135 Warga Trans Dibantai

TERNATE - Sedikitnya 135 warga transmigran asal Jawa Barat dan Jawa Timur yang menempati Desa Sukamaju dan Desa Togoli, eks Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Piduwang Kecamatan Tobelo, dilaporkan tewas dalam kerusuhan bernuansa SARA 31 Desember lalu di Pulau Halmahera (Maluku Utara).

Demikian laporan Kantor Berita Antara dari Ternate, Rabu (12/1), mengutip kesaksian salah seorang transmigran yang berhasil menyelamatkan diri. Ke-135 warga yang dibantai itu, 30 orang di antaranya asal Desa Sukamaju, sisanya asal Desa Togoli.

Sementara itu sekitar 757 jiwa atau 300 KK warga eks UTP Piduwang menyelamatkan diri ke hutan, akibat kerusuhan di Halmahera Utara, Rabu (12/1) dievakuasi oleh kapal perang milik TNI-AL KRI Teluk Langsa ke Ternate.

Satu di antara pengungsi ini adalah Endang (37), transmigran asal Sukabumi (Jawa Barat). Saat turun KRI Teluk Langsa di Ternate, kemarin, ia mengatakan kemungkinan jumlah warga transmigran yang korban lebih banyak lagi, karena saat mereka dibantai di lokasi pemukiman, warga lainnya telah melarikan diri ke hutan belantara Halmahera. Warga yang tewas itu umumnya anak-anak dan kaum perempuan.

Sampai 12 Januari, menurut perkiraan Pemda Maluku Utara, gelombang pengungsi yang meninggalkan Kecamatan Tobelo dan Galela Pulau Halmahera bagian utara tujuan Ternate itu sekitar 50.000 orang. Kekerasan di Kecamatan Tobelo dan Galela membuat ratusan etnis Jawa tercabut dari tempat tinggalnya.

Menurut Endang, mereka terpaksa meninggalkan rumah, harta benda dan ladang tempat menggantungkan hidup mereka. Anak-anak pun dipaksa menyaksikan kekerasan, penyiksaan dan pembantaian.

Peristiwa pembantaian di lokasi eks UPT Piduwang-Tobelo itu juga dibenarkan Salim (39) asal Banyuwangi (Jawa Timur). Ia mengatakan belum ada angka pasti berapa dari warga trans itu, perempuan dan anak-anak yang jadi korban.

"Yang jelas korban tewas dalam kerusuhan di Tobelo dan Galela itu lebih dari 135 orang, karena yang baru diketahui 30 di Desa Sukamaju, belum termasuk di Togoli dan Desa Kusuri, sekitar 35 km dari kota Tobelo," katanya.

Salim yang juga ketua gelombang pengungsi itu mengatakan orang suku Jawa awalnya dilindungi "kelompok merah" dengan catatan harus melindungi rumah ibadah mereka.

"Kalian jangan macam-macam dan jangan membakar rumah dan harta orang Tobelo, karena yang kami cari adalah orang Makian, Bugis, Makassar, Buton, dan Tobelo Islam," ucapnya. Ternyata pada 30 dan 31 Desember, ribuan perusuh datang membabi buta di lokasi transmigran.

Endang dan Salim mengatakan, untuk kembali lagi ke lokasi pemukiman (Desa Sukamaju) sudah sangat berat, karena ternak sapi, kambing, dan hasil pertanian telah dijarah.

Babinsa yang bertugas di kedua desa eks UPT Piduwang-Tobelo Serka Rakiba Hatta membenarkan tragedi pembantaian di Kecamatan Tobelo Pulau Halmahera Utara. Rakib mengatakan saat terjadi peristiwa tersebut, ia sedang ke kantor Koramil.

Setelah dilaporkan bahwa di kedua desa binaannya terjadi kerusuhan besar-besaran, ia buru-buru kembali. Pada saat tiba di Desa Sukamaju dan Togoli ia dihalau oleh ribuan massa menggunakan pita merah di kepala. "Karena tidak ada aparat keamanan dan tidak memiliki senjata, maka saya hanya menjadi penonton dalam pertikaian itu," katanya.

Komunikasi dan transportasi yang menghubungkan dari dan ke lokasi pemukiman terputus sehingga ia tidak tahu peristiwa di sana. Sebagian warga telah menjadi korban kerusuhan yang saat ini menjalar ke semua desa di Tobelo.

Antara melaporkan kerusuhan di Maluku Utara tak kunjung berhenti, setelah Ternate dan Tidore telah reda kembali. Pada Senin-Selasa sekitar pukul 11.30 WIT kerusuhan menjalar kembali di Kecamatan Jailolo dan Sahu.

Korban Buru

Dari Ambon dilaporkan, sekitar 300 jiwa dari 800 warga Desa Wayula dan Batlale, Kecamatan Buru Utara bagian Barat, Kabupaten Buru yang menyelamatkan diri dari penyerangan kelompok massa tertentu akibat pertikaian bernuansa SARA, 22 dan 23 Desember 1999 telah turun dari hutan Pulau setempat.

Wagub Maluku Bidang Kesra, Paula Renyaan, Rabu, mengatakan, berdasarkan laporan Penjabat Bupati Buru, Dudy Sangadji SH, 300 jiwa itu telah turun dari hutan, Rabu pagi dan telah berada di KM 53. "Dengan demikian, masih ada sekitar 500 orang yang harus dicari dan diselamatkan," katanya.

Ia menambahkan, jumlah pengungsi di Namlea saat ini sekitar 1.300 orang, belum termasuk 300 lainnya yang baru turun gunung, sedangkan yang telah dievakuasi ke Ambon sebanyak 2.750 jiwa.

Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Surasmin mengatakan militer belum saatnya memberlakukan jam malam di Maluku Utara, meski situasi keamanan di beberapa kecamatan di daerahnya masih mencekam.

Situasi keamanan di Kotamadya Ternate kini telah pulih kembali setelah ribuan pengungsi dievakuasi kapal perang milik TNI-AL, katanya di Ternate, Rabu. sry/ant


Sunday January 17, 1999 09:54:38 AM

Berita Hari ini