Mega: Tak Ada Gunanya ke Sini ...

* Disambut Bom di Ambon

AMBON- Isu akan adanya kerusuhan saat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri tiba di Ambon, Senin (24/1) tak terbukti. Sebaliknya, kedatangan Megawati menjadikan suasana kota Ambon dan Maluku jauh lebih kondusif dari hari-hari biasanya.

Tiba bersama sejumlah menteri, Megawati di Bandara Pattimura langsung disambut Gubernur Maluku Saleh Latuconsina, Pangdam Trikora Brigjen Max Tamaela dan pejabat di daerah itu.

Beberapa jam sebelum Wapres Megawati tiba, warga kota Ambon sekitar pukul 11.30 WIT dikagetkan bunyi ledakan bom rakitan dari arah sekitar bekas kompleks pasar Gotong Royong. Namun ledakan bom rakitan itu tak meminta korban jiwa.

Begitu tiba, Wapres Megawati langsung meninjau sejumlah tempat, baik di kota Ambon, maupun di luar misalnya, ke Tual di Maluku Tenggara.

Saat kunjungannya di Tual, Maluku Tenggara, Megawati yang didampingi Menko Polkam Wiranto, Panglima TNI Laksamana Widodo AS, Menko Kesra Basri Hasanuddin, Meneg Otonomi Daerah Ryaas Rasyid, Menteri Permukiman Erna Witoelar, dan sejumlah pejabat lainnya juga mengadakan dialog dengan masyarakat Tual.

Dalam dialog dengan sekitar 50 ribu masyarakat Tual, Megawati mengajak masyarakat menjauhkan diri dari kekerasan sebab pada dasarnya ia sangat membenci kekerasan. Mega mengharapkan masyarakat Maluku untuk bisa dengan segera menyelesaikan sendiri masalahnya dan untuk itu ia juga ditugasi Presiden Abdurrahman Wahid untuk membantu menyelesaikan masalah Ambon.

"Untuk itu saya datang kemari membawa banyak rombongan, namun kalau sekiranya masyarakat Maluku tidak mau menyelesaikan sendiri masalahnya tidak ada gunanya saya membawa banyak rombongan kemari," kata Megawati.

Megawati pada kesempatan itu juga mendapat banyak aplus dari para pengungsi, dan kedatangannya ke Tual merupakan pejabat tinggi Indonesia pertama yang berkunjung ke tempat itu setelah 48 tahun yang lalu ayahnya Bung Karno bekerja ke sana.

Megawati berada di Maluku guna mencari penyelesaian masalah Maluku, dia mengunjungi Ambon, Tual, Ternate, dan Halmahera sebelum kembali ke Jakarta.

Dicegat 10 menit

Massa pengungsi dari Desa Lateri, Ambon, Senin malam selama sekitar 10 menit menghentikan iring-iringan kendaraan yang ditumpangi Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri dalam perjalanan dari Bandara Pattimura Ambon sekembali dari Tual guna mengunjungi pengungsi akibat kerusuhan di Maluku Tenggara.

Sekelompok pengungsi yang bergerombol di jalan raya yang menghubungkan bandara dengan kota Ambon itu setelah berhasil menghentikan konvoi kemudian menyerahkan bunga sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun kepada Megawati yang hari Minggu (23/1) merayakan ultahnya ke-53.

Penghentian konvoi yang dikawal panser dan pasukan lengkap bersenjata tersebut sempat membuat petugas keamanan bersiaga penuh dan berlari-lari mengamankan kendaraan Megawati karena suasana sangat gelap.

Massa pengungsi cukup banyak bergerombol di jalan raya yang banyak ditumbuhi pohon-pohon tersebut.Mereka menghentikan konvoi dengan menutup jalan beramai-ramai sekitar pukul 19.30 WIT.

Setelah Megawati menerima bunga yang disampaikan kepadanya, massa pengungsi membuka jalan sehingga rombongan Wapres secara perlahan-lahan bisa meneruskan perjalanan menuju kota Ambon.

Sambutan luar biasa juga diterima Megawati saat berkunjung ke Tual ibuota Kabupaten Maluku Tenggara. Puluhan ribu warga sangat merindukan kehadiran pimpinan nasional yang sejak kemerdekaan baru tercatat dua orang ke sana.

Kehadiran Wapres Megawati disambut histeris masyarakat yang tercatat pertama kali dikunjungi mantan Wapres Bung Hatta 1952, dan kerinduan mereka terobati setelah 48 tahun dengan hadirnya Megawati.

Mereka berjubel dari lapangan terbang Dumatubun hingga ke lokasi penampungan pengungsi di Mapolres, Lanal Tual dan lapangan upacara Lodar El tanpa menghiraukan hujan lebat yang menguyur.

Di perjalanan, masyarakat mengungkapkan luapan kegembiraan mereka dengan menyuguhkan berbagai tarian, karena memandang Megawati seperti "Dit Sakmas" (penguasa wanita) yang mencetuskan hukum Larwul Ngabal.

Masyarakat yang pernah dilanda kerusuhan bernuansa SARA 31 Maret tahun 1999 , yang sebenarnya telah menyadari tidak ada manfaat pertikaian itu, terlihat lupa bahwa pernah bertikai karena mengagumi tokoh nasional yang tercatat sebagai Wapres wanita pertama di Indonesia bersama suaminya Taufik Kiemas.

Kehadiran Wapres ini juga, dimanfaatkan masyarakat setempat yang terkenal kekentalan adatnya untuk melakukan upacara "Hawear" (tanda larangan) dengan tanda penyerahan anyaman daun kelapa oleh raja Dulah, Noho Renuat, kepada Wapres, Panglima TNI Laksamana Widodo AS untuk ditanam di lapangan upacara, menyusul pernyataan pemangku adat untuk tidak bertikai.

Hawear ini dimaksudkan, bila ada satu desa yang melakukan penyerangan terhadap desa lainnya maka akan terkena sanksi adat dan diserang beramai-ramai oleh desa-desa lainnya.

Pada kesempatan itu, ketiga pemimpin agama juga menyampaikan pernyataan dan harapan untuk penyelesaian pertikaian termasuk kegiatan rehabilitasi dimana salah satu diantaranya adalah penegakan hukum.

Wapres Megawati dalam kesempatan itu menyampaikan keharuannya melihat antusiasme masyarakat Maluku Tenggara sebagai wujud kerinduan mereka terhadap kehadiran pemimpin nasional yang selama 48 tahun tidak pernah berkunjung.

"Saya tak menyangka mendapatkan rahmat luar biasa bisa bertatap muka dan silaturahmi dengan masyarakat Maluku Tenggara, khususnya Tual," katanya.

Ia menyerukan masyarakat untuk tidak lagi melakukan pertikaian karena alangkah tidak bahagianya akibat dari tindak kekerasan itu, khususnya para ibu yang merupakan peserta terbesar dari puluhan ribu warga masyarakat yang membanjiri lapangan upacara Lodar El.

"Saya juga seorang ibu sangat benci kekerasan—anti kekerasan," tandas Wapres Megawati yang mendapat aplaus masyarakat. ant/sry


Tuesday January 25, 2000 10:38:19 AM

Berita Hari ini