Gus Dur: Mereka Ingin Saya Jatuh

* Sekjen DDII: Gus Durlah yang Cari Penyakit

JAKARTA - Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai, aksi sejuta ummat di Monas, sehari sebelum Lebaran, merupakan aksi unjuk kekuatan guna menjatuhkannya dari kursi kepresidenan. "Mereka ingin unjuk kekuatan dan memaksa saya berhenti dari jabatan presiden. Mereka cari penyakit," ujar Gus Dur.

Pernyatan ini dikemukakannya pada acara halal bihalal dengan pengurus Yayasan Assyuryaniyah Attahiriyah dipimpin Dra Hj Suryani Taher di Bina Graha, Selasa (11/1).

Namun pernyatan ini langsung disambar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Hussein Umar, yang saat itu ikut melakukan orasi membakar massa. "Gus Durlah selama ini yang cari penyakit. Pernyataan Gus Dur sangat tidak arif sebagai presiden dan bisa mencemaskan banyak pihak," kata Hussein, Selasa (11/1).

Sementara Sekjen DPP PPP, Alimarwan Hanan SH buru-buru menepis tudingan Gus Dur, bahwa partainya sama sekali tak berniat menjatuhkan presiden. Pernyataan ini dikemukakan Alimarwan karena Ketua Umum DPP PPP Hamzah Haz, ikut hadir pada aksi massa itu.

Menurut Gus Dur, seruan untuk aksi unjuk rasa berkait masalah Ambon —yang juga dihadiri Amien Rais dan Hamzah Haz— hanya didatangi kurang dari 20.000 umat.

"Kalau mau terus terang, kekuatan bukan berada di tangan mereka yang berkumpul di Monas. Mereka tak ada apa-apanya. Justru yang mayoritas itu adalah PDI Perjuangan. Mereka (yang di Monas) adalah kelompok-kelompok kecil, jadi tak ada artinya," kata Gus Dur.

Dikemukakan presiden, aksi itu tak menjadi masalah sepanjang menyangkut perbedaan pendapat. Di Indonesia, hal itu bebas-bebas saja. Namun kalau sudah sampai pada persoalan mewujudkan (pendapat itu) dalam kegiatan, maka persoalannya akan lain.

Gus Dur memberi contoh tindakan tegasnya terhadap sekitar 400 orang yang berencana jihad ke Ambon dengan kapal laut dari Tanjung Priok. Berkait itu, dia telah meminta Kapolri Letjen Pol Rusdihardjo dan Panglima TNI Laksamana TNI Widodo AS mengkarantina kapal-kapal yang masuk ke Maluku dan merampas senjata yang dibawa penumpang serta menahan pemiliknya.

"Saya ndak peduli, Islam nggak Islam, Kristen nggak Kristen, kalau (senjata-senjata itu) ada pemiliknya, maka mereka akan ditangkap. Siapa saja harus kita tangani," tandas Gus Dur.

Gus Dur menegaskan, selama ini dia menentang seruan jihad ke Maluku karena hal itu justru akan mengancam keselamatan negara dan tatanan sosial yang ada.

"Saya tak peduli mau jihad atau mau jahid, mau apa saja, pokoknya jika mengancam keselamatan negara akan kita ambil tindakan," tegasnya.

Karena itu, sambung Gus Dur, dia akan terus mengusut dan melacak siapa saja yang melakukan seruan jihad ke Maluku. Seruan jihad dalam sepekan belakangan terus dikumandangkan di Jakarta. Di beberapa tempat dibuka semacam posko untuk pendaftaran jihad.

Gus Dur mengatakan, dia ingin menyelesaikan persoalan dengan pekerjaan bukan dengan ribut-ribut. Sebab, kalau diselesaikan dengan ribut maka persoalannya tidak akan bisa selesai.

"Kita sudah capek, ribut-ribut, dua tahun juga ggak kelar-kelar," tandas Gus Dur.

Hussein Umar menuding Gus Dur tidak arif. Ia menunjuk pada ucapan-ucapan Gus Dur yang, menurtnya, selalu nyleneh dan kontroversial. "Pidato Gus Dur saat acara Natal bersama misalnya, saat ini masih jadi perbincanagan serius di kalangan para dai di masjid dan mushala. Pidato-pidato seperti itulah yang mencari penyakit," katanya.

Tudingan Gus Dur terhadap massa yang hanya berjumlah sekitar 20 ribu orang itu juga disayangkan Hussein. "Saya tidak memahami apabila presiden Gus Dur mengatakan 20 ribu," tegas Hussein. Menurut Hussein, lautan manusia saat itu memadati seluruh silang Monas. Panggung berada di tengah, sementara lautan manusia mengelilingi panggung itu.

Hussein mengharapkan Gus Dur supaya tidak berbicara nyleneh. Hussein memperkirakan, jika Gus Dur bukan kiai, sudah habislah riwayatnya Gus Dur sebgai presiden. "Sangat sulit untuk membayangkan reaksi masyarakat," tegas Hussein.

Di tempat terpisah, Sekjen DPP PPP, Alimarwan Hanan SH mengatakan, Kehadiran Ketua Umum DPP PPP, Hamzah Haz dalam acara sejuta umat di Monas tidak bermaksud untuk menjatuhkan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Kehadiran beliau di Monas karena kesadaran untuk menindaklanjuti tuntutan masyarakat yang menginginkan terbentuknya partai Islam," ujarnya, Selasa (11/1).

Ia menambahkan, keinginan masyarakat agar ada partai Islam itu tidak ada hubungan dengan orang lain. "Jadi, ya Gus Dur jangan punya pemikiran seperti itu, apalagi membanding-bandingkan dengan pendukung partai berazas Islam begitu," ujar Ali.

Menurutnya, Poros Tengah tidak punya konflik dengan Gus Dur, karenanya Gus Dur jangan justru membuat konflik. Tapi sesuai induk organisasi, kata dia, maka melalui anggota-anggotanya di DPR maupun MPR melakukan kontrol terhadap pemerintahan. "Tak ada jatuh menjatuhkan, tapi kalau kontrol kritis memang. Itu juga dilakukan terhadap orang-orang Poros Tengah di pemerintahan," papar Ali.

Yang terpenting, menurut Ali, Gus Dur jangan banyak membuat pernyataan yang bisa membuka konflik. "Biar para pengamat saja yang tugasnya membuat statement," kelakarnya.

Mengenai ajakn jihad ke Ambon, ia mengaharapkan tidak dipandang dari sisi negatif. Jihad itu, kata dia, merupakan pressure terhadap pihak-pihak terkait agar cepat menyelesaikan konflik di sana. sry/dtk


Wednesday January 12, 2000 12:14:34 PM

Berita Hari ini