Gus Dur: Rachmawati Nangis, Jangan Ada SI

Ngaglik, Bernas
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menegaskan, meskipun Indonesia sudah melaksanakan pemilu secara baik dan berhasil memilih wakil- wakil rakyat, tapi bukan berarti demokratisasi di Indonesia bisa berjalan dengan baik karena tradisinya tidak berubah.

"Semua pemimpin punya tradisi sendiri-sendiri. Jadi, jangan dikira dengan telah terbentuknya lembaga-lembaga itu, demokratisasi bisa berjalan baik. Justru yang tersulit adalah mengubah tradisi itu sendiri. Untuk menciptakan tradisi, tidak cukup satu generasi. Sekarang kita lihat, meskipun DPR telah terbentuk, tapi orang-orangnya kacau semua. Apa-apa diselesaikan dengan voting. Ya kacau, padahal semua permasalahan tidak hanya bisa selesai dengan voting saja. Voting itu boleh, tapi kalau sudah tidak ada jalan lain. Kalau sekarang, belum apa-apa sudah voting," kata Gus Dur menjawab pertanyaan seorang jamaah salat Jumat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) Desa Candi, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Jumat (4/5).

Menurut Gus Dur -- yang saat kedatangannya ke Ponpes itu didampingi Menteri Kehutanan dan Perkebunan (Menhutbun) Marzuki Usman, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Bupati Sleman Drs Ibnu Subiyanto Akt, dan wakilnya, H Zaelani -- banyak kalangan DPR yang mengatakan dirinya telah melakukan banyak kesalahan, padahal setelah dibuktikan tidak pernah ada yang terbukti.

"Dikabarkan seolah-olah ekonomi kacau, tapi nyatanya masyarakat tidak apa-apa. Dikabarkan ada KKN, tapi ternyata setelah diselidiki sendiri, tidak terbukti. Bahkan, mereka mengklaim dirinya sebagai wakil yang dipercaya rakyat, padahal belum tentu," kata Gus Dur yang tiba di Ponpes milik KH Mufid Mas'ud pukul 12.20 ini.

Menurut Gus Dur, Rachmawati Soekarnoputri pernah menghadap dirinya dan berkata, kalau Gus Dur mundur, negara Indonesia pasti akan hancur. "Mbak Rachmawati pernah datang kepada saya. Dia menangis dengan kencang, sambil mengatakan jangan sampai ada Sidang Istimewa, karena kalau terjadi SI, pasti akan ada Proklamasi Indonesia kedua, dan itu tidak sesuai dengan yang dicita- citakan bapaknya (Ir Soekarno)," kata Gus Dur.

Menurut Gus Dur, Rachmawati berjanji kepada dirinya akan menghubungi semua politisi (elit politik) untuk membicarakan masalah Indonesia, agar Indonesia terhindar dari bahaya.

Krisis moral
Menanggapi pertanyaan seorang anggota DPRD Wonosobo dari FKB, Muhammad Mukarobin, yang mengatakan krisis Indonesia diakibatkan krisis moral elit politik, Gus Dur mengatakan, selain moralnya bobrok, elit politik juga sering memfitnah.

"Bicara soal moral, selain moralnya memang bobrok, mereka juga suka memfitnah. Saya paling kenyang fitnah. Tapi, saya biarkan saja, karena masyarakat punya mata hati. Contohnya, istighotsah. Meskipun masyarakat saya dibilang ndeso dan goblok, tapi ternyata mereka lebih tertib daripada yang mengklaim dirinya pinter," kata Gus Dur disambut tepuk tangan meriah.

Gus Dur juga mengatakan, untuk menyelesaikan permasalahan, dirinya bersedia berdialog dengan siapa saja. Ia mengatakan tidak pernah capai untuk berdialog, karena tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara sangat besar.

"Tapi kompromi itu ada batasnya. Asalkan tidak dibatasi hak saya untuk memilih, dan menentukan kebijakan, karena itu merupakan hak saya yang diatur undang-undang, saya tidak akan pernah capai berdialog. Selain masalah itu, saya serahkan kepada Mbak Mega sebagai wakil presiden," tegas Gus Dur.

Menurut Gus Dur, saat dirinya sarapan dengan Megawati, dirinya sudah mengatakan agar Megawati lebih banyak ngomong, karena banyak yang menuduh Megawati tidak bisa ngomong.

"Tapi, menurut saya, bukannya Mbak Megawati tidak bisa ngomong, Mbak Mega nggak ngomong karena nggak mau banter-banteran ngomong sama saya. Mbak Mega itu tipe wanita timur, pinter tapi meneng," kata gus Dur.

Ditanya soal Amien Rais, Gus Dur mengatakan, yang berbeda itu bukan antara dirinya dengan Amien Rais, tapi antara Amien Rais dengan Rois Am.

"Amin itu teman saya, tapi memang dia bicaranya suka blak-blakan. Saya sangat menghargai dia, saking tingginya penghargaan saya, saya sampai mendukung dia menjadi presiden tahun 1994 lalu. Tapi wajar saja, namanya manusia itu tempatnya salah dan khilaf," papar Gus Dur.

Sementara itu, atas usulan seorang dosen IAIN Sunan Kalijaga agar Gus Dur menemui sendiri orang-orang yang berseteru tanpa perantara, Gus Dur mengatakan tidak masalah, tapi dia menolak dikatakan "berseteru." "Saya terharu dengan usulan Anda, tapi saya tidak setuju dengan perkataan berseteru. Orang beda pendapat itu wajar saja, jadi gak usah kaget, itu karena sudah lama orang gak boleh ngomong," katanya.

Aman
Berbeda dengan kunjungan Gus Dur ke Yogya -- kampus UGM -- beberapa waktu lalu yang diwarnai demo penghadangan, kunjungan kali ini relatif tidak ada masalah. Isu yang menyebutkan bahwa Gus Dur akan didemo mahasiswa Surakarta di makam Ki Ageng Sunan Pandanaran dan demo mahasiswa di perempatan Jalan Kaliurang, tidak terbukti. Proses pengamanan, baik dari pihak Polisi Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Barisan Ansor Serbaguna (Banser) terlihat ketat.

Seusai kunjungan ke Sleman, Gus Dur selanjutnya adalah makam Ki Ageng Sunan Pandanaran, Paseban, Klaten. Di tempat ini Gus Dur --didampingi Gubernur Jateng Mardiyanto dan Marzuki Usman serta Wakil Bupati Klaten, menanam sebuah pohon sawo kecik setinggi kurang lebih dua meter. Setelah itu Marzuki Usman melepas seekor burung kepodang, diikuti sejumlah burung dari jenis lain. (tt/cr9/sig)