Dr George Junus Aditjondro:
Premanisme Berakar dari Paramiliter
Sleman, Bernas
Gerakan premanisme memiliki akar dari paramiliter. Sebuah gerakan massa,
yang memiliki sejarahnya sejak 17 Oktober 1952 ketika militer berafiliasi
dengan kelompok oposisi. Kemudian kekuatan massa itu melanjutkan gerakan pada
1965, yakni ketika kelompok sipil yang mengabdi pada kepentingan militer untuk
menghabisi massa dari organisasi terlarang dan underbouw-nya. Pascarezim
Soeharto, gerakan paramiliter bukannya menciut, tapi justru melebar. Karena
semakin banyak kelompok-kelompok yang menguasai aset-aset di beberapa wilayah
lokal. Kekuatan mereka banyak bergerak untuk meredam kelompok oposisi dan
tekanan atau kontrol dari pers.
Demikian diungkapkan Dr George Junus Aditjondro, mantan dosen Australian
National University, yang kini aktif di Yayasan Tanah Merdeka, Palu, dalam
diskusi bertajuk Premanisme dan Pers, Selasa (1/4) malam di Sekretariat
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.
Dalam kasus munculnya fakta Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti
yang diproses lebih dulu oleh polisi, menurut Aditjondro, mengindikasikan
aparat penegak hukum lebih berpihak kepada preman. Sebab, kasus yang terjadi
dengan Tempo adalah delik pers, yang dapat diselesaikan dengan hak jawab.
Sementara preman merusak kantor Tempo, menghina, dan menganiaya jurnalis,
justru dikesampingkan.
Gejala premanisme seperti yang terjadi di Jakarta, antara anak buah Tomi
Winata dengan jurnalis Tempo itu, tegas Deorde Junus, perlu dicermati dan
dikontrol, karena potensial mempreteli munculnya kelompok oposan dan penegakan
demokrasi serta hukum.
Sebab, premanisme mengerdilkan pers bebas, demokratisasi, tumbuhnya
kelompok oposisi, dan ekstraparlemen. Sedangkan baik buruk demokrasi bukan
karena pemimpinnya, tapi kualitas oposisinya.
Sudah ditiru
Dalam uraiannya, diungkapkan pula oleh mantan dosen UKSW Salatiga itu,
kekuatan paramiliter itu terjalin karena kedekatan dengan militer, khususnya
TNI AD. Mulai dari proyek pembangunan gedung koperasi atau markas di daerah-
daerah, sampai akhirnya menguasai semua aset bisnis.
"Kedekatan tentara dengan keluarga Cendana masih dipakai. Pola bisnis
pakai preman dan politik, juga fenomena kultur politik pasca-Soeharto. Bisnis
militer pasca-Soeharto masih terintegrasi dengan kelompok Cendana dan kekuatan
Orba lainnya. Budaya politik itu yang mengganggu kebebasan pers," katanya.
Menurut George Junus yang juga mantan wartawan Tempo, fenomena
premanisme yang dilakukan anak buah Tomi Winata saat ini, sudah mulai ditiru
oleh kelompok-kelompok preman di beberapa daerah. Seperti yang terjadi di
Palu, tempat dia melakukan penelitian studi kasus sosial, terjadi pola seperi
dialami Tempo. Di Toli-toli, Palu, fenomena premanisme berkembang karena ada
kekuatan parpol yang berkoalisi dengan pengusaha. Sedangkan pers lokal juga
tidak mampu mengontrol secara maksimal, karena dimiliki oleh kroni penguasa
lokal.
Ia melihat, ada indikasi pascarezim Soeharto terjadi gejala yang
menonjol, yakni terjadinya monopoli tender proyek. Dan, preman yang memiliki
kepentingan dalam proyek itu tidak hanya mengabdi kepada satu induk majikan,
tapi lebih banyak majikan atau kelompok. Selanjutnya, masing-masing kelompok
dipupuk partai politik, dan dijadikan sebagai kekuatan keamanan parpol.
Upaya penghapusan premanisme, menurut dia, dapat dimulai dari penguatan
masyarakat sipil. Sehingga, diperlukan keberanian di kalangan masyarakat sipil
untuk menolak kebijakan pembangunan sepihak dari pemerintah, dan mengritisi
dampak pembangunan yang merusak lingkungan akibat proyek militer.
Sementara itu, dari institusi pers, juga diharapkan lebih diorientasikan
keberpihakannya pada social movement, jangan hanya menyajikan materi
jurnalisme selebritis. (rts)