Walikota Dituding P3I Tak Mampu Jual Gagasan

Umbulharjo, Bernas
Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengakui pemasangan iklan di Kota Yogyakarta sekarang ini tak lagi proporsional. Setelah Pemkot mengkaji ulang ternyata negative impact reklame luar ruang memang lebih besar daripada nilai jual reklame tersebut.
"Untuk itu saya selalu menunggu saran dan masukan dari masyarakat tentang bagaimana menata kota ini," kata Walikota dalam dialog terbuka dengan Komunitas Peduli Ruang Publik Kota (Kerupuk) Yogyakarta di Balaikota, Kamis (17/4).
Dalam kesempatan tersebut Walikota juga menerima bingkisan poster "Jogja Berhati Iklan" serta sejumlah potret hasil bidikan fotografer Yogya- karta mengenai semrawutnya reklame luar ruang.
Menurut Walikota, semula Pemkot berharap agar lembaga Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) ikut urun rembug tentang bagaimana sebaiknya menata iklan di Kota Yogya. Namun, yang terjadi P3I tak lebih hanya sekadar juru gambar dan belum mampu menjual gagasan.
Bahkan, lanjutnya, selama ini yang selalu ditawarkan oleh P3I adalah reklame luar ruang dengan bentuk billboard. Padahal Pemkot menginginkan agar reklame luar ruang itu tak terlalu mencolok tetapi lebih menonjolkan coorporate image daripada produknya sehingga ukurannya tak perlu terlalu besar.
Mulai tahun depan Pemkot berjanji akan melakukan penataan ulang reklame luar ruang sehingga Pemkot meminta semua pihak menyumbang gagasan demi sempurnanya masterplan yang akan dibuat. "Terus terang saya juga prihatin dengan maraknya pamflet gelap. Padahal saya sudah larang siapa pun memasang pamflet secara gelap di dinding," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut kartunis Kuss Indarto menyarankan agar dalam menyusun masterplan Pemkot memberikan batasan yang tegas terhadap titik pemasangan iklan dari bangunan bersejarah sehingga nantinya tak ada lagi iklan yang berdesak-desakan di seputar bangunan besejarah. "Pak Wali bisa lihat sendiri, bangunan di sekitar tugu itu sangat semrawut. Kalau Pemkot punya batasan yang tegas saya yakin hal itu tak akan terjadi," ucapnya.
Kuss menambahkan, semrawutnya reklame luar ruang di Kota Yogya karena Pemkot terlalu bernafsu untuk meraih target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal ia tak yakin kalau kekebasan memilih titik bagi pemasang reklame itu mampu mendongkrak PAD. Untuk masa mendatang, ia menginginkan agar bentuk iklan itu lebih eksploratif terhadap nilai-nilai budaya asli Yog- yakarta dan tidak lagi eksploitatif sehingga iklan yang terpasang juga terlihat sangat manusiawi.
Sementara itu, staf Yogya Urban Development Project Dambung Lamuara mengeluhkan banyaknya spanduk parpol yang cenderung dipasang semaunya sehingga sangat mengganggu pemandangan. Untuk itu, Pemkot disarankan mene- tapkan status quo untuk tidak melayani pemasangan iklan sebelum masterplan tentang reklame luar ruang itu selesai. "Kalau tak ditetapkan status quo, tak ada gunanya kita teriak-teriak di sini besok pagi sudah ada yang pasang iklan besar lagi," ujarnya. (lis)