Mega: Nabi Muhammad dan

Nabi Isa akan Marah Besar

AMBON- Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan kepedihannya yang mendalam ketika meninjau dua rumah ibadah terbesar di Ambon; Mesjid Raya Al-Fatah dan Gereja Maranatha, penuh bekas-bekas pembakaran. Kedua bangunan suci itu sendiri adalah pemberian Presiden Soekarno atas nama pemerintah Indonesia tahun 1954.

Bahkan, kata Megawati, "Kalau saja kedua nabi besar, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS datang ke Maluku ini, mungkin beliau berdua akan sangat marah besar. Sebab dari kedua ajaran nabi besar itu, sama sekali tak ada menebarkan permusuhan."

Pernyataan penuh nada kesenduan itu dikemukakan Wapres Megawati ketika mengunjungi dua rumah ibadah itu, Selasa (25/1).

Hadir dalam pertemuan itu Menko Polkam Wiranto, Panglima TNI Laksamana Widodo AS, Menko Kesra Prof Dr Basri Hasanudin, Menperkim Erna Witoelar, Men PUOD Prof Dr Ryaas Rasyid, Mentrans Al Hilal Hamdi, Kasal Laksamana TNI Achmad Sutjipto.

Lebih jauh Megawati menambahkan bapaknya yang juga Presiden pertama RI, Soekarno, akan menangis jika melihat masyarakat Maluku yang dulunya sangat dibanggakan dan disanjung-sanjung, terus berkelahi dan bertikai.

"Jika sekarang ini bapak saya ada, tentunya dia akan menangis dan marah besar karena masyarakat yang selama ini hidup rukun, terus menabur dendam dan kebencian di antara sesama umat beragama," cetus Mega dengan nada getir.

Mega menyatakan sangat terharu, bahkan meneteskan air mata ketika mendengar bahwa kedua tempat ibadah terbesar di Maluku itu, ikut jadi korban luapan emosi tak berdasar.

Menurut Mega dirinya banyak mendengar dari bapaknya maupun melihat sendiri kenyataan bahwa tradisi dan adat masyarakat Maluku, sangat memungkinkan hidup saling menyayangi, rukun serta tolong-menolong satu sama lainnya sebagai saudara, kendati ada perbedaan agama.

"Dengan ketulusan hati yang paling dalam, saya mintakan untuk segera berhenti bertikai dan kembali bersatu untuk membangun negeri ini secara bersama-sama," tegasnya.

Menurut dia, pemerintah lebih mempercayakan penyelesaiannya kepada masyarakat sendiri, karena lebih tahu letak persoalannya, namun jika masyarakat sendiri tidak menyadarinya, maka pertikaian akan terus berlanjut.

"Bukannya pemerintah pusat lepas tangan dan tidak memperdulikan tragedi kemanusiaan di Maluku, tapi sebaliknya, penuh tanggungjawab untuk menyelesaikannya sampai tuntas, di mana semuanya tergantung kesungguhan hati masyarakat untuk menyudahi pertikaian," ujarnya.

Ditambahkannya, kedatangannya kali ini yang disertai sejumlah menteri Kabinet Pesatuan Nasional, adalah merupakan bukti bahwa Pemerintah Pusat sangat peduli dan bertanggungjawab untuk menangani persoalan yang terjadi, sehingga sudah waktunya untuk dihentikan dan kembali hidup berdamai seperti sedia kala.

Tantang dialog

Megawati menantang berdialog dengan warga masyarakat dan para tokoh yang ingin bermain serta terus melestarikan kerusuhan bernuansa SARA di Maluku, dengan maksud mengobar dendam dan kebencian.

"Saya ingin berdialog dengan orang itu. Jadi sekiranya ada yang mengatakan sangat ingin dan perlu saling bertikai serta membunuh, saya siap berdialog kapan saja dan di mana pun tempatnya," tegasnya.

Berkaitan dengan korban akibat tembakan aparat keamanan, Wapres meminta masyarakat tidak mengelompokkan tindakan beberapa aparat keamanan sebagai kebijakan atau tindakan TNI secara keseluruhan.

"Itu hanya tindakan oknum yang akan merusak citra dan wibawa di mata masyarakat," ujarnya.

Ia menyatakan merasa sangat sakit hati melihat kenyataan banyaknya korban yang terbaring di RS Al-Fatah maupun RS GPM yang dikunjunginya. Sebagian besar adalah generasi muda yang berumur di bawah 20 tahun, yang sebenarnya bakal menjadi tulang punggung pembangunan bangsa Indonesia di masa mendatang.

"Jadi apa perlunya bertikai jika hanya untuk menyalurkan ego-ego yang belum tentu ada hasilnya. Kenyataannya hanyalah mendatangkan kesusahan besar, terutama hilangnya satu generasi.

"Ini bukan lagi prihatin, tapi sudah sangat parah," tandasnya.

Sebagai seorang ibu merasakan betapa susah payahnya melahirkan serta membesarkan anak-anak. Namun kemudian generasi tersebut dihancurkan dan diluluhlantakkan karena ingin saling berbalasan.

Dia mengajak para orang tua untuk tidak mengikutsertakan anak-anak dalam persoalan yang semestinya diselesaikan sendiri, karena akan berdampak merugikan dan mematikan satu negerasi.

"Saya minta dengan hormat bukan dalam kapasitas sebagai wapres, tapi sebagai seorang ibu yang turut merasakannya, tolong dihentikan. Sudah cukup periode satu tahun untuk mengobarkan kebencian, dendam dan ambisi. Saat ini pun bisa dihentikan kalau semua orang meluluhkan perasaan dendam yang ada," pintanya.

