Sebelumnya Presiden Gus Dur memberikan sambutan tanpa teks sebagai tanda dibukanya KTT G-15 ke-11 yang dihadiri oleh kepala negara/kepala pemerintahan dan para pejabat pemerintah 19 negara anggota kelompok yang dibentuk tahun 1989 itu.
"Sekarang sambutan tertulis saya akan dibacakan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri," kata Gus Dur kepada para delegasi yang hadir seusai memberikan sambutan.
Namun, Megawati yang duduk bersebelahan dengan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, bergeming, sama sekali tidak beranjak dari kursinya. Wapres Megawati malah langsung mempersilakan Robert Mugabe untuk menyampaikan sambutan sebagai perwakilan negara-negara Afrika.
Pekan lalu, dalam wawancara dengan RRI, Megawati menyatakan bahwa seorang wakil presiden tidak sama dengan pembantu Presiden.
Di bagian lain, Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab membantah bahwa Wapres Megawati menolak permintaan Presiden Gus Dur agar membuka KTT G-15. Menurut Alwi, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Insiden itu, kata Alwi, tak berarti bahwa Gus Dur dan Mega tak lagi kompak.
Menurut Alwi, ketika dihubungi wartawan seusai pembukaan acara itu, kesalahpahaman terjadi karena Gus Dur mengira pembukaan dan rapat KTT G-15 jadi satu rangkaian. Sebelumnya pihak Presiden diberitahu bahwa Mega yang akan memimpin rapat dalam pertemuan G-15. Sedangkan untuk pembukaan sebenarnya dijadwalkan dilakukan Presiden. "Presiden lupa bahwa dia hanya akan memberikan acara opening, baru kemudian diserahkan pada Mega. Gus Dur pikir pembukaan dan rapat jadi satu. Jadi, langsung diserahkan pada Mega. Sehingga, dia langsung memberitahukan akan ada pidato dari Mega dan juga akan memimpin sidang selanjutnya," jelas Alwi.
Ketika ditanya, mengapa tak ada koordinasi dalam acara sebesar itu, Alwi berkilah, bahwa masalahnya bukan soal koordinasi. "Manusia kan bisa saja keliru karena bukan Tuhan. Mungkin Presiden lupa bahwa itu tak menjadi satu. Jadi, bukan menolak," kata Alwi. Dijelaskan, setelah pernyatan Gus Dur agar Mega memimpin sidang, salah seorang panitia telah memberi instruksi pada master of ceremony (MC), tapi instruksinya tak sampai. Kemudian MC langsung meminta Mega untuk pidato. "Ini soal kecil tak usah dibesar-besarkan. Nggak apa-pa orang tahu ada keterbatasan," demikian Alwi.
Tak teragenda
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Sutjipto, menegaskan,
penolakan Wapres Megawati untuk membacakan pidato pada pembukaan KTT G-15,
itu disebabkan penugasan yang terlalu mendadak dan sebelumnya tidak
diberitahu atau diagendakan.
"Itu kan persidangan yang sangat penting dan sifatnya internasional sehingga membutuhkan persiapan dan harus diagendakan," kata dia pada wartawan saat rehat rapat paripurna DPR di Gedung DPR/MPR Senayan Jakarta, kemarin juga.
Menurut Sutjipto, Megawati menolak karena itu merupakan tugas dadakan dan sebelumnya tidak diagendakan bahwa yang menyampaikan pidato tertulis adalah Wapres. "Kalau ada pemberitahuan, pasti beliau tidak akan pernah menolak," katanya.
Sedangkan seorang peneliti pada Balitbang Hubungan Internasional Puslitbang Politik dan Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ganewati Wuryandari, menilai, sikap Wapres Megawati Soekarnoputri pada pembukaan KTT G-15 yang tidak beranjak dari tempat duduknya ketika Presiden Abdurrahman Wahid meminta membacakan pidato tertulis sangat disesalkan.
"Jika itu faktor kesengajaan yang dilakukan Megawati, itu tindakan yang amat disesalkan di sebuah forum dunia semacam itu," kata master hubungan internasional lulusan Universitas Monash, Australia itu ketika diwawancarai Antara di Jakarta, Rabu.
Menurut Ganewati Wuryandari, dari kasus tersebut memang dapat dimaknai pada dua perspektif. Pertama, dalam konteks manusiawi bisa saja memang terjadi kesalahan teknis.
Namun, pada perspektif kedua, sulit juga dihindari pemahaman bahwa kasus itu adalah faktor kesengajaan dengan merujuk pada konflik "domestik" antara Presiden dan Wapres. "Dua perspektif pemahaman semacam itu pemaknaannya tergantung kepada pihak-pihak yang memberikan tafsir," katanya.
Nilai tradisi
Presiden Gus Dur dan Wakil Presiden Megawati tiba di Ruang
Cendrawasih, Jakarta Convention Center (JCC) tiba di ruang Cendrawasih,
didampingi Menperindag Luhut B Panjaitan. Sebelumnya, telah tiba terlebih
dulu Menko Perekonomian Rizal Ramli, Menhan Mahfud MD, Menko Polsoskam SB
Yudhoyono, dan Menristek AS Hikam. Presiden Gus Dur yang didampingi
putrinya Yenni, mengenakan jas warna hitam. Gus Dur tampak tersenyum.
Wapres Mega yang mengenakan baju biru juga tampak tersenyum dan melambaikan
tangan kepada wartawan.
Dalam pembukaan KTT G-15 telah tiba sekitar 8 kepala negara. Di antaranya Presiden Venezuela Hugo Chavez dan PM Malaysia Mahathir Muhammad. Begitu tiba, Gus Dur duduk didampingi Mega di sebelah kirinya. Berada di sebelah kanannya, Hugo Chavez. Setelah itu, Presiden Gus Dur memberikan sambutan sekaligus membuka acara.
Dalam sambutan singkat tanpa teks, Presiden Gus Dur, menekankan perlunya negara-negara anggota G-15 untuk menjaga nilai-nilai tradisi bangsanya, dan lebih mempererat kerja sama dengan sesama negara anggota.
Ia mengatakan, cukup banyak yang telah dicapai oleh negara-negara G-15, namun masih harus mengatasi berbagai kesulitan sesuai dengan tema KTT G-15 kali ini, yaitu memanfaatkan potensi era teknologi informasi dan komunikasi untuk pembangunan.(ant/dtc)