Oknum Polres Tapin

Lindungi Sindikat Sapi

BANJARMASIN - Pencurian sapi di Binuang Kabupaten Tapin yang marak beberapa tahun terakhir ini disinyalir sudah berbentuk sindikasi. Ini bisa terjadi karena ada oknum yang ‘bermain’ termasuk dari jajaran Polsek Bungur berinisial Sal.

Menurut satu warga yang datang ke redaksi BPost, Sal melindungi tiga kawanan pencuri yang sudah tertangkap. Caranya, bersama Kas (warga Desa Matang Batas) --yang diduga dekat dengan kawanan sindikat tersebut-- Sal meminta korban Satiman untuk mencabut pengaduannya. Satiman satu kampung dengan Kas, yang juga dikenal sebagai pedagang sapi.

"Kami datang ke sini, karena sudah lelah melapor ke aparat kemanan di sana. Meski sudah ada penjahatnya yang ditangkap (Kamari, Waryono dan Tohid) tetapi yang lainnya masih berkeliaran. Bahkan justru para anggota sindikat itu mengancam warga yang menjadi saksi kasus itu agar mencabut kesaksiannya," ujar si pelapor yang nama dan desa asalnya minta dirahasiakan, Rabu (26/1).

Di samping itu masyarakat kesal karena sebenarnya siapa yang termasuk sindikat itu sudah bukan rahasia lagi tetapi aparat belum juga menangkap komplotan itu.

Satiman, ujar warga tersebut, saat ini sedang bingung, apakah mencabut atau tetap mempertahankan pengaduannya. "Kalau tidak dicabut ia takut dengan ancaman aparat dan pedagang sapi tersebut.

Tapi di sisi lain bila ia datang dan mencabut kesaksian, itu bertolak belakang dengan hatinya," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan pihak keamanan sepertinya tidak bertindak tegas dalam menghadapi kasus pencurian sapi. Padahal dari tiga di atanra sembilan desa Binuang saja, dari Maret 1999 hingga kini, sudah terhitung 81 sapi milik warga raib digondol maling.

Salah satu bukti aparat tidak bertindak tegas, dikatakannya pernah salah satu pelaku (anak Kasa) tertangkap tangan aparat ketika sedang membawa sapi curian. Tapi belakangan ia bisa bebas karena memberi petugas uang sebesar Rp2 juta. "Informasi itu saya peroleh dari rekan yang mengatakan si pelaku sendiri yang ngomong seperti itu," jelasnya.

Sementara keterangan bertolak belakang dengan si pelapor dikemukakan Kapolres Tapin, Letkol Pol Drs Taufik Nurhidayat. Ia tegaskan pesoalan pencurian sapai di wilayah tugasnya yang belakangan marak terkendala banyak hal. Misalnya lokasi desa-desa yang rawan pencurian sapi tempatnya cukupjauh sehingga sulit terjangkau dan dihadapkan pada terbatasnya personel petugas.

Di samping itu, kendala yang ia nilai sangat dominan adalah rendahnya sikap kerjasama masyarakat yang ada di desa-desa tersebut dengan petugas. Mereka (penduduk) tidak mau memberikan keterangan kalau ditanya petugas tentang ini. "Dapat menangkap tiga kawanan ini saja anak buah kami benar-benar mati-matian mengendus meraka karena tidak ada informasi dari masyarakat," jelasnya.

Tak hanya itu, untuk dijadikan saksi pun mereka sangat susah sekali. "Rata-rata mereka menolak. Bahkan korban pencurian pun sampai tidak mau mengaku kecurian karena takut dijadikan saksi," katanya lagi.

Taufik nilai, para penduduk di wilayah tersebut sepertinya lebih takut kepada sindikat daripada kepada petugas. "Oleh karena itu untuk bisa menuntaskan kasus ini saya mengimbau agar masyarakat maubekerja sama dengan petugas," tandasnya.

Sedangkan adanya dugaan anak buahnya melakukan indisipliner ia berjanji akan mengecek kebenarannya. "Kalau dugaan masyarakat itu benar saya akan tindak tegas. Tetapi apabila tidak terbukti, saya minta kepada masyarakat untuk merehabilitasi nama baik petugas itu," tandasnya. rai


updated: Friday, January 28, 2000 11:18:40 AM

Berita Hari ini