"Provokatornya Pensiunan TNI"

JAKARTA- Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai terang-terangan menyebut siapa-siapa yang berada di balik kerusuhan di Maluku dan Aceh. Ditegaskannya, provokator atau dalang kerusuhan dilakukan kelompok Islam fanatik dan para pensiunan tentara (TNI).

"Bagi saya, ini sangat penting artinya karena para provokator itu berasal dari para pensiunan tentara, dan sebagian lainnya dari kelompok Islam fanatik," ujar Gus Dur dalam sebuah wawancara khusus dengan wartawan AFX Asia, AFP, USA Today, yang dimuat Straits Times edisi Selasa (18/1)

Gus Dur menambahkan, kedua kekuatan itu telah mengeksploitasi konflik Islam-kristen di Maluku hingga menjadi berkepanjangan . Presiden berharap, kerusuhan di Maluku dan gerakan sparatis di Aceh bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Meski dia sadar, bahwa pemecahan masalah Aceh dan Maluku dengan melakukan kunjungan ke kedua tempat itu.

"Saya tahu, beberapa bulan mendatang problem itu akan terpecahkan," kata Gus Dur.

Ia menambahkan, perwakilan masyarakat Aceh dan lembaga lainnya menyatakan padanya bahwa persoalan Aceh mendekati penyelesaian. Tapi di Ambon, tambah Gus Dur, jawaban kongkret dengan mengganti beberapa pejabat lokal, dan Gus Dur mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah untuk maksud itu.

Diakui, banyak persoalan di daerah, seperti di Maluku, merupakan imbas kepentingan politik berbagai kelompok di Jakarta. "Itu serius, dan saya tahu persis akan hal itu. Sebab, laporan itu datangnya dari Ambon yang menyatakan, perselisihan itu dimulai bukan oleh orang Ambon asli tapi oleh orang yang datang dari Jakarta," tandas Gus Dur.

Sementara itu, Kepala Staf Teritorial (Kaster) Letjen TNI Agus Widjaja mengaku tidak tahu asal data yang digunakan sosiolog UI, Tamrin Amal Tamagola, sehingga menyebut sedikitnya ada lima nama menjadi tokoh utama dibalik kerusuhan di Maluku.

"Saya tidak tahu, beliau dapat sumber dari mana dan apa data-data pendukungnya. Tapi kami tidak punya data-data yang sama dengan beliau," ujar Letjen Agus seusai dialog tentang "Nasionalisme Indonesia dan Tantangan Abad XXI" yang digelar Indep di Hotel Sari Pasifik Jakarta, Selasa (18/1).

Namun, ia tidak menjawab secara tegas apakah perlu ada klarifikasi. "Itu bagian dari komunikasi terbuka supaya tahu mana benar dan tidak," ujarnya.

Dalam sebuah wawancara, Tamrin Amal Tomagola mengatakan, lima tokoh utama dalam kasus Maluku adalah, Jenderal Wr, tokoh pemuda Yr, mantan guru di Ternate, BS, dan Kol (pur) DW yang kini dikabarkan melarikan diri ke Belanda.

Kadispen Polri, Brigjen (Pol) Erald Dotulong juga mengaku tidak tahu dengan lima nama yang disebutkan Tamrin Amal Tomagola.

"Kalau provokator lokal banyak yang sudah ditangkap. Tapi kalau provokator yang dikatakan dari Jakarta, terus terang Polri kesulitan membuktikan. Kan tidak bisa asal tangkap, tapi perlu bukti-bukti," ujar Kadispen.

Sementara itu, Jenderal Wiranto menolak tuduhan bahwa dia merupakan titik simpul kerusuhan di Maluku, seperti yang dilontarkan Tamrin Amal Tamagola dalam wawancara radio maupun jumpa pers di Kantor Kontras Jl Diponegoro Jakarta.

Namun Wiranto lebih memilih diam, termasuk ketika sejumlah wartawan berusaha meminta konfirmasi berkait berita yang dilansir Kyodo, tentang keinginan Gus Dur mencopotnya. Gus Dur sendiri telah membantah isu tersebut.

Sebuah sumber menyebutkan, Wiranto berkait isu tersebut, termasuk isu kudeta, telah mengklarifikasi berita tersebut kepada Gus Dur dan mendapat jawaban berulang kali bahwa tidak perlu menggubris isu tersebut. mas/aw


Saturday January 23, 1999 11:21:02 AM

Berita Hari ini