MELBOURNE- Martina Hingis dan Lindsay Davenport akhirnya bertemu di partai puncak turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka 2000 yang berlangsung di Melbourne Park, Australia dari Senin (24/1) lalu.
Di babak semifinal yang berlangsung Kamis (27/1), Hingis unggulan pertama turnamen berhadiah total 7,65 juta dolar AS itu menundukkan petenis Spanyol, Conchita Martinez 6-3 6-2.
Sedangkan Lindsay Davenport yang menduduki unggulan kedua turnamen ini mengalahkan rekan senegaranya Jeniffer Capriati dengan 6-2 7-6 (7-4).
"Ini adalah final yang saya nanti-natikan, saya akan berusaha menampilkan permainan terbaik," ujar Hingis.
Hingis menundukkan Martinez yang berada di unggulan sepuluh, dengan terus menguras tenaga petenis Spanyol berusia 27 tahun itu. Selain itu Hingis juga tampil penuh percaya diri, dan Martinez hanya mampu mengimbanginya hanya di awal set pertama.
"Saya terlambat start, namun setelah saya menemukan irama permainan saya, tiba-tiba saya punya sedikit problem," ujar Hingis.
Mengomentari tentang pertandingan finalnya pada hari Sabtu (28/1) Hingis mengatakan:"Lindsay merupakan pemain hebat, ia punya pukulan groundstroke yang mematikan, dan saya sempat kalah tiga kali tahun lalu."
Hingis merebut gelar juara Wimbledon dan AS Terbuka tahun 1997 namun setelah itu ia gagal merebut gelar Grand Slam kecuali Australia Terbuka.
Petenis kelahiran 30 September 1980 itu merupakan runner up Perancis Terbuka tahun 1997 dan tahun 1999 serta menelan kekalahan dari Davenport di final AS Terbuka tahun 1998 serta dari Serena Williams tahun 1999.
Davenport
Lindsay Davenport, unggulan dua, menghentikan Capriati dalam 82 menit di lapangan utama Melbourne Park untuk melaju ke final Grand Slam pertama tahun 2000.
Pertandingan itu menandai kebangkitan kembali mantan petenis muda yang mencengangkan dunia itu yang setelah sembilan tahun baru kembali tampil di semifinal sebuah turnamen tenis Grand Slam.
Namun Davenport tidak menyediakan ruang sedikit pun untuk bernostalgia kepada Capriati dan membombardir lawannya itu dengan pukulan servis dan voli berat yang membuat Capriati tak berdaya.
Juara Wimbledon itu dua kali mematahkan servis Capriati pada set pertama sebelum pada set kedua dia berjuang amat keras untuk mengalahkan Capriati, petenis AS kelahiran New York itu.
"Saya tahu dia selalu kuat bermain di Australia, saya beruntung berhasil memenangi set kedua," kata Davenport kepada TV Saluran Tujuh.
Capriati yang tidak diunggulkan, kehilangan servisnya pada pembukaan set pertama, meski kemudian membalas dengan mematahkan servis Davenport pada game berikutnya.
Davenport untuk keduakalinya mematahkan servis Capriati pada game kelima untuk unggul 3-2.
Namun Capriati semakin panas, pada set kedua melalui pukulan forehand and backhand silang tajam berhasil mengimbangi Davenport hingga kedua pemain harus melanjutkan permainan melalui tie-break.
Davenport beruntung berhasil memanfaatkan dua kali kesalahan Capriati untuk menang 7/4 pada tie-break.
Davenport adalah salah satu petenis yang mengidolakan lawannya, ketika pada usia 14 tahun, Jennifer Capriati secara luar biasa menembus babak semifinal Grand Slam Perancis Terbuka tahun 1990 dan menjadi petenis putri termuda yang menembus semifinal Grand Slam.
Capriati kemudian mengalami masa kelam ketika dia terlibat marijuana dan ditangkap pada 1993 dan karirnya kemudian memudar.
Dia melaju ke semifinal Grand Slam Wimbledon dan AS Terbuka pada tahun 1991
Capriati kemudian kembali turun bertanding tiga tahun lalu dan merayap dari peringkat 112 ke urutan 21 tahun 1999 lalu setelah menjuarai dua turnamen.
"Dia berpengalaman dan luar biasa bisa bangkit kembali. Saya yakin dia akan menjadi lawan berat beberapa saat lagi," kata Davenport. zkl
updated: Friday, January 28, 2000 11:24:04 AM