Pengalaman Romo Sandy yang dituturkan kembali dalam sebuah kesempatan di Yogya pekan lalu itu, tampaknya menggambarkan sikap aparat keamanan dalam menghadapi kasus tersebut. Itu sebabnya, mengapa hingga kini penyele- saiannya masih berlarut, bahkan pemerintah tampaknya enggan mengurusi soal satu ini.
"Mana buktinya? Ada bukti ada kasus," itu barangkali alasannya. Arti- nya, korban perkosaan masal itu harus datang ke kantor aparat lalu bilang begini: "Lapor Pak. Saya digituin oleh sekian orang. Nih buktinya," (sambil menunjukkan bukti fisik, atau mungkin hasil visum), baru bisa diproses. Ab- surd!
Baru sekitar dua bulan kemudian Menteri Urusan Peranan Wanita sebagai wakil dari pemerintah menyatakan, pihaknya tak perlu lagi menunggu bukti- bukti konkret dari para korban. Lalu?
Padahal, pornografi politik seperti itu -- sejauh hasil investigasi para relawan, (dan anehnya, penyidik seperti tak melakukan tugasnya menginvestigasi masalah ini) -- betul-betul ada. Korbannya bertebar di sana-sini dengan derita jiwa yang hanya bisa dirasakan mereka sendiri.
Taty Krisnawati dari Solidaritas Perempuan dalam suatu kesempatan kepada Bernas menyebutkan, jumlah korban kekerasan seksual dari aduan yang masuk ke kelompok relawan hingga awal Juni sudah mencapai sekitar 140 orang.
Sekitar 60 korban positif diperkosa, sisanya mengalami pelecehan seksual. Catatan itu juga menyebut korban hampir seluruhnya perempuan keturunan Cina dalam rentang usia antara 10-55 tahun.
Dr Karlina Leksono, aktivis Suara Ibu Peduli, mengatakan apa yang dialami para korban perkosaan sekarang ini adalah ketakutan dan keterasing- an. Hanya satu yang kini masih bisa dilakukan para korban, yakni menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari segala sesuatu yang bisa mengingatkannya pada peristiwa traumatis itu.
Itu sebabnya, sebuah keluarga Cina di bilangan Jalan Daan Mogot Jakarta Barat kini hengkang ke Australia. Ketika huru-hara meledak, 13 Mei lalu, tiga putrinya yang masih remaja diseret massa ke bak truk yang ter- parkir tak jauh dari rumahnya. Di sana ketiganya digilir semalam suntuk! Peristiwa lain, penghuni sebuah pondokan yang hampir seluruhnya ga- dis-gadis muda keturunan Cina, di Tangerang terjebak kebakaran saat keru- suhan meletus. Mereka disuruh keluar oleh massa. Begitu keluar, langsung ditelanjangi secara paksa dan dilecehkan. Insiden ini baru dilaporkan ke Tim Relawan tiga hari setelah kejadian.
Dari sini pula tim mulai turun melakukan investigasi. Hasilnya -- setelah dua pekan mendatangi berbagai kawasan yang dirusuh -- ternyata pelecehan dan perkosaan itu terjadi dengan pola yang hampir sama.
Kepada majalah D&R, Romo Sandy pernah memaparkan hasil temuannya. Seorang Bapak yang menemuinya di gereja, tak mampu bicara saat ditanyai. Lelaki itu hanya minta secarik kertas untuk menceritakan -- lewat tulisan tangan -- mengenai apa yang ingin dikemukakannya. Ternyata, istrinya tewas setelah diperkosa beberapa orang persis di depan matanya pada saat kerusuhan meletus.
Di Grogol, seorang mahasiswi keturunan Cina yang terjebak kerusuhan sepulang kuliah, dirayah massa. Pakaiannya ditarik-tarik hingga tercabik- cabik, tubuhnya digerayangi tanpa ampun.
Di kawasan Jembatan Lima Jakarta Barat, seorang Bapak satu anak kini setengah gila. Saat pecah kerusuhan, ia dipaksa massa 'memperkosa' anak ga- dis satu-satunya. Lebih kejam lagi, perkosaan itu dilakukan tepat di depan mata istrinya.
Kejadian lain di sebuah kantor bank swasta di kawasan Jakarta Utara. Kantor bank ini dimasuki sekitar 10 perusuh saat kerusuhan meletus, karya- wati yang keturunan Cina dipaksa menari telanjang. Kini, salah satu korbannya jadi penghuni rumah sakit jiwa karena tak kuat menanggung beban.
Ternyata, kasus perkosaan masal ini tak semata terjadi pada saat rusuh. Peristiwa-peristiwa serupa, susul menyusul, dan yang terakhir didapat datanya adalah insiden yang terjadi 20 Juni dan 2 Juli lalu sebagaimana dilaporkan kepada Romo Sandy (Bernas, 9/7).
Karena itulah, Sandyawan yakin bahwa perkosaan atau kekerasan seksual ini dilakukan untuk menciptakan teror. Perkosaan macam ini bukan bagian konflik horisontal yang diawali sentimen rasial, melainkan konflik vertikal serta politik kekerasan menyangkut elit politik yang menuntut jatuhnya korban di pihak rakyat.
Demikian sistematis, maka awam pun sulit membedakan apakah ini kejahatan biasa yang berlangsung spontan, atau bagian dari teror yang sengaja diciptakan dengan kaum keturunan Cina sebagai kambing hitam.
Sandyawan begitu yakin pada sinyalemennya, setelah mengalami sejumlah peristiwa yang menimpanya sendiri. Misalnya, ketika ia menghadiri sebuah pertemuan di Katedral Jakarta beberapa hari setelah kerusuhan meletus.
Ada tiga peserta pertemuan yang menurutnya, mencurigakan. "Lucunya, dalam situasi semacam ini, salah satu dari mereka masih bertanya soal keterlibatan saya dalam PRD. Selain itu, sebelumnya ia panggil saya Romo, tapi kemudian memanggil saya Pak Romo. Saya langsung mengatakan, 'Saudara intel ya!' Ia kaget lalu duduk dan ketawa. Forum pun ikut ketawa," ujar Sandy.
Ketika dia keluar, lelaki tadi ikut keluar dan berdiri di samping kanannya sambil berkata: "Pak Romo saya ini bukan intel, tapi salah satu komandan dalam kerusuhan kemarin. Sayalah yang merekrut 60 personel dari berbagai angkatan. Kalau Pak Romo butuh, daftarnya masih ada di laptop saya!"
"Ia terus berkata, 'Saya memang ingin menghabiskan Cina-Cina ini. Saya bisa memperkosa cewek Cina ini nanti malam. Perkara membunuh Pak Romo itu perkara gampang!' Dia bilang begitu di hadapan saya," tutur Sandyawan.
Terlepas dari siapa sebenarnya orang itu, fakta ini tak bisa dianggap sepele. Bagi Sandyawan, kejadian itu merupakan teror paling gamblang yang pernah dialaminya.
Selain itu, bisa juga memberi indikasi bahwa penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, kerusuhan dan perkosaan masal terhadap perempuan Cina adalah kerja sistematis dari satu kelompok yang memang punya kekuasaan. (ff)