Bupati Jamin Listrik Tidak "Mbeleret Lagi"
Wonosari, Bernas
Setelah beberapa tahun ditunggu masyarakat, akhirnya
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul segera mengatasi
rendahnya tegangan listrik di Gunungkidul. Upaya agar aliran
listrik yang sampai ke masyarakat tidak mbeleret lagi, yakni
dengan mengoperasikan gardu induk Wijahan Kecamatan Semanu pada
akhir April ini.
"Gardu induk Mijahan memang sudah lama dibangun. Tetapi
dalam pelaksanaannya ternyata banyak hambatan, khususnya yang
berada di Kabupaten Bantul. Tetapi dengan berbagai upaya, masalah
ini sudah teratasi dan pada akhir April ini harapan masyarakat
bisa terkabul," kata Bupati Gunungkidul, Drs H Yoetikno pada war-
tawan di Wonosari, Kamis (17/4).
Pihaknya mengakui dengan dioperasikannya gardu induk
Mijahan, tegangan listrik yang selama ini dikeluhkan pelanggan
karena tidak mencapai 220 V, bisa diatasi.
Dengan terpenuhinya tegangan listrik sebagaimana yang diha-
rapkan masyarakat, bupati mengharapkan masalah listrik mbeleret -
-karena tegangannya hanya setara Rp 160 V hingga 190 V--, tidak
terjadi lagi.
Bahkan bupati berharap agar situasi tersebut dapat dimanfa-
atkan untuk menopang berbagai usaha yang mengarah pada pe-
ningkatan ekonomi keluarga, dengan memanfaatkan tenaga
listrik.
"Karena selama ini banyak yang mengeluh, terutama para
pengusaha yang tidak bisa memanfaatkan listrik secara maksimal
akibat rendahnya tegangan. Maka mulai akhir April nanti seharus-
nya tidak ada yang mengeluh lagi," imbuhnya.
Pengoperasian gardu induk listrik Mijahan tersebut mendapat
sambutan positif berbagai elemen masyarakat Gunungkidul. Salah
seorang pengusaha es di Wonosari yang enggan disebut namanya,
menyatakan akan menunggu realisasi janji bupati tersebut.
"Karena kami sudah sering mendengar akan dioperasikannya
gardu induk di Mijahan. Tetapi sampai sekarang belum juga
terlaksana. Mudah-mudahan janji Pak Bupati bisa terwujud,"
katanya.
Menurut dia, dengan terpenuhi tegangan listrik menjadi 220
V, usaha pembuatan es yang ditekuninya tidak akan terhambat.
"Selama ini saya harus menggunakan alat tambahan agar tegangan
listrik menjadi naik. Dengan alat itu pun sulit dinaikkan.
Sehingga kalau nanti tegangannya bisa 220 V, sangat menguntungkan
usaha pembuatan es," kata pengusaha es ini.
Hal yang sama juga dijelaskan pengusaha cuci cetak photo
berwarna di Wonosari yang setiap harinya harus menggunakan diesel
untuk mengoperasikan mesin cuci cetak.
"Meskipun saya sudah langganan listrik, tetapi karena te-
gangannya rendah, tidak bisa digunakan. Terpaksa memakai diesel.
Ini berarti pemborosan. Jika nantinya tegangan listrik bisa
sesuai ketentuan, ini yang sangat saya nantikan," kata dia.
Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah pelanggan PLN
lainnya yang selama ini harus menghidupkan lampu jenis neon
sebelum pukul 17.00 Wib agar bisa menyala, baru kemudian disusul
dengan menghidupkan lampu TL atau lampu pijar.
"Paling tidak listrik tidak mbeleret lagi. Karena kami sudah
puluhan tahun harus menerima kenyataan pahit seperti itu," ujar
Agus Wibawanto, salah satu pelanggan listrik di Kecamatan Playen.
(ryo)