12 1/4 Abad Ahli Hadits Iman Bukhari

Oleh Aliman Syahrani

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau pada tanggal 13 Syawal adalah hari lahirnya Imam Bukhari, salah seorang Ulama Besar Ahli Hadits yang demikian besar jasanya dalam penyusunan Hadits-Hadits Nabi SAW.

Imam Bukhari, yang nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Munghierah bin Bardizbeh al Ja’fuy, adalah putra kelahiran Bukhara (Asia Tengah). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.

Ulama Besar ini lahir pada hari Jumat tanggal 13 Syawal 194 H (810 M) di Bukhara (Asia Tengah), kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.

Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Sovyet Rusia, namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Ahli Hadits

Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta. Tapi berkat usaha dan doa ibunya, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh sama sekali.

Perhatiannya kepada ilmu Hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Wakie". Dan pada usia 16 tahun itu pula (210 H), Imam Bukhari sudah mengembara ke berbagai negeri seperti Kurasan (Persia) untuk menyelidiki Hadits-Hadits.

Karyanya yang pertama yang berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien) ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun.

Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. "Saya tulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama," katanya.

Brillian

Imam Bukhari adalah seorang ulama yang brillian dan mempunyai ingatan yang amat kuat. Dalam usia 25 tahun sudah menjadi ahli hadits yang disegani oleh para ulama. Ketekunannya dalam meneliti, menyelidiki dan menyaring hadits-hadits yang ditemuinya, sangat mengagumkan. Beliau tidak segan-segan mengadakan perjalanan untuk menemui beratus-ratus ulama hanya untuk menyaring kebenaran sebuah hadits saja. Tidak kurang dari 1.000 ahli hadits telah ditemuinya. Berkali-kali beliau mengadakan perjalanan ke Syam, Mesir, al-Jazierah, Basrah dan lain-lain, bahkan pernah menetap di Hejaz selama 6 tahun. "Tidak dapat saya ingat, entah sudah berapa kali saya keluar masuk kota-kota Kufah dan Bagdad untuk menemui ulama-ulama Ahli Hadits", kata Imam Bukhari.

Tidak kurang dari 600.000 buah hadits Nabi yang dihafal oleh Imam Bukhari. Dan setelah diteliti dan disaringnya dengan cermat selama bertahun-tahun, akhirnya yang diakui sahnya (shahieh) hanyalah sekitar 7.275 buah hadits saja (atau 7.397 buah ?). Hadits-hadits itulah yang kemudian dihimpunnya dalam bukunya Shahieh Bukhari yang tersohor itu. Tapi jika dihilangkan hadits-hadits yang diulang-ulang riwayatnya, maka menurut Syekh Taqiyyudin Ibnu Shalah, jumlahnya hanya 4.000 buah saja.

Kekuatan hafalan, ketelitiannya dalam memilih dan menyaring hadits-hadits inilah yang membuat Imam Bukhari terkenal dan diakui sebagai ulama ahli hadits terbesar. Kedatangannya di mana-mana disambut sebagai seorang ahli dengan pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan ribu fans berat dan pencintanya.

Diuji

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang Ahli Hadits yang ingin "menguji" ketinggian ilmu Imam Bukhari. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mampu mengoreksi 100 hadits tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan.

Ulama Besar yang sangat besar jasanya dalam penyusunan dan pengumpulan Hadits-Hadits Nabi ini, akhirnya wafat pada tahun 256 H (870 M) di desa Khartan dekat kota Samarkand dalam usia 62 tahun menurut perhitungan tahun Hijriyah.

Aliman Syahrani, Pemerhari Masalah Agama


updated: Friday, January 28, 2000 11:23:26 AM

Berita Hari ini