JAKARTA- Para jenderal kembali harus meyakinkan kepada semua pihak bahwa tidak akan ada kudeta terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Bahkan Panglima TNI Laksamana Widodo - KSAD Jenderal Tyasno Sudarto- KSAU Marsekal Hanafie Asnan- KSAL Laksamana Achmad Sutjipto, saling mengikrarkan janji bahwa tidak ada kudeta.
Ikrar para jenderal yang berlangsung di ruang Komisi I DPR RI, Kamis (20/1). Lima jenderal pemegang komando angkatan itu berpelukan setelah berbicara dengan anggota Komisi I DPR-RI membahas berbagai masalah keamanan.
Panglima TNI Laksamana Widodo meminta semua rumor dan isu akan adanya kudeta militer dihentikan, sebab seluruh jajaran TNI/Polri tidak ada pemikiran melakukan hal itu. "Saya minta rumor dan isu kudeta itu dihentikan," kata panglima usai pertemuan.
Ketua Komisi I Yasril Ananta Baharuddin, kepada pers, usai pertemuan mengatakan, "para petinggi TNI menyatakan tidak akan kudeta dan janji itu disampaikan di depan wakil rakyat. Kita akan memegang janji mereka,"
Pihaknya memanggil para jenderal itu guna menanyakan dua hal. Pertama, berkati rumor kudeta yang dijawab bahwa tidak ada niat TNI melakukan kudeta. "Mereka juga berjanji akan membuktikan bahwa tidak ada langkah ke arah sana," kata Yasril.
"Ditegaskan mereka, secara institusi, mereka tidak akan melakukan kudeta. Kalau ada oknum yang melakukan hal tersebut, akan ditindak tegas," sambung Yasril mengutip janji para jenderal.
Sedang pertanyaan kedua soal perkembangan politik dan keamanan terakhir seperti di Aceh, Maluku, Mataram dan Makasar.
Hal lain yang juga ditanyakan apakah apa benar ada keterlibatan militer dalam rusuh Mataram dan Maluku.
"Kita memang tanya itu pada mereka. Dikatakan bahwa ada satu orang ditangkap di Mataram. Dia adalah orang yang memberi ceramah dalam rapat akbar. Dia adalah Dekan Fakultas Hukum," jawab Yasril yang terlihat kesulitan menjawab serangan pertanyaan belasan wartawan yang bertubi-tubi sehingga tidak dijelaskan dari universitas mana dekan itu berasal.
Para jenderal juga menjelaskan bahwa dalam kerusuhan di Makasar dan Mataram, ditangkap puluhan orang. "Sekitar 20-an orang sedang dalam proses," kutip Yasril.
Sementara itu KSAD Jenderal TNI Tyasnio Sudarto dicegat wartawan usai pertemua itu, mengatakan, "Nggak, nggak akan ada kudeta,"
Benar itu, Pak? "Benar, sungguh-sungguh. Itu jaminannya saya sendiri," kata Tyasno tangkas.."
Dikatakannya, Panglima TNI bersama pimpinan keempat angkatan sudah menemui Presiden Gus Dur dan menegaskan tidak benar TNI akan melakukan kudeta.
Jenderal Tyasno Sudarto mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mempercayai rumor tersebut, karena bisa melemahkan bangsa Indonesia dan pemerintahan ini dalam rangka pembangunan. Jangan percaya! Jaminannya saya," tandas mantan Pangdam Diponegoro in i lagi..
Tyasno menegaskan, yang penting sekarang masyarakat jangan terpengaruh isu soal kudeta itu. "Semua itu intinya hanya akan melemahkan Bangsa Indonesia dan pemerintah," ujar Tyasno
Australia intervensi
Lebih lanjut Yasril mengatakan, Panglima TNI Laksamana TNI Widodo mengakui bahwa pesawat Hercules milik Australia melakukan intervensi dengan masuki ke wilayah Indonesia.
"Mereka (jajaran TNI/Polri) sudah tulis surat protes ke departemen luar negeri, karena itu kita desak departemen luar negeri untuk segera memanggil Dubes Australia guna mengklarifikasi masalah ini."
Lebih lanjut Panglima Widodo mengatakan, pertemuan tersebut untuk mencermati perkembangan situasi saat ini yang menonjol dan diwarnai aksi-aksi melibatkan massa sebagai refleksi solidaritas emosional peristiwa-peristiwa di Maluku.
Menurut Panglima, solidaritas emosional bila dilampiaskan dalam bentuk kekerasan seperti di Mataram dan sebagainya menjadikan situasi tidak menguntungkan dan menyulitkan penyelesaian lanjutan.
"Kita sepakat dengan Komisi I untuk mengupayakan dan mengimbau berbagai pihak, agar solidaritas emosional diwujudkan dalam bentuk konstributif untuk bisa menyelesaikan Maluku secara umum," pinta Panglima Widodo.
Apakah kegiatan pengeraham massa perlu dilarang? "Saya ingin sampaikan, kita sangat cermati konsentrasi massa dan bila tak terkendali akan menyebabkan hal tak diinginkan, seperti perkembangan dari Mataram yang sudah mengarah pada tindakan kriminal, penjarahan," tuturnya.
Mengantisipasi ke depan, menurut Panglima, seluruh jajaran TNI/Polri di daerah perlu melakukan dialog dengan tokoh setempat guna mencegah konsentrasi massa agar tidak terjadi perkembangan situasi yang menyulitkan.
Menjawab soal Mataram, Panglima mengatakan sudah ada beberapa yang ditahan. Mereka yang ditahan ini karena sebagai koordinator lapangan. "Laporan yang diberikan Kapolri begitu, coba cross cek ke Kapolri," pintanya.
Kapolri Letjen (Pol) Rusdihardjo ketika dicegat tak bersedia memberikan keterangan. "Dalam pertemuan ini, semua satu pintu dan silakan ke Panglima," pinta Kapolri. aw/sji/sry/dtk
updated: Monday, January 25, 1999 12:17:54 PM