*Saluran Irigasi Kadisono Jebol
Labih Dari 200 Ha Sawah Terancam Kekeringan
Bantul, Bernas
Lebih dari 200 hektar lahan persawahan di wilayah Desa Gi-
langharjo Kecamatan Pandak dan Desa Sendangsari Kecamatan
Pajangan Bantul, terancam kekeringan. Ancaman tersebut muncul
setelah saluran air irigasi Kadisono yang melintas di Desa
Ringinharjo Kecamatan Bantul jebol.
Berdasarkan data yang dihimpun Bernas hari Selasa (1/4), ke-
rusakan pada saluran irigasi tersebut merupakan peristiwa yang
kesekian kalinya terjadi. Sebelumnya, setiap jebol saluran
tersebut diperbaiki warga secara gotong royong. Namun meski
saluran yang rusak telah diperbaiki, muncul lagi kerusakan pada
bagian lainnya.
Akibat perbaikan yang berulang-ulang tersebut, pengairan
lahan persawahan di Desa Gilangharjo dan Sendangsari sempat
berkali-kali terganggu. Sebab proses perbaikan saluran irigasi
itu sering memakan waktu hingga dua hari, bahkan lebih,
tergantung kerusakannya.
Saat Bernas bersama anggota Komisi D DPRD Bantul melakukan
peninjauan ke lokasi pada hari Selasa, saluran irigasi Kadisono
tampak tengah dikeringkan oleh warga karena akan dilakukan
perbaikan. Dalam kondisi kering, secara jelas terlihat bahwa
kerusakan itu tidak hanya pada dinding sisi kanan dan kiri
saluran. Namun lantai saluran irigasi yang diperkirakan dibangun
pada jaman Belanda itu juga banyak yang terkelupas.
Bahkan hampir sebagian besar saluran sepanjang 1,5 km itu
juga telah retak dan terkelupas karena termakan usia. Sehingga
ketika dialiri, tidak sedikit air yang terbuang dalam perjalanan
karena bocor.
Lantaran saluran ini sangat vital bagi kelangsungan bercocok
tanam para petani, Kabag Ekbang Desa Gilangharjo Agus Warsito
meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul agar segera turun
tangan memperbaiki saluran itu. Sebab bila tidak segera
diperbaiki, sekitar 200 hektar persawahan yang telah disebari
bibit padi terancam kekeringan.
"Bila perbaikan itu terlambat, tidak mustahil akan terjadi
kekeringan. Sebab semua petani telah mulai menebar bibit ke lahan
persawahannya," katanya.
Agus Suwito juga minta agar perbaikan saluran irigasi terse-
but tidak dilakukan setengah-setengah, namun harus secara
keseluruhan. Menurutnya, hal itu agar kerusakan saluran irigasi
bisa segera diatasi dan para petani bisa mendapatkan air untuk
lahan pertaniannya secara kontinyu. Sebab bila perbaikan di-
lakukan berdasarkan lokasi kerusakan, dikhawatirkan nantinya
pertanian akan terganggu lagi bila terjadi kerusakan pada bagian
lain yang sebelumnya tidak terlihat rusak. (skd)