Gus Dur Rombak Kabinet?

* Mega Belum Juga Pulang

JAKARTA - Sampai Sabtu (1/12) belum ada tanda-tanda bahwa Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri akan pulang ke Indonesia. Padahal Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah memerintahkan Menlu Alwi Shihab untuk meminta Megawati pulang ke Indonesia Sabtu (1/1) karena akan ada kebijakan pemerintah yang amat penting.

Menurut Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, Ade Komaruddin, Gus Dur memanggil Wapres Megawati pulang dari Hong Kong, karena akan ada pergantian sistem pemerintahan."Saya dengar sih terkait dengan rencana perombakan (reshuffle) kabinet, ada beberapa menteri yang akan diganti dan tentunya itu akan dibicarakan dahulu dengan wakil presiden," kata Ade.

Menurut informasi yang dia dengar, menteri-menteri yang akan diganti itu antara lain menko polkam, menaker, menperindag dan sekneg. Bahkan panglima TNI kabarnya juga akan diganti.

Calon-calon menteri yang akan menggantikannya juga sudah disiapkan. Menhankam Juwono Sudarsono konon akan naik ke kursi menko polkam. Lalu, salah satu wakil sekjen Golkar ada yang akan ditarik menggantikan menaker sekarang, Bomer Pasaribu, di samping satu kandidat lain. "Kepastiannya akan diumumkan seusai lebaran, tapi kemungkinan akan dipercepat lagi," papar Ade.

Yang menarik, jabatan menperindag konon akan dialihkan kepada Rozi Munir yang dikenal sebagai salah satu pengurus NU. Bila hal ini benar, maka akan menambah daftar delapan menteri yang berasal dari kalangan NU.

Sementara, yang agak mengherankan, Sarwono Kusumaatmaja akan didudukkan sebagai sekneg. Belum jelas apakah jabatannya sebagai menteri kelautan akan dilepas atau tetap dipercayakan kepadanya. Adapun untuk jabatan panglima TNI, bila benar akan diganti, Agum Gumelah-lah nama yang tampaknya dipersiapkan.

Apakah kabinet yang sudah terbentuk dan bekerja selama ini belum menunjukkan hasil yang diharapkan? "Sebenarnya terlalu dini untuk menyimpulkan begitu, terlalu gegabah kalau mereka sudah langsung divonis berhasil atau gagal, tapi kalau maunya Presiden Gus Dur begitu, ya silakan, kita lihat saja nanti," ujar Ade.

Pasalnya, DPR memang tidak bisa ikut campur dalam urusan pembentukan kabinet. Itu sepenuhnya hak prerogatif presiden. "Lebih-lebih Gus Dur itu kan nggak bisa dikritik, kurang bisa mendengarkan orang lain," ujar Ade sebagaimana dilansir Detikkom Digital Life, Sabtu (1/1).

Bukan kejutan

Kabar akan adanya perombakan kabinet ini tidak mengagetkan Andi Mallarangeng, pengamat politik. "Selama ini Gus Dur sudah memberikan tanda akan mengganti satu dua menteri," sambung anggota KPU ini Sabtu (1/1).

Andi menandaskan, perombakan kabinet itu terpaksa dilakukan karena dia melihat bahwa kinerja pemerintahan selama ini belum mencapai harapan. "Saya sejak dulu memperkirakan akan ada perombakan kabinet pada 100 hari pemerintahan Gus Dur. Tapi sekarang belum 100 hari sudah ada. Meski begitu, saya tidak surprise," tandas pria ini.

"Pemerintahan sekarang belum berfungsi, ada kelambanan. Saya tidak mempersoalkan pergantian itu. Cuma masalahnya, apa penggantinya bisa bertindak cepat atau tidak. Pemerintahan akan tetap lambat kalau pengganti menteri itu masih juga butuh pembelajaran, tidak tahu operasional bidangnya. Karena itu, penggantinya harus lebih baik," tutur Andi Mallarangeng.

Andi Mallarangeng berpendapat, kalau perobakan ini benar terjadi, jangan menggunakan alasan politis. "Kalau menteri diganti karena alasan politis, itu tidak akan memperbaiki kedaaan. Jadi sebaiknya alasan performance. Kalau alasan politis, akan memperuwet masalah. Kita tak tahu bagaimana reaksi parpol," kata Andi Mallarangeng.

"Misalnya kalau ada menteri dari Golkar yang duganti, maka Golkar akan menyatakan diri sebagai oposisi. Ini akan jadi tantangan berat bagi pemerintah," sambung Andi.

Andi juga menilai bahwa kabinet kompromi yang selama ini dipegang Gus Dur, bukanlah kabinet yang efektif. "Kabinet kompromi mempengaruhi kinerja pemerintah. Kalau tidak efektif, maka perlu resuffle," ujar Andi lagi.

Tentang Jenderal Wiranto yang juga dikabarkan akan diganti, Andi Mallarangeng mengaku baru mendengar. Pasalnya, Wiranto selama ini dikenal juga sebagai salah satu orang yang turut membentuk pemerintahan.

"Wiranto ikut memberi jaminan terhadap beberapa orang yang jadi menteri. Jadi alasan apa untuk mengganti Wiranto, masih sulit," kata Andi.

Dikatakan, Wiranto kalaulah di-reshuffle, itu berkaitan dengan tuduhan pelanggaran HAM di Timtim. "Tapi kan itu belum terbukti. Belum jelas. Jadi alasannya saya tidak tahu mengapa nama Wiranto masuk. Menurut saya, dari segi performance, Wiranto masih dibutuhkan pemerintah," tandas Andi.

Andi juga memandang bahaya tersendiri bila Panglima TNI juga diganti. "Panglima masih baru. Maka akan timbul gejolak. Karena itu, saya skeptis kalau ada pergantian itu," demikian Andi Mallarangeng.

Kapan Mega tiba

Tentang kapan Mega tiba kembali di tanah air, salah seorang petugas di kediaman resmi wapres, menyatakan, Megawati akan kembali ke Indonesia Minggu (2/1). Menurut Yoyo --petugas tersebut-- hal itu sesuai dengan susunan jadwal yang telah dibuat sebelumnya.

Sementara itu, ketika rumah Megawati di Kebagusan dihubungi via telepon, salah seorang pembantunya juga menyatakan hal yang sama. "Ibu masih di luar negeri. Hari Minggu baru pulang," jelasnya. Pembantu itu juga menceritakan bahwa kepergian Megawati ke Hong Kong itu bersama suami, anak-anak dan menantunya.

Sementara itu, kritikan keras terhadap Megawati yang dinilai tidak becus menyelesaikan masalah di Maluku yang menjadi tanggung jawabnya membuat orang-orang dekat Mega kebakaran jenggot.

Kepada pers di Jakarta, Jumat (31/12), anggota DPR dari FPDI Perjuangan Sabam Sirait dengan berang mengatakan, kepergian Mega itu bukan untuk berlibur tapi memang ditugasi presiden untuk melakukan lobi-lobi kalangan pengusaha di sana untuk berinvestasi di Indonesia. dwi/dtk


Sunday January 02, 2000 04:14:32 PM

Berita Hari ini