Luluh dan Luruh dalam "Smooth Jazz Concert"

LAIKNYA
menikmati sepotong kue yang manis, lembut, dalam tekstur yang gampang dicerna, demikian jugalah konser UGM-Bank Bukopin Smooth Jazz Concert menandai 52 Tahun UGM Yogyakarta, yang digelar, Sabtu (19/4) malam lalu di Graha Sabha Pramana, Bulaksumur, UGM. Citarasa jazz yang kadung dilabeli sebagai sajian yang berat dan susah dicerna pun menjadi luruh.
Sejumlah jazzer dan penyanyi ternama Ibukota, Syaharani, Harvey Malaiholo, Glenn Fredly, Bubi Chen & Virtuoso serta Idang Rasjidi Combo yang tampil malam itu pun, mencoba menawarkan intimasi pada publik, lewat lantunan lagu-lagu yang cukup populis.
Sepanjang tiga jam, dipandu Mayong Suryolaksono sebagai host, 4.000-an penonton yang memenuhi Graha Sabha Pramana disuguhi jazz yang smooth dan easy listening. Konon dalam sejarah jazz, gaya sedemikian mengacu pada musik jazz yang dimainkan di era Cool Jazz tahun 1950-an. Meskipun demikian, panggung jazz dengan sound berkekuatan 40 ribu watt dan lighting 200 ribu watt itu juga jadi ajang terbuka bagi beragam warna jazz.
Bermain tanpa vokal, Bubi Chen & Virtuoso serta Idang Rasjidi Combo memperkenalkan jazz dari beberapa era, era "moyang" jazz, Ragtime, Be Bop sampai yang Fusion (Jazz Latin). Stella by Starlight hingga Moliendo Cafe (di Indonesia dikenal sebagai Kopi Dangdut) pun berbaur bersama nomor-nomor populis yang dibawakan Glenn, Syaharani dan Harvey.
Glenn Ferdly lebih dikenal publik lewat lagu-lagunya yang ngepop dan lekat sentuhan R&B (Rhytm n' Blues) dan kali itu dia membuka gelaran Smooth Jazz Concert dalam penampilan khasnya yang funky. Glen yang sempat bergabung bersama grup musik berbasis jazz-fusion, Funk Section, tak urung merasa grogi juga tiba-tiba tampil dalam pergelaran jazz berkapasitas lumayan besar.
"Lumayan grogi juga, baru kali ini tampil di konser jazz yang cukup gede. Nyanyi jazz sebelum ini paling hanya di even-even kecil atau di kafe-kafe," aku Glenn di balik panggung. Penampilan Glenn malam itu pun serupa "kejutan". Sebelumnya, dia memang punya rencana hadir di konser itu, tapi hanya sebagai penonton. Ketika penyanyi senior Utha Likumahuwa batal tampil lantaran sakit, Glenn diminta menggantikan dan status pun segera berubah, dari penonton akhirnya jadi pemain.
Membawakan lima lagu, di antaranya Esok kan Masih Ada, Jejak Langkah dan Just the Two of Us, Glenn diiringi Idang Rasjidi Combo yang diperkuat jazzer-jazzer kenamaan, Idang Rasjidi (piano, kibor), Mates (bas), Edy Syahroni (dram), Agam Hamzah (gitar) dan saksoponis asal Perancis, Joe Rossenberg mendapat sambutan hangat dari penonton lewat olah vokalnya yang improvisatif.
Sambutan kian hangat kala Diva Jazz yang telah beberapa kali memeriahkan Jazz UGM, Syaharani naik ke atas pentas. Lagu-lagu manis semacam Tersiksa Lagi (lagu adopsi dari karya Ramsey Lewis, You're the Reason), For Once in My Life dan Sentimental Reasons pun mengalir dalam alunan vokal khas Rani yang serak-serak berat.
Idang Rasjidi Combo segera digeser Bubi Chen & Virtuoso dengan materi musisi yang tak kalah hebat. Pianis kenamaan asal Surabaya ini menggandeng musisi-musisi top, Benny Likumahuwa (trombon), Oele Pattiselanno (gitar), Trisno (saksopon), Totok Afiat (bas) dan dua putranya yang juga musisi jazz, Benny Chen (dram) dan Howie Chen (perkusi). Bubi Chen & Virtuoso tampil mengiringi penyanyi senior Harvey Malaiholo yang membuka penampilan dengan lagu manis All the Way.
Jazz yang smooth masih mengalun dalam lantunan vokal prima Harvey, di antaranya lewat lagu hits lama Jerat, The Song is You, Fly Me to the Moon dan lagu legendaris milik Paul Anka, I'll Did it My Way.
Pentas yang smooth ditutup dengan jamz session dalam improvisasi total para jazzer. Dua dedengkot jazz lintas generasi pun beradu, Idang Rasjidi dan Bubi Chen, bersama musisi-musisi hebat yang tampil malam itu. Repertoar -- kalau memang bisa disebut demikian -- yang panjang, tercipta spontan (dan karenanya untitled) itu mengalir, mengiringi satu per satu penonton yang mulai beranjak dari tempat duduk. (hap)