YOGYAKARTA- Tiga pengurus Masjid Agung Yogyakarta yang berada di serambi, masing-masing Zaim, Hartono, dan HM Barier tiba-tiba dikejutkan suara terbakar di ruang utama. Sementara Kepala Rumah Tangga Masjid Budi Setiawan yang berada di luar juga tak kalah kaget melihat kepulan asap membumbung dari atap masjid kebanggaan warga Yogya ini.
Mereka bergegas mengambil kunci dan membuka pintu. Ternyata api sudah berkobar sampai atap masjid dan membakar empat gulungan karpet bantuan dari Arab Saudi, dan sebagian dinding. Mereka berusaha memadamkan api dengan menyiram air dengan ember dan selang. Sedang satu orang dari mereka melaporkan kejadian ini Rabu (27/1), pukul 21:20 WIB malam itu juga ke Polsek Gondomanan.
Setelah api padam dan aparat datang, ditemukan bom molotov -- sebuah botol bekas air kemasan berukuran 400 ml yang berisi bensin dan sumbu yang masih tersisa. Kemudian dalam jarak 4 meter dari titik api, Tim Jihandak menemukan bom rakitan di balik lemari kecil di ruang utama.
Pada saat pengambilan benda berbentuk kotak dengan sumbu kabel itu itu dan dibawa ke halaman masjid, Tim Jihandak Brimob memerintahkan kepada semua masyarakat yang berkerumum agar mundur menjauhi masjid sejauh 50 meter dan tiarap.
Bom rakitan tersebut, yang berupa semacam benda elektronik yang menggunakan 2 buah baterai, kemudian dibawa Brimob, setelah Kapolda DIY yang datang ke tempat kejadian memerintahkan Komandan Brimob untuk menelitinya.
Ledakan itu terjadi hanya beberapa saat setelah gelar sebuah acara di gedung PDHI. Acara itu menghadirkan Ketua MPR RI, Amien Rais. Gedung PDHI itu lokasinya berada sekitar 75 meter dari Masjid Agung Yogyakarta.
Banyak kalangan menduga, peledakan bom masjid Agung itu dilakukan oleh provokator yang secara sengaja berupaya merusak kerukunan umat beragama. Namun sejauh ini polisi belum menyimpulkan motif dan siapa pelaku peledakan tersebut.
Gus Dur gusar
Presiden Gus Dur memerintahkan aparat bertindak tegas dalam menangani kasus kerusuhan dan kriminalitas. Termasuk soal pengeboman Masjid Agung Yogyakarta ini. "Cukup nggak cukup buktinya, seret saja ke pengadilan," perintah Gus Dur.
Perintah Gus Dur disampaikan Gus Dur kepada wartawan seusai memimpin rapat paripurna kabinet di Bina Graha, Kamis (27/1/).
Kepada Polri Presiden Gus Dur minta untuk mencari dan menangkap otaknya kemudian mengadilinya. "Cukup nggak cukup buktinya, seret saja ke pengadilan. Nanti kita buktikan di pengadilan. Sudah begitu saja," kata Gus Dur.
"Saya ini orang yang sabar, tapi kalau terus-terusan begini, nggak bisa kita biarkan. Ini kan untuk menguji yang katanya kabinet 100 hari segala macam itu kan?" tukas Gus Dur.
Gus Dur juga meminta masyarakat untuk mengamati orang yang melakukan kekacauan. "Kalau sudah mencurigai seseorang, beritahu keamanan untuk segera bisa diatasi," imbau presiden yang mantan ketua umum PBNU ini.
Sudah ada bukti Pak? "Saya tidak tanya mendetail pada Kapolri," jawab Gus Dur.
Tindakan tegas itu apa sampai tembak di tempat? tanya wartawan lagi. "Saya tidak spesifik ngomong sampai tembak di tempat. Ya soal itu sih, kesepakatan mereka saja," kata Gus Dur mengakhiri pembicaraannya.
Kadispen Polri Brigjen Pol Drs Erald Dotulong, Kamis (27/1) mengatakan tim penjinak bom yang datang ke TKP sudah mengamankan bom rakitan tersebut, padahal sebelumnya bom yang ditaruh di dalam Masjid Agung Yogyakarta tersebut diduga jenis TNT.
"Setelah diteliti tim penjinak bom, bahan peledak itu hanyalah bom rakitan yang kekuatan ledaknya kecil,"jelasnya.
Sebagai tindak lanjut dari kejadian itu, Polri langsung mengamankan TKP agar steril karena untuk keperluan penyidikan. "Kami sudah mengumpulkan pada ulama setempat agar memberikan ketenangan pada umat, supaya tidak terprovokasi dengan kejadian itu,"katanya.
Karena pihak Polri masih menyelidiki kasus penemuan bom rakitan itu, sampai sekarang belum diketahui motif adanya bom tersebut. "Beri kami waktu untuk menyelidiki secara mendalam, kami akan informasikan jika semua sudah terungkap," jelasnya.
Menurut Dotulong, penemuan bom rakitan yang diletakkan di dalam masjid Agung Yogyakarta jangan menimbulkan intepretasi macam-macam sebelum diketahui pelaku dan motifnya.
"Kami mengimbau agar semua pihak bersikap tenang, serahkan penanganan kasus ini pada polisi,"jelasnya.sug/as/tya
updated: Friday, January 28, 2000 11:16:20 AM