BANJARMASIN - Warga perkotaan yang cukup konsumtif merupakan sasaran empuk iklan makanan yang kini semakin vulgar. Iklan ini tak peduli apakah yang disampaikannya kepada calon konsumen itu sesuai dengan produk.
"Sekarang tinggal kita yang harus pintar-pintar memilih produk makanan apa yang tepat untuk dikonsumsi," ujar Kepala Poliklinik Gizi RSU Ulin Pramono.
Sebelum membeli, orang harus melihat komposisi makanan yang diiklankan tersebut. Dari sini lah konsumen bisa mengetahui apakah makanan itu cocok untuk tubuh atau tidak.
"Sebelum membeli, seharusnya masyarakat perlu meneliti terlebih dahulu produk makanan atau minuman yang ditawarkan oleh iklan tersebut," katanya.
Kalau kita tidak mengetahui dengan jelas apa dan bagaimana manfaat produk yang dikonsumsi, bukan hanya merugikan kesehatan tapi juga finansial. Karena uang akan terbuang percuma hanya untuk membeli iklan, bukan produk yang bermanfaat.
Misalnya iklan produk minuman suplemen. Dengan kandungan beragam vitamin dan mineral, minuman tersebut dapat memulihkan dan menyehatkan tubuh yang keletihan setelah beraktivitas.
"Padahal tanpa perlu minum suplemen, kondisi tubuh bisa segar kembali asal cukup istirahat. Kadungan mineral dan vitamin bisa diganti dengan makan buah-buahan," jelas Pramono.
Ia tidak menyangkal kalau minuman suplemen yang kini dijual berbagai merk itu bermanfaat bagi tubuh, tapi seringkali menjadi sugesti di masyarakat, sehingga penggunaannya menyalahi anjuran. Misalnya, lelah sedikit saja langsung minum suplemen, sebenarnya tubuh kita belum tentu memerlukannya.
Apalagi sampai overdosis, meminum lebih dari satu botol. Hal itulah yang bisa membuat reaksi berlebihan dari dalam tubuh, yang akhirnya bukannya sehat yang didapat tapi malah sakit.
Kemudian produk Vitamin C yang iklannya kerap ditayangkan televisi swasta. Dengan memakan 500 miligram atau sebiji saja, kebutuhan tubuh akan Vitamin C sudah terpenuhi.
Memang, tubuh manusia memerlukan Vitamin C setiap hari, tapi itu bisa menjadi sia-sia, bahkan racun apabila tidak diimbangi dengan makanan lainnya yang mengandung Vitamin E dan Zink.
Apalagi bagi perokok, walaupun mengkonsuminya setiap hari tidak akan berguna bagi tubuh, karena zat dalam rokok (nikotin, tar, dan lainnya) menetralkan Vitamin C dalam tubuh.
Sama halnya produk susu dengan pengkhususan berfungsi sebagai penguat tulang. Kandungan kalsium susu tersebut memang cukup tinggi, tapi tidak akan bermanfaat apabila tidak ada penyeimbangnya dari Posfor.
Sebenarnya, ujar Pramono, yang terjadi sekarang ini adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Untuk itu ia menghimbau daripada terjadi salah kaprah, lebih baik mengkonsumi makanan bergizi yang murah dan mudah didapatkan. mtr
updated: Friday, January 28, 2000 11:21:56 AM