JAKARTA- Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengaku tidak merasa khawatir menghadapi ancaman ataupun tekanan pihak-pihak tertentu terhadap pemerintahannya. Bahkan Gus Dur menyatakan tidak pernah takut dikudeta oleh militer, bersamaan lawatannya ke luar negeri.
"Saya nggak khawatir apa-apa, saya pergi dengan tenang. Kenapa, karena saya tahu mereka itu kan sebagian perwira yang tidak didengar anggotanya," kata Gus Dur blak-blakan menjawab wartawan, di usai sidang paripurna kabinet di Bina Graha, Kamis (27/1).
"Boleh saja mereka perintahin apa saja. Mereka juga penakut. Nggak usah khawatir. Di depan saya ngomong-nya setia, di belakang saya lain lagi bunyinya," kata Gus Dur tanpa menyebut siapa mereka.
Berkait pihak-pihak yang berusaha mengacaukan pemerintahannya, Gus Dur menyatakan telah memerintahkan Kapolri mencari otak pe pengacau tersebut. "Cukup nggak cukup buktinya, seret saja ke pengadilan, nanti kita buktikan di pengadilan," tegas mantan ketua PB NU itu.
Menurut Gus Dur dirinya adalah orang yang sabar, tapi kalau terus-terusan mereka membuat kekacauan, tentu tak perlu dibiarkan.
Gus Dur mengemukakan, akhir-akhir ini terjadi beberapa hal yang diakibatkan oleh perbuatan sementara orang. Contohnya ditemukannya sebuah bom di Masjid Agung Yogyakarta yang sempat membakar karpet, dan bisa dijinakkan pihak kepolisian.
"Walaupun di tengah kota, seperti Yogya saja bisa terjadi, apalagi di daerah-daerah terpencil, bisa saja terjadi. Karena itu saya minta pihak keamanan, dalam hal ini dipimpin kapolri, kalau perlu minta dukungan pihak TNI dan pihak terkait lain untuk mengambil tindakan preventif yang diperlukan," ujarnya.
Dia menilai Dur, perbuatan orang-orang itu sengaja untuk menguji apa yang disebut 100 Hari Kabinet. "Segala macam itu kan, 100 hari pemerintahan saya. Ini semua omong kosong yang nggak ada artinya. Kita ini mewarisi keadaan minus, bukannya dari nol," tambahnya.
Sehubungan kepergiannya ke negara-negara Eropa dan Asia mulai hari Jumat ini selama 17 hari, Gus Dur menyerahkan kepemimpinannya sepenuhnya kepada Wapres Megawati Soekarnoputri.
"Mau sidang kabinet, mau apa saja, mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan di bidang keamanan, terserah beliau, tidak ada masalah. Antara saya dan beliau itu tidak ada yang tersembunyi, selalu dibuka terang-terang," ujar Gus Dur pula.
"Kalau ada beberapa hal yang perlu dilakukan perubahan dalam pemerintahan dan sebagainya, perubahan kerja, perubahan cara pengawasan dan sebagainya, itu secara berangsur-angsur kita tegakkan, tidak usah menunggu saya pulang," tambahnya.
Pensiun jenderal
Pada kesempatan itu Gus Dur juga mengaku sudah menandatangani surat keputusan (skep) pensiun empat jenderal yang kini masuk kabinet. Keempat jenderal itu adalah Jenderal TNI Wiranto (Menko Polkam), Letjen TNI Agum Gumelar (Menhub), Letjen TNI SB Yudhoyono (Mentamben) dan Laksda TNI Freddy Numberi (Meneg PAN), terhitung 31 Maret telah menjadi purnawirawan.
Menurut Gus Dur, penandatangan pensiunan itu mengacu peraturan yang dibuat pemerintah dulu."Itu karena peraturan pemerintah sendiri. Siapa orang yang keluar dari lingkungan TNI dalam kerjanya, ya dia harus out. Bukan kemauan saya, karena peraturan yang dibuat sendiri. Malah ini terlalu lambat dilaksanakan," jelasnya.
Di tempat terpisah, Letjen TNI Agum Gumelar merasa bingung dengan pensiun dini itu, karena dirinya sama sekali tidak pernah mengajukan diri untuk pensiun. "Saya tidak tahu kalau ada pensiun dini, karena saya tak pernah mengajukan mengambil pensiun dini. Sampai sekarang saja suratnya belum ada," kata Agum.
Namun demikian, mantan Gubernur Lemhannas ini mengaku bisa menerima keputusan yang telah dibuat dan diumumkan Presiden Gus Dur. Sebab, tidak ada pilihan lain, kecuali menerima putusan tersebut.
"Buat saya, putusan presiden sebagai pimpinan tertinggi harus saya laksanakan. Karena tidak ada pilihan lain, selain opsi itu. Dan itu adalah perintah yang harus dilaksanakan," ucap Agum.
Namun demikian menantu Ketua Umum LVRI Letjen (Pur) Ahmad Tahir ini secara pribadi mengaku dirinya masih tetap ingin berada di dalam TNI. "Saya sebenarnya ingin tetap di TNI dan itu bisa terlihat dari wajah saya," kata Agum Gumelar yang kini menjabat sebagai Menteri Perhubungan. csm/ars/tya/sry
updated: Friday, January 28, 2000 11:15:21 AM