JAKARTA- Tokoh kontroversial Eggy Sudjana, ketua Perhimpunan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), kemarin (28/1) dipanggil Mabes Polri, berkait dugaan keterlibatannya dalam aksi tablig akbar di Mataram, Lombok, NTB, yang berujung rusuh.
Sementara itu, Al Chaidar, ketua panitia aksi sejuta umat di Monas, yang dikabarkan melarikan diri, ditangkap jajaran Polda Metro Jaya ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta sepulang dari Malaysia. Sebelumnya Al Chaidar dikabarkan melarikan diri ke Filipina setelah jajaran kepolisian mencari-carinya.
Eggy Sudjana diperiksa selama tiga jam (10:00 s.d 15:00) oleh Kasubdit Tindak Pidana Keamanan Negara, Kol (Pol) Nono Sukarna. Tokoh yang selama ini sering dituding penggerak massa itu, disodori 25 pertanyaan, intinya mempertanyakan keberadaan dirinya di Mataram.
Status Eggy menurut pejabat di Mabes Polri hanya sebagai saksi. Namun Eggy ditemui usai pemeriksaan mengungkapkan pemeriksaan terhadapnya terkesan sebagai tersangka provokator Mataram.
"Padahal saya datang ke sana (Mataram) karena diundang PPMI NTB untuk jadi pembicara di tablig akbar. Saya sendiri belum sempat pidato karena ketinggalan pesawat," jtutur Eggy.
Ketika tiba di Mataram, cerita dia, ternyata sudah ada kerusuhan, termasuk di Ampenan. "Karena dikabari ada kerusuhan, saya langsung menyingkir ke Senggigi. Jadi tak benar saya provokator di sana," tandasnya.
Memperkuat alibinya, Eggy menunjukkan tiket dan seorang teman bernama Amriful Hakim. "Saya tahu, ini semua permainan elit politik, kenapa saya yang mesti dituduh kok bukan (mantan presiden) Soeharto yang dituding sebagai provokator," ujarnya.
Sebab, tambahnya, saat Soeharto lengser sempat mengatakan, bahwa akan terjadi kerusuhan setelah turun dari jabatan presiden. "Saya menilai, Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid) juga provokator. Wong umat muslim mau jihad kok malah dikatakan jahid," tandasnya.
Ia juga mempertanyakan, kenapa dia sebagai orang Islam yang diperiksa sedang orang Nasrani yang melakukan pembunuhan terhadap umat Islam di Maluku tidak diperiksa dan ditahan.
"Bagaimana saya disebut provokator? Saya ini ibarat penjual obat, bebas ngomong untuk memasarkan obat saya. Apakah saya harus memaksa orang lain menuruti omongan saya untuk membeli obat saya? Kan tidak. Orang bertindak sesuatu karena memang ada masalah," ujarnya beralasan.
Secara terpisah, Kakorserse Mabes Polri, Mayjen Pol Drs Dai Bachtiar mengatakan, selain Eggy Sudjana, Mabes Polri akan memintai keterangan dua warga Jakarta berkait kerusuhan Mataram. "Sebenarnya Eggy Sudjana dipanggil bersama rekannya bernama Taufik, tapi si Taufik belum datang," kata dia.
Menurut Bachtiar, pemeriksaan terhadap Eggy guna meng-kroscekkan informasi mengenai dugaan keterlibatan dia termasuk alibinya, karenanya status Eggy masih saksi.
"Tersangka provokator rusuh Mataram sudah kita tahan, yakni Isak Sasaki dan M Saat, keduanya warga Mataram," ujar Bachtiar saat mendampingi Kapolri Letjen Pol Drs Rusdiharjo meninjau Polda Metro Jaya, Jumat (28/1) pagi.
Ditangkap
Kapolda Metro Jaya Mayjen POL Nugroho Djajusman mengatakan, ketua panitia Monas, Al Chaidar ditangkap ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta sepulang dari Malaysia, Kamis malam.
Sebelumnya, pihaknya sudah mengirimkan dua kali surat panggilan, namun Chaidar tak pernah mengindahkan. Hingga kemarin, Al Chaidar masih dimintai keterangan di Mapolda Metro Jaya berkaitan ceramahnya di Monas, yang intinya berkeinginan mengganti Pancasila dengan Islam.
Ketua DPP PBB, Ahmad Sumargono dihubungi wartawan membenarkan, polisi mencari-cari Al Chaidar karena isi ceramahnya tersebut. "Isi pidatonya memang mengimbau umat Islam Indonesia agar membentuk negara Islam," ujarnya.
Ketua Staf Divisi Kelaskaran Front Pembela Islam (FPI) Reza Fahlevi menguatkan pernyataan Ahmad Sumargono. Bahkan, Reza menilai Al Chaidar adalah anggota Negara Islam Indonesia (NII).
Ia mengira, tokoh-tokoh yang menghadiri acara di Monas, termasuk dirinya, telah terjebak. "Saya heran, sekelas Amien Rais juga mau mendatangi acara itu," ujarnya.
Sementara Amien Rais ketika dihubungi di Hotel Sheraton Jakarta, mengaku belum mengetahui penangkapan Al Chaidar. "Saya baru tahu dari Anda. Silakan saja kalau memang ada dasar hukumnya. Negara kita negara hukum, nanti kan diproses di pengadilan," ujar Amien.
Sekjen DPP PKB, Muhaimin Iskandar maupun Ketua DPP PKB, Taufikurrachman Saleh meminta Polri bersikap tegas sehingga permasalahan cepat selesai. "Dengan ketegasan aparat penegak hukum maka tidak akan menumbuhsuburkan kekerasan," ujar Muhaimin, seraya mengakui, belakangan ini NII berusaha tampil di panggung politik tapi tidak mampu karena kekuatannya sangat kecil.
Ketua DPP PDI-P Dimyati Hartono mengatakan, polisi melakukan penangkapan karena ada landasan hukum. Bila Al Chaidar terbukti ingin mengubah Pancasila dengan dasar lainnya, maka tindakannya bukan hanya sekadar makar tapi sudah melawan negara atau pemerintahan yang sah. "Kalau itu, nilai tindakan hukumnya sangat tinggi (berat)," ujarnya.
Mengungkap semuanya, kata dia, polisi jangan ragu memanggil para tokoh yang hadir di Monas, seperti Amien Rais, Ahmad Sumargono dan Hamzah Haz untuk memberikan kesaksian atau indikasi terhadap adanya pelanggaran hukum. "Kita harus berani menegakkan hukum. Kelemahan polisi dulu kan itu dan sekarang harus diubah, harus berani tanpa harus takut lagi." sgu/aw/sry
Saturday January 29, 2000 11:44:35 PM