Menutup Aurat Budaya Murni Wanita Muslim

HUKUM wajib menutup aurat tidak boleh dimansuhkan dengan hujah akal, walau sehebat mana sekalipun logiknya hujah itu. Ini karena hukum itu ditetapkan dengan nas yang jelas, yang tidak lagi boleh diijtihadkan.

Nas yang terang dalam epistemologi Islam, mengatasi akal rasional, kerana nas itu adalah wahyu yang nyata maksudnya, dan tidak memerlukan akal rasional untuk menerangkannya. Apa lagi untuk membatalkan pengertiannya yang jelas itu.

Walaupun ada pihak yang bersikap sinis terhadap pakaian menutup aurat, budaya berpakaian menutup aurat itu sudah berkembang dan diterima masyarakat. Banyak wanita menerima budaya ini, termasuk wanita bekerja.

Bahkan di Kuala Lumpur, wanita bukan Islam memilih baju kurung untuk dipakai pada hari tertentu seperti Jumat. Pakaian ini, kelihatan lebih sopan dan manis jika disesuaikan dengan cara berpakaian yang sederhana.

Wanita Islam di Malaysia mulai memakai pakaian menutup aurat secara sadar setelah berkembangnya gerakan dakwah secara teratur di pusat pengajian tinggi pada awal 70-an. Pada masa itu pengaruh sekularisme dan sosialisme di kalangan intelektual berada pada masa kejayaannya. Gerakan Islam, baru saja mengambil tempat di tengah pertarungan ideologi di kalangan mahasiswa dan golongan terpelajar.

Budaya menutup aurat bukanlah berkembang tanpa tentangan. Waktu itu pihak pengurus kampus di Malaysia sempat memanggil beberapa mahasiswa karena berpakaian menutup aurat.

Namun dengan argumentasi, akhirnya pihak kampus mengizinkan mahasiswanya mengenakan jilbab. Jika orang Sikh dibenarkan memakai serban atas alasan agama, mengapa orang Islam hendak mematuhi kehendak agama mereka, dicegah dengan pelbagai halangan? Ada orang yang begitu percaya kulit tidak penting dan yang penting ialah isi karena itu pakaian tidak menunjukkan seseorang lebih Islam. Soal pakaian adalah perkara remeh.

Tetapi orang yang sama begitu membesarkan wanita memakai pakaian menutup aurat. Jika soal pakaian tidak penting, biarlah wanita kita memilih apa saja pakaian yang dikehendaki mereka.

Tetapi apabila mereka memilih pakaian menutup aurat pemilihan itu menjadi penting dan dihantam seolah-olah pakaian itu memberi ancaman kepada sistem kehidupan di negara ini.

Kulit dan isi sama penting. Tanpa kulit yang mengawal, isi akan menjadi busuk. Kulit tanpa isi apalah gunanya. Walaupun budaya yang dianggap kulit tidak boleh digunakan, tetapi ada peranannya dalam sistem kehidupan.

Yang paling penting ialah kita harus mengetahui kulit apa. Jika kita kenal kulit durian, kita akan kenal isinya. Jika kita tidak kenal kulit durian kita mungkin menyangka isi buah lain sebagai isi durian. Mungkin isi itu memabukkan dan kita pun berkata buah durian itu memabukkan. Ini mungkin berlaku jika kita menyangka yang penting hanya isi dan bukan kulit.

Pakaian menutup aurat mungkin dianggap kulit. Tetapi pakaian itu diwajibkan oleh Islam dengan hukum yang jelas. Orang yang menutup aurat dengan kesadaran bahwa pakaian seperti itu diwajibkan oleh agama, sekurang-kurangnya, akan eerasa lapang ia sudah menunaikan salah satu tuntutan agamanya. Tuntutan yang mudah dan tidak membebankan.

Walaupun dengan memakai pakaian menutup aurat itu, bukanlah bermakna Islamnya sempurna dan bebas daripada kemungkinan melakukan dosa, namun ia lebih baik daripada orang yang tidak menutup aurat yang melakukan dosa sepertinya.

Pendek kata, memakai pakaian menutup aurat itu suatu kebaikan dan tidak boleh dihalang-halangi, semata-mata karena ia melakukan melakukan kejahatan. Dengan memakai pakaian menutup aurat, sebenarnya, ia terhindar daripada dosa memperlihatkan aurat yang dilarang Allah.

Melanggar sesuatu hukum yang diperintahkan Allah, walaupun mengenai pakaian, bukanlah perkara remeh. Mentaati perkara wajib adalah perkara besar, walaupun dilihat remeh oleh manusia. Allah berfirman, mafhumnya:

"Dan kamu berkata dengan mulut kamu tanpa kamu mempunyai ilmu mengenai perkara yang kamu katakan itu. Kamu menyangka ia perkara remeh pada hal di sisi Allah ia adalah besar." (Surah Al-Nur: ayat 15)

Menutup aurat, berarti juga memilih kain yang tidak menampakkan kulit tubuh atau model yang terlalu ketat sehingga lekuk tubuh terlihat.

Tetapi bukanlah mesti jenis pakaian yang tebal sehingga tidak sesuai dengan iklim dan tidak pula longgar sehingga langsung tidak sesuai dengan keadaan.

Budaya menutup aurat yang dikehendaki Islam, bukanlah budaya selekeh seperti yang diamalkan oleh setengah wanita dan lelaki Islam. Ia adalah pakaian yang sederhana. Pakaian yang berada antara model yang menggiurkan dengan pakaian selekeh, melucukan, dan tidak sesuai dengan keadaan sehingga dibenci dan cemooh. geocities


updated: Friday, January 28, 2000 11:24:50 AM

Berita Hari ini