Di depan gereja Maranatha yang diresmikan Bung Karno pada 9 Mei 1954, Wapres disambut beberapa pamflet yang digelar oleh beberapa orang yang memprotes penembakan di Kampung Haruku Samet, kecamatan Pulau Haruku, Maluku Tengah.

Dalam kesempatan yang sama, Forum Pemuda Kristiani menyatakan mereka siap pergi dan mengungsi ke negara lain kalau keberadaan mereka memang tidak dikehendaki di Maluku.

"Kalau memang kami tidak dikehendaki, kami hidup di sana saja," ujar salah seorang perwakilannya kepada Mega. Mega tidak memberikan komentarnya, hanya tampak mengangguk-anggukkan kepala dengan raut muka simpatik.

Mega juga mengunjungi rumah bersalin di kompleks Mesjid Al-Fatah yang diresmikan pada Mei 1986. Rumah sakit ini menampung 1063 pasien sejak pecah pertikaian antar kelompok di Ambon pada 19 Januari 1999.

Berdasarkan data rumah sakit, hingga saat ini tercatat 596 pasien luka ringan, 303 pasien luka berat, dan 164 pasien yang meninggal sempat mendapat perawatan di rumah bersalin tersebut.

Setelah dari Ambon, Wapres menuju Ternate mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat, mendorong tercapainya penyelesaian atas konflik yang terjadi di Propinsi Maluku, khususnya di P Halmahera.

Sementara itu, suasana Ambon selama kunjungan Wapres Megawati ke kota yang porak poranda dilanda pertikaian sejak 19 Januari 1999 itu cukup tenang. Aparat keamanan intensif melakukan razia di berbagai sudut kota.

Diinterupsi

Ketika meninjau ke Ternate, Maluku Utara, Wapres sempat terhenyak ketika memberikan sambutan, diinterupsi warga. Pertemuan dengan para alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM dan unsur muspida di aula Babullah kantor Gubernur Maluku Utara.

Satu peserta dialog, Thamid Ibrahim menginterupsi dan tetap ngotot berbicara meskipun Megawati memintanya untuk duduk. "Saya rakyat, dalam era keterbukaan, wajar saja saya bicara, jangan bungkam bahasa dan suara," tegas Thamid.

Interupsi itu dilakukan ketika Megawati mengatakan, "sebenarnya pertikaian itu menghasilkan apa". Wapres selanjutnya mengatakan, itu adalah satu isyarat bahwa rasa emosional tidak akan mendatangkan suatu hasil yang optimal.

Wapres mengatakan apa yang dibangun kalau sekiranya dasar-dasar pondasi dari rekonsiliasi belum bisa ditegakkan dan dituntaskan, maka suatu saat bisa saja dihancurkan kembali.

"Pengalaman selama ini yang saya alami seperti apa yang dilakukan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah yang sangat berkeinginan segera menghasilkan suatu pembangunan yang berarti, dan mencoba untuk segera membangun tapi akhirnya dihancurkan kembali," katanya.

"Berapa lama sifat penghancuran akan terus dilakukan. Itu semua berpulang kepada masyarakat dan warga Maluku Utara sendiri," tambahnya.

Wapres dan sejumlah Menteri Kabinet Persatuan dalam kunjungan ke Maluku Utara selain dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat dan agama, juga mengunjungi penampungan pengungsi korban kerusuhan Halmahera Utar ditampung di STAIN Ternate dan gudang Puskud Halmahera Jaya di desa Jambullah, Kecamatan Pulau Ternate.

Kunjungan Wapres dan Taufiq Kiemas di propinsi termuda di Indonesia disambut meriah oleh warga Kotamadya Ternate. Pada saat Ibu Mega melakukan pertemuan dengan Pemda dan tokoh agama setempat, halaman kantor Gubernur penuh dengan pengunjung.

Mereka yang datang menyaksikan kunjungan Wapres itu umumnya pengungsi dari Tobelo, Galela, Ibu, Sahu dan Jailolo pulau Halmahera Utara, dengan membawa sejumlah spanduk. Salah satu spanduk bertuliskan "Segera adili Sultan Ternate Drs Mudaffar Syah".

Wapres didampingi Gubernur Maluku Utara Surasmin, menggunakan helikopter untuk meninjau kerusakan rumah dan bangunan milik warga Jailolo, akibat kerusuhan bernuansa SARA akhir Desember lalu di kawasan bagian utara Pulau Halmahera itu.

Wapres memberikan bantuan dana dari pemerintah pusat sebesar Rp200 juta, di samping pribadinya sebesar Rp100 juta, serta bantuan suaminya Taufiq Kiemas sebesar Rp20 juta guna membantu membangun kembali Masjid An Nur dan Gereja Silo, Kodya Ambon yang terbakar dalam kerusuhan 26 Desember lalu.

Selain itu juga menyerahkan bantuan dari masyarakat Maluku di Jakarta berupa 20 ribu zak semen, 10 ribu lembar seng, 4 peti paku,engsel dan sekrup, 5,2 ton obat-obatan serta enam unit mobil ambulans untuk RSUD Dr Haulussy, RS Al-Fatah, RS GPM dan RS Tentara Ambon, serta RSU Kabupaten Maluku Tenggara, dua ton blended food eks Sari Husada, serta 504 ton beras bagi Pemda Maluku guna menangani para pengungsi. ant


Wednesday January 26, 2000 12:54:42 PM

Berita Hari ini