Santri Kini Tampil Beda

Oleh Edy M Ya’kub

Sosok santri selama ini sering digambarkan sebagai seorang anak yang bersarung dan bersandal jepit, menenteng sebuah kumpulan kertas yang disebut Kitab Kuning (KK) sebagai acuan belajar di pesantren.

Gambaran itu dilengkapi dengan kondisi pesantren yang sebagian besar tampak kumuh dengan ratusan atau ribuan santri yang berjubel satu dalam bangunan kecil. Semua itu seakan melengkapi pandangan bahwa santri adalah sosok yang berpikiran kolot atau tradisional.

Namun, gambaran itu sekarang sudah bukan jamannya lagi. Setidaknya, tampilnya santri tulen bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 RI telah "menghapus" gambaran tentang keterbelakangan sosok santri itu.

Sikap modern dan kritis dalam diri santri ternyata bukan monopoli seorang Gus Dur, melainkan juga menjadi watak santri di era modern ini. Terbukti sekitar 60 santri dan santriwati dari berbagai pesantren di Surabaya dalam dialog di Pesantren Nurul Huda, Jalan Sencaki, Pegirian, Surabaya (25/12) Surabaya dengan berani menggugat relevansi kitab "Ta’lim Muta’allim" (etika belajar) yang merupakan kitab etika yang menjadi rujukan pesantren di seluruh Indonesia itu.

Gugatan itu muncul dalam dialog dengan pembicara KH Imam Ghazali Said MA (Wakil Sekjen PP RMI/asosiasi pesantren NU se-Indonesia) selaku penulis "syarah" (terjemah dan tafsir) dari kitab etika yang dilengkapi metodologi modern.

"Ta’lim Muta’allim merupakan salah satu kitab babon pesantren di Indonesia yang tak mungkin digantikan dengan kitab lain karena diperoleh para kiai dengan transmisi keilmuan yang khas dari guru ke guru," kata Imam Ghazali, dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Namun, menurut pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya yang juga kandidat doktor Universitas Kairo Mesir itu, kitab etika tersebut tidak harus "ditelan" 100 persen karena ada logika irasional yang tidak relevan dengan masa sekarang.

"Misalnya kitab kuning itu melarang murid atau santri untuk bertanya kepada guru, fiqih sebagai disiplin ilmu paling baik dalam Islam, serta hormat kepada guru secara berlebihan," katanya.

Kitab etika itu secara umum adalah baik tapi etika yang tidak rasional harus dipahami sebagai hal yang hanya berlaku (relevan) pada masa lalu, tapi perlu disikapi secara kritis untuk masa sekarang. "Jadi, para ustadz di pesantren tidak mungkin meninggalkan kitab etika yang menjadi kitab babon di pesantren, tapi harus memilah hal-hal yang tidak rasional dengan memberi penjelasan atas dasar historis di masa lalu dan memberi gambaran yang relevan untuk masa sekarang," katanya.

Dinamisasi KK

Imam Ghazali Said mengatakan, PP RMI telah melakukan "dinamisasi" sejumlah kitab kuning rujukan pesantren di Indonesia, di antaranya "Ta’lim Muta’allim" dan "Bidayatul Hidayah" yang diterbitkan pada Ramadhan 1420 H. "RMI juga merencanakan dinamisasi kitab ‘Uqudullijen’ yang banyak mengandung bias gender. Jadi, kami akan mengupayakan dinamisasi pesantren dan pemikiran santri secara implisit, bukan secara radikal yang justru akan ditolak kalangan pesantren," katanya.

Dalam "Diskripsi Singkat Kitab Ta’lim Muta’allim (Terjemah Puitis Syi’ir Dan Kata-kata Mutiaranya)" yang ditulis Imam Ghazali Said (PP RMI, Surabaya, Ramadhan 1420 H/Desember 1999 M) disebutkan bahwa kitab Etika Belajar yang merupakan karya Imam Burhan Azzarnuji (abad ke-12 sampai dengan ke-13 M) itu terdiri atas 13 bab.

Bab pertama menjelaskan materi dan keutamaan ilmu. Untuk bab pertama itu, Azzarnuji menjelaskan adanya spesialisasi ilmu. Menurut dia, siswa tak mungkin dijejali dengan berbagai ilmu pengetahuan tapi harus disesuaikan dengan kebutuhan atau minatnya sehingga Azzarnuji telah meletakkan dasar-dasar teori pendidikan.

Bab kedua menjelaskan tujuan mencari ilmu yaitu untuk mencapai ridlo Allah SWT, menghilangkan kebodohan, dan menghidupkan agama Allah. Bab ketiga menjelaskan tata cara memilih guru, teman, dan disiplin ilmu.

Dalam bab ketiga, Azzarnuji menganjurkan memilih guru yang tua dan memahami agama, sehingga hal ini bertentangan dengan pendidikan modern yang mengedepankan profesionalisme guru, bukan tua atau muda.

Bab empat mengajarkan penghormatan pada guru. Dalam satu sisi, penghormatan pada guru mempunyai dampak positif secara psikologis, tapi hal itu di sisi lain akan membuat adanya "jarak" antara guru dengan santri sehingga diskusi atau komunikasi tidak akan terjadi dan "penggambaran" pada figur guru atau kiai bisa berlebihan yakni sebagai sosok yang agung dan suci.

Bab kelima menjelaskan tentang disiplin dalam menuntut ilmu, sedang bab ke-enam menjelaskan tentang permulaan mengaji dan aturannya. Dalam bab ini, Azzarnuji menjelaskan hari Rabu sebagai hari yang baik untuk memulai mengaji, tapi tidak ada penjelasan secara logis, padahal dalam konteks pendidikan modern tidak seperti itu.

Bab ke-tujuh menjelaskan tentang tawakkal dalam menuntut ilmu sehingga Azzarnuji menunjukkan aspek moralitas dalam menuntut ilmu. Bab ke-delapan menjelaskan tentang masa pendidikan, sedang bab ke-sembilan berisi nasihat dan perilaku santun kepada guru dan putra-putranya sebab mereka mempunyai "barokah" sehingga perdebatan menjadi tidak ada. Hal ini ditegaskan lagi dalam bab ke-sebelas yang justru mengarah pada kultus individu seorang guru.

Bab ke-sepuluh menjelaskan teknis mencari ilmu yakni mencatat apa yang didengar. Dalam bab ini, Azzarnuji mengajarkan hal yang cocok dengan teori pendidikan modern yakni mencatat dengan pena agar tidak mudah lupa.

Bab ke-dua belas menjelaskan Azzarnuji menekankan pendidikan pada hafalan yang bertentangan dengan konsep pendidikan modern yang menekankan pada pemahaman, sedang bab ke-tiga belas menjelaskan tindakan murid menarik rejeki agar studinya tak terbengkelai. Dalam hal ini, Azzarnuji lebih cenderung pada tahayul dan bukan dari penelitian modern.

Agaknya, dinamisasi KK yang dikembangkan PP RMI mengajak santri dan kiai untuk melakukan kajian kitab kuning secara kontekstual dengan masa kini, sehingga umat Islam tidak tertinggal secara modern tapi tetap berpijak pada akar tradisi lama yang masih baik.

Edy M Ya’kub, wartawan Antara


updated: Friday, January 28, 2000 11:23:21 AM

Berita Hari ini