MOSKOW - Hampir 1.000 tentara Rusia tewas sejak Moskow mulai melancarkan operasi militernya terhadap pasukan Chechnya di Kaukasus Utara itu Agustus lalu, kata kepala staf Angkatan Darat Rusia untuk wilayah tersebut, seperti dikutip kantor berita Itar Tass hari Selasa.
Lebih dari 600 tentara Kementerian Pertahanan Rusia dan lebih dari 300 tentara Kementerian Dalam Negeri tewas, kata markas besar militer Kaukasus Utara itu.
Lebih dari 2.500 tentara Rusia cedera di Dagestan dan di Chechnya sejak konflik di kawasan itu September lalu, yang terburuk sejak perang Rusia-Chechnya tahun 1994-1996, katanya.
Data baru itu merupakan peningkatan tajam dari angka resmi yang dikeluarkan para pejabat Rusia.
Sampai sekarang, Moskow menegaskan bahwa 600 tentaranya tewas sejak pertempuran dimulai di Dagestan September disusul dengan serangan darat terhadap Chechnya 1 Oktober untuk mematahkan perjuangan gerilyawan yang berusaha mengakhiri kekuasaan Rusia di wilayah itu.
Rusia meningkatkan serangannya hari Selasa untuk merebut Grozny dimana pasukan federal terlibat pertempuran melawan pasukan gerilya di jalan-jalan dan pesawat tempur melakukan lebih dari 250 serangan udara, kata kantor berita Interfax.
Pesawat-pesawat pembom Sukhoi-24, Sukhoi-25 dan helikopter Mi-24 menghancurkan lebih dari 30 pangkalan gerilya dalam serangan udara di Grozny dan daerah-daerah Argun dan Vedeno hari Senin, kata Interfax mengutip keterangan dari markas besar militer Rusia di Kaukasus Utara itu.
Pertempuran seru jarak dekat meletus di distrik Oktyabrsky dekat taman Minutka, Grozny, kata Interfax.Pertempuran juga berlangsung di daerah-daerah Argun dan Vedeno Selasa pagi.
Di Argun, para gerilyawan Chechnya menyerang posisi-posisi Rusia dengan morir, granat dan senapan mesin, kata komandan Chechnya Aslanbek Ismailov kepada AFP.
Ismailov menyatakan pasukan Rusia kehilangan 150 tentara dan Chechnya 15 orang dalam pertempuran hari Senin dan Selasa pagi.
Talib kecam Iran
Sementara itu di Kabul, pemerintah Talib Afghanistan hari Selasa menuduh Iran mengabaikan tanggung jawabnya terhadap warga
Muslim Chechnya.
Deputi Menteri Informasi Talib Abdurrahman Hotak mengatakan sebagai sebuah negara Islam yang kuat dan ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI), Iran harus memainkan peran positip.
"Mereka melakukan hubungan dengan Rusia. Para pejabat Iran melakukan sejumlah kunjungan ke Moskow ketika warga Chechnya digempur Rusia," katanya
"Kami mengharapkan Iran mengakui kekeliruannya dan memainkan peran aktip mendukung Chechnya," kata Hotak.
Hotak mengatakan membela perjuangan Chechnya adalah suatu kewajiban.
Ia mengatakan negara-negara Muslim mengikuti dengan patuh perintah Barat menyangkut masalah-masalah global termasuk Chechnya."Peran mereka diragukan," katanya, ketika ditanya bagaimana pendapatnya tentang kebijakan Arab Saudi mengenai Chechnya.
"Kebungkaman terus mereka akan memiliki konsekuensi-konsekuensi bagi dunia Muslim," katanya memperingatkan. Ia juga mengecam PBB dan organisasi lain dunia.
"Dunia hendaknya merasa bertanggung jawab dan tidak membiarkan Moskow melanggar lebih jauh hak asasi manusia di Chechnya," ucap Hotak.
Jumat lalu Menlu Talib Wakil Ahmad Mutawakil menawarkan dukungan penuh kepada Grozny dan mengatakan mereka akan mempertimbangkan bentuk-bentuk bantuan lain di masa mendatang. ant
updated: Friday, January 28, 2000 11:22:15 AM