Bagi setengah orang, berpikir adalah satu tugas yang berat. Namun ada juga yang menganggap bahwa berpikir lebih mudah daripada melakukan kerja-kerja berat seperti menjadi buruh dan sebagainya.
Umumnya masyarakat menerima berpikir adalah satu aktivitas mental yang memerlukan keseriusan. Dan apabila menyebut pemikiran Islam, tentulah hal itu akan lebih serius dan berat, karena pmikiran Islam berbeda dari arti pemikiran yang dipahami oleh kebanyakan orang.
Pemikiran Islam atau dalam Bahasa Arabnya Fikrah Islamiah adalah penting terutama bagi pengurus Organisasi Islam dalam melihat dan menilai suatu kejadian, peristiwa yang berlaku di sekitarnya, atau apa saja yang memerlukan tanggapan dari orang lain. Tanpa fikrah Islamiyyah yang jelas seorang individu Muslim mungkin akan melakukan kesalahan dalam menanggapi sesuatu isu.
Apabila melihat jalan pikiran dari kalangan intelektual Barat dan Timur, yang Islam ataupun non Islam, dapat dilihat dengan jelas gejala penyimpangan pikiran dari aturan yang sebenarnya.
Dalam sebuah media beberapa tahun lalu dimuat pandangan seorang profesor yang tidak berdasarkan pada fikrah Islamiyyah mengenai satu isu yang berkaitan dengan Islam.
Profesor tersebut membahas betapa tidak perlunya hukum potong tangan ke atas seorang pencuri cendol, tetapi ia merasakan perlu hukuman itu terhadap pelaku kejahatan narkoba. Untuk mencari kejernihan fikrah Islam dalam soal ini, wajibnya bagi orang Islam merujuk kepada nas-nas hukum yang qathi, kemudian barulah kepada persoalan qiyas dan ijmak atau lain-lain dengan cara mengistinbathkan hukum mengikut kaedah Usul Fiqh.
Surah Al Maidah ayat 38 ada menyebut " Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan hendaklah dipotong tangannya." Nas tersebut adalah qathi terhadap hukum pencurian.
Perbuatan mencuri menjadi sebab dijatuhkan hukuman had, yaitu potong tangan kalau kesalahan dijatuhkan. Soal yang dicuri itu cendol bukanlah penyebab untuk tidak dijatuhkannya hukuman tersebut.
Hukuman itu hanyalah boleh dibatalkan atas sebab-sebab yang munasabah menurut Syariah Islam seperti mencuri dengan alasan lapar atau situasi ekonomi yang begitu memaksa sehingga menyebabkan seseorang itu mencuri.
Alasan hanya karena yang dicuri itu nilainya tidak seberapa lalu ditolak hukumannya merupakan contoh pemikiran yang berada di luar garisan pemikiran Islam. Keadaan seperti itu boleh berlaku bilamana seorang pemikir lebih mengutamakan akal pemikirannya sendiri daripada undang-undang yang telah ditetapkan oleh Islam.
Di sinilah pentingnya untuk memahami dan mempelajari Fikrah Islamiyyah secara teratur dan berdisiplin. Kekaburan-kekaburan yang dialami oleh umat Islam pada hari ini tentang Islam itu sendiri kebanyakan berawal dari permasalahan ini.
Ini sebenarnya adalah masalah bersama yang perlu diselesaikan pula secara bersama. Di peringkat bawah misalnya para avtivis Islam mestilah memahami dan mempelajari bagaimana seharusnya berfikir secara Islam.
Islam adalah satu agama di mana akal bukanlah diletakkan pada prioritas yang pertama. Tidak ada soal "pendapat" dalam Islam dalam perkara-perkara dasar kecuali sesudah diselidiki sumber-sumber pemikiran yang asli yaitu Al Quran, Sunnah, jejak langkah para sahabat yang terdahulu secara teliti dan saksama.
Pola berfikir yang tidak berdisiplin itulah sekarang ini yang merusak umat Islam terutama dalam meghadapi serangan-serangan dari dalam. Oleh karena itu sudah seharusnya disadari betapa pentingnya Fikrah Islamiyyah bagi setiap individu Muslim istimewa dalam sesebuah Organisasi Islam.
Al Imam Hasan Al Banna dalam menyorot perubahan-perubahan yang berlaku dalam sejarah seperti yang dibawa oleh Muosolini dan Hitler, melihat betapa perubahan-perubahan tersebut didahului oleh perubahan pemikiran sebelum berlakunya perubahan secara fizikal (lihat Tiga Bingkisan Risalah Dakwah).
Demikian juga perubahan yang berlaku dalam sepanjang lembaran sejarah Islam yang gemilang itu. Rasulallah saw menghabiskan masa selama tiga belas tahun untuk merubah pemikiran Arab Jahiliyyah sebelum berhijrah ke Madinah dan menegakkan Islam di situ. Gejala-gejala penyimpangan pemikiran jualah yang kemudian menyebabkan masyarakat teladan itu terpecah dan hingga kini masih meraba-raba mencari asas kekuatan untuk membina apa yang telah hancur itu.
Dengan begitu apa yang penting bagi umat Islam adalah usaha-usaha menjernihkan kembali pemikiran Islam yang kini dihinggapi oleh berbagai kotoran dan sampah yang sukar dibersihkan. Dan barangkali usaha-usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran akan memberi jalan yang lebih lapang dan luas dalam mencapai matalamat yang dikehendaki. geocities
updated: Friday, January 28, 2000 11:25:13 AM