YOGYAKARTA- Suasana anarkis yang dikuatirkan timbul usai tablig akbar di Stadion Kridosono, Yogyakarta, benar-benar terjadi. Ribuan massa peserta pengikut tablik akbar, Minggu (30/1), melakukan tindakan perusakan terhadap sejumlah rumah ibadah, dan menjadikan kota Gudeg sempat disaput ketegangan.
Aparat kepolisian setempat hingga tadi malam sedikitnya telah mengamankan sembilan orang yang diduga sebagai penggerak dan pelaku pengrusakan terhadap tujuh bangunan rumah ibadah. Mereka disergap Satuan Buru Sergap Polresta Yogya dan Unit Sidik Sakti serta Resmob Polda DIY di tiga lokasi.
Tablik akbar yang diprakarsai Forum Komunikasi Ahlul Sunnah Wal Jamaah itu juga diikuti massa PPP, Front Pembela Islam (FPI) dan warga Jawa Timur. Massa PPP mengikuti tablig akbar setelah sebelumnya mengikuti acara syawalan di gedung PDHI, alun-alun utara.
Acara inti tablig adalah ceramah dari ustadz Jafar Umar. Tablig akbar sendiri digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap peristiwa di Ambon. Acara yang dimulai pagi sekitar pukul 10.00 itu berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.
Ketua DPD PPP DIY, dr AR Fauzi dihubungi tadi malam mengaku sangat kecewa atas peristiwa itu. "Kalau dilihat secara nasional, saya bersyukur karena tidak sampai menimbulkan kejadian seperti di Mataram. Tapi secara mikro saya kecewa karena ada sedikit kejadian yang mungkin kurang pas," kata Fauzi.
Namun Fauzi minta kepada massanya dan masyakarat Yogya cooling down. "Kita sudah berupaya, tapi untuk menjamin memang susah. Sebaiknya kita cooling down," tuturnya.
Konvoi massa
Berdasarkan pantauan Bernas, massa menyerbu dan merusak sejumlah rumah ibadah gereja dengan cukup brutal. Sebagian besar dari mereka mempersiapkan sejumlah senjata tajam, pentungan dan batu, yang disembunyikan di balik baju yang dikenakan atau dibungkus dengan kain atau kertas.
Aksi brutal itu diawali ribuan massa berkonvoi seusai mengikuti tablig akbar. Acara itu bubar menjelang shalat Dzuhur itu disambung konvoi keliling kota.
Konvoi itu sepanjang satu kilometer dan sempat mengganggu lalu lintas. Orang yang berpapasan dengan konvoi, memilih untuk minggir dan menyaksikan "tontotan" itu.
Diperkirakan, massa yang berpawai itu adalah simpatisan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Di sepanjang jalan, mereka meneriakkan yel-yel sambil mengibarkan bendera yang dibawanya.
Ketika berkonvoi keliling kota, mereka sempat melakukan pelemparan batu dan mercon di sejumlah rumah ibadah; di antaranya yang berada di Jl Senopati. Di tempat itu, massa meledakkan lima mercon banting dan sejumlah batu ke arah atap rumah ibadah itu.
Gedung di sebelahnya, SMPN II juga terkena lemparan di bagian atapnya. Berikutnya rumah ibadah di Taman Siswa. Sejumlah kaca bangunan itu pecah akibat terkena lemparan batu. Massa bahkan sempat memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Tiga penunggu rumah ibadah itu, masing-masing Bagyo, Anto dan Mardi Widodo, saking ketakutan berlari dan bersembunyi ke atas balkon.
Selanjutnya massa menyisir di jalan Bantul dan merusak pintu pagar satu rumah ibadah di kawasan itu. Untungnya aparat keamanan keburu tiba di lokasi kejadian, sehingga emosi massa berhasil diredam.
Aksi ribuan massa tablik akbar itu spontan membuat kota Yogyakarta sempat disaput kecekaman. Aparat keamanan gabungan Polri dan TNI hingga tadi malam terus berjaga-jaga di sejumlah tempat ibadah.
Pusat-pusat pertokoan hingga petang kemarin sempat terhenti. Para pemiliknya serta merta menutup toko mereka. Praktis kota Yogya yang sehari-hari ramai, berubah menjadi kota tanpa kegiatan; selain para aparat keamanan yang hilir-mudik di tengah kota serta penjagaan di sejumlah tempat-tempat vital. Termasuk rumah-rumah ibadah.
Serbu mapolres
Massa tablig akbar di Stadion Kridosono yang jumlah sekitar 6.000, termasuk dari Front Pembela Islam (FPI) bergerak menuju Mapolres Sleman di Jl Magelang. Mengetahui itu, aparat kepolisian dengan sigap menutup jalan agar tidak ditembus arak-arak massa sepanjang satu kilometer tersebut.
Mereka berkonvoi menuju Mapolres Sleman sambil mengumandangkan shalawat dan pekikan "Allahu Akbar". Bendera bertuliskan FPI dan Lasykar Jihad berkibar-kibar di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Kapolresta Yogya, Letkol Drs Budiyono didampingi wakilnya, Mayor Drs Teguh Budi Prasojo, petang kemarin membenarkan atas ditangkapnya sembilan tersangka yang diduga sebagai penggerak sekaligus melakukan perusakan.
Satu dari sembilan tersangka, Tpn (32), diduga kuat pelaku pembacokan terhadap anggota Resmob Polda DIY, Sertu P Tri Waluyo. Korban menderita luka parah dan sampai semalam masih belum sadarkan diri, dirawat di RSUP dr Sardjito, Yogyakarta.
Sementara delapan tersangka lain masing-masing Mrd (28) warga Bantul, Ar (26), Msw (18) dan Ard (25), ketiganya warga Keparakan Kidul, Yogya, Tfk (32) dan Md (22) warga Mantrijeron, Hrn (21) dan Bd (32), keduanya warga Danunegaran.
Membuktikan kesembilan tersangka pelaku pengrusakan sejumlah rumah ibadah, pihaknya dibantu Polda DIY sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti. "Kalau mereka terbukti, jelas akan diambil tindakan tegas sesuai proesdur hukum," kata Budiyono.
Meski pun tidak terbukti dalam kasus itu, mereka tetap diajukan ke pengadilan lantaran memiliki senjata tajam izin.
Danrem kecewa
Sementara itu Komandan Korem 072/Pamungkas Kolonel Inf Bambang Suherman menyatakan rasa kecewanya atas peristiwa pengrusakan yang menimpa sejumlah rumah ibadah di Yogya, Minggu (30/1).
Tindakan yang dilakukan massa itu, bukan hanya dinilai sebagai tindakan anarkis yang tidak ada gunanya, tapi juga dinilai telah menyalahi kesepakatan yang dibuat para ulama NU dan Danrem 072/Pamungkas, Jumat (28/1) lalu, di Pondok Pesantren Krapyak.
"Saya kecewa kejadian ini. Anda tahu, ini sama artinya mereka telah menyalahi kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, yakni tekad untuk menciptakan kondisi Yogyakarta yang sejuk," cetus Bambang Suherman di sela meninjau satu rumah ibadah di Yogya.
Terkait kegiatan tablig akbar itu, Bambang mengemukakan pihaknya telah mengingatkan pihak pelaksana tentang risiko seputar pengerahan massa. Hal serupa, diakuinya juga telah dilakukan para ulama NU dalam kesempatan yang berbeda, bahwa pengerahan massa merupakan tindakan yang tak ada gunanya.
"Masyarakat itu strata sosialnya berbeda-beda. Kalau yang berpendidikan tinggi tentunya tak ada masalah dengar ceramah agama, karena mereka memang bisa lebih arif dan bijaksana menyikapinya. Tapi bagaimana dengan yang lain. Ceramah yang sama bisa saja akan jadi masalah untuk lainnya," paparnya.
Meski memicu sejumlah permasalahan, namun Bambang mengakui bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk membatasi penyelenggaraan berbagai kegiatan yang dibarengi dengan pengerahan massa secara besar-besaran.
Selain rumah ibadah, gedung SLTP di desa Ganjuran, Kecamatan Bambanglipura, Bantul juga dilempari batu oleh sekitar 100 orang berkendaraan sepeda motor.
Kasatserse Polres Bantul, Lettu Artanta yang didampingi Kapolres Bantul Letkol Pol L Manihuruk SmIK saat dihubungi Bernas menyatakan benar atas adanya aksi pelemparan itu. Menurut Lettu Artanta, kejