Orang Tua Murid Protes Kepala SDN Karangtengah

Imogiri, Bernas
Sekitar 100 orang tua wali murid SD Negeri Karangtengah Imogiri Bantul, hari Senin (31/3) kemarin mendatangi gedung se- kolah tempat putra-putrinya menuntut ilmu. Mereka menduga telah terjadi penyimpangan penggunaan uang siswa yang dilakukan Kepala Sekolah SD setempat, Dra Sri Suharyanti.
Dana-dana yang diduga telah diselewengkan tersebut dianta- ranya pengucuran dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan BKM kepada 30 orang siswa SD setempat, masing-masing sebesar Rp 120.000 per tahun, bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk siswa kelas I-IV yang besarnya masing-masing Rp 10.000, serta bantuan gemar menabung dari Pemkab Bantul Rp 1.000 per siswa.
Selain itu juga menyangkut iuran 4 orang siswa yang mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 100.000 untuk membeli asbes serta bantuan untuk rehab gedung sekolah sebesar Rp 40 juta.
Para orang tua siswa tidak hanya sekedar menanyakan alokasi penggunaan masing-masing bantuan. Namun mereka juga merasa kesal terhadap sikap Kepala Sekolah yang dinilai kurang transparan me- nyapaikan bantuan.
Begitu para orang tua siswa berkumpul, mereka langsung "mengadili" dan mencecar Kepala Sekolah setempat dengan se- rentetan pertanyaan dan cibiran.
Koordinator orang tua siswa, Basuki yang juga Kepala Dukuh Karangrejek Desa Karangtengah menjelaskan, dirinya telah mempertanyakan masalah dana JPS dan BKM ke kantor Pos. Ternyata kedua dana tersebut telah dicairkan pihak sekolah.
Namun pada saat itu Basuki merasa melihat ada kejanggalan. Terutama setelah dirinya mengetahui bahwa sampai saat ini para siswa baru menerima Rp 30.000. "Berarti masih ada Rp 90.000 di sekolah. Untuk apa uang itu tidak dibagikan?" tanya Basuki.
Belum sempat hal ini dijelaskan, seorang wali murid juga menanyakan tentang penggunaan bantuan kegiatan siswa kelas I-IV sebesar Rp 10.000 per siswa. Sebab ternyata masing-masing siswa hanya mendapatkan seperangkat alat tulis (buku tulis, buku gambar, pensil, ballpoint, penggaris dan penghapus).
Menanggapi hal tersebut, Sri Suharyanti menjelaskan dana bantuan yang telah mengalir ke SD Negeri Karangtengah tidak hanya JPS dan BKM. Tapi juga ada hibah dari pemerintah Jepang.


Hanya BKM yang dicairkan

Menurut dia, JPS hanya dibagikan untuk 5 siswa kelas VI, BKM untuk 25 orang siswa kelas I-V dan bantuan hibah dari Jepang untuk 30 orang siswa kelas I-VI. Dari keseluruhan dana yang ada besarnya sama, yaitu Rp 120.000 per siswa per tahun. Sehingga total dana yang diterima siswa Rp 7.200.000.
Namun dari seluruh bantuan itu, yang dicairkan hanya bantuan BKM. Itupun tidak keseluruhan, melainkan baru separuhnya atau Rp 60.000 per siswa. Sedangkan sisanya akan dicairkan pada 4 April mendatang.
Usai dicairkan, Sri Sugiarti mengaku memotong dana tersebut, masing-masing Rp 30.000 untuk melunasi pembayaran BP3. Sedangkan sisanya dimasukkan ke dalam buku tabungan siswa masing-masing Rp 30.000. Menurutnya, uang tersebut bisa diambil sewaktu-waktu bila para siswa membutuhkan biaya untuk membeli seragam, sepatu atau alat sekolah. Menurut dia, langkah ini dilakukan dengan pertim- bangan dari Dewan Sekolah.
Namun ketika hal itu dikonfirmasikan, ternyata hal itu belum mendapatkan izin dari Dewan Sekolah. Sehingga begitu mendengar penjelasan dari Dewan Sekolah, para orang tua siswa pun lalu mencibirnya. Cibiran itu semakin bertambah ketika ada orang tua siswa yang mengaku dimarahi Sri Suharyanti ketika hendak meminta uang tabungan anaknya.
Sedangkan mengenai bantuan kegiatan siswa sebesar Rp 10.000 per siswa, menurut Sri Suharyanti seharusnya tidak dibagikan kepada siswa. Sebab bantuan itu untuk kegiatan siswa. Namun ada kesalahpahaman, Sri Suharyanti mengaku sudah mewujudkannya dalam bentuk peralatan tulis yang kemudian dibagikan kepada setiap siswa. Sedangkan sisanya telah digunakan untuk kegiatan siswa, seperti MTQ, pesantren kilat, buka puasa bersama, Porseni dan penataran guru.
Pada saat itu orang tua murid juga sempat mempermasalahkan bantuan rehab gedung sebesar Rp 40 juta. Sebab berdasarkan penilaian mereka, rehab tersebut memerlukan dana tidak lebih dari Rp 14 juta.
Meski demikian Sri Suharyanti mengelak. Menurutnya dana tersebut telah digunakan untuk membangun kantor guru, WC, dapur dan konblokisasi halaman sekolah.

Akan Diadukan

Meski sudah mendapat penjelasan, para orang tua murid tetap tidak puas. Mereka tetap menginginkan agar Sri Suharyanti di- pindahkan dari SD Negeri Karangtengah.
"Kami akan sampaikan ke Dinas Pendidikan Bantul agar segera memindahkan Bu Sri Haryanti. Bila ini tidak dilakukan, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh para orang tua siswa. Tindakan kami juga didukung oleh para guru setempat," kata Basuki. (skd)