ERA plong demokrasi menuntut semua orang untuk berani berbicara atau mengemukakan aspirasi. Kalaupun sementara belum bisa dengan lantang, bisa dibisikkan kepada dewan, mumpung anggotanya masih baru-baru. Bisa juga aspirasi disampaikan melalui saluran lain, yakni kepada kelompok-kelompok penekan seperti lembaga khusus yang sering disebut lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Sementara mengharapkan organisasi kepemudaan (OKP) atau organisasi kemasyarakatan (ormas) yang eksis di masa orde baru, rasanya perlu beberapa tahun lagi.
Sekarang tergantung, apakah aspirasi kita itu mendesak atau tidak. Kalau tidak, kita bisa lewat dewan. Maklum anggotanya banyak yang tergolong baru belajar. Sementara kalau mau cepat kita dapat melalui LSM.
Ini karena mereka berpengalaman sejak di pengujung orde baru. Pada masa itu LSM-LSM terbentuk untuk menangani tugas-tugas yang tak mampu ditangani anggota dewan atau penyampai aspirasi lainnya. Kepada lembaga ini, orang bisa menyampaikan masalah lingkungan hidup, kesejahteraan sosial ataupun politik sesuai bidang LSM itu sendiri.
Selain banyak dampak positifnya, semakin maraknya keberadaan lembaga ini di era kebebasan ternyata juga memberikan efek negatif, baik buat masyarakat maupun LSM-LSM itu sendiri. Ini karena hadirnya oknum-oknum anggota LSM dan oknum LSM untuk mencari keuntungan sendiri.
Di kalangan LSM sendiri muncul tuduhan, "LSM itu LSM plat kuning dan yang ini adalah plat merah". Arti dari plat merah di sini adalah membela kepentingan pejabat-pejabat pemerintah. Biasanya itu dilakukan saat pejabat mengejar posisi tertentu, seperti bupati atau gubernur atau lebih ke atas lagi.
Sementara yang dimaksud LSM plat kuning adalah mereka yang bisa ditumpangi siapa saja dengan maksud apapun. Tentunya asal cocok harga. Bahkan ada saja LSM yang memproklamirkan dirinya sebagai pembela kepentingan sosial, ekonomi ternyata kemudian bergerak di politik. Pasti alasan yang mereka pakai adalah terselesaikan masalah ekonomi atau bidang yang mereka tangani lainnya tergantung pemimpin mendatang.
Tuduhan ini tentunya dilontarkan mereka-mereka yang berplat hitam alias yang independen. Nah sekarang bagi yang mengaku-ngaku LSM atau aktivis yang independen, mereka harus membersihkan lingkungannya. Kalau perlu buat dewan kehormatan LSM. Lakukan aksi agar nama LSM lebih harum dan profesional.
Perlu diperhatikan kalau usia mereka diperkirakan hanya sebentar. Nanti kalau orang-orang sudah berani menyampaikan aspirasi dan salurannya tersedia berkat teknologi, kemungkinan LSM atau dewan itu tak diperlukan lagi.
updated: Friday, January 28, 2000 11:23:41 AM