dinas
Pendidikan Nasional Kota Magelang Sri Yudoko SH, Senin
(31/3).
Tes guru bantu dilaksanakan Minggu, (30/3). Tes bertempat di
gedung SMPN I dan IV di jalan Pahlawan. Hasil tes itu oleh
panitia langsung dikirim ke pusat melalui Balai pelatihan guru
(BPG) Semarang. Seluruh koreksi sampai hingga penentuan peserta
lolos ditentukan pusat. "Karena semua sudah dikirim, tidak
mungkin terjadi KKN," kata Yudoko.
Hasil ujian akan diumumkan Mei yang akan datang. Sehingga,
di awal tahun ajaran, para guru bantu sudah dapat melaksanakan
tugas di sekolah-sekolah. Dari 468 peserta yang mengikuti
tes hanya diambil 234 guru. Hal itu sudah sesuai dengan kuota
yang diberikan pemerintah pusat. Yang menjadi keprihatinan, tidak
seorang peserta-pun yang mendaftar sebagai guru komputer. Guru
bisnis dan guru bantu untuk Taman kanak-kanak (TK) minim
pendaftar.
Padahal, Kota Magelang membutuhkan 8 guru komputer. Dari 6
guru bisnis yang dibutuhkan hanya ada 5 pendaftar. Demikian juga
dengan guru TK, dari 16 yang dibutuhkan hanya ada 15
pendaftar.
Kota Magelang, saat ini masih kekurangan guru. Tahun ini,
untuk guru negri dari sekolah dasar (SD) hingga SLTA kekurangan
90 guru karena pensiun. Jumlah tersebut belum termasuk guru-guru
yang diperbantukan untuk sekolah-sekolah swasta. "Yang
diperbantukan untuk sekolah swasta belum terhitung," ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya program guru bantu, maka
kekurangan guru bisa teratasi sambil menunggu perekrutan guru
PNS jika sudah disetujui pemerintah. Sebab, menurut informasi
dari BKD, tahun 2003 ini Kota Magelang mengusulkan formasi
penambahan pegawai khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.
(cr12/tie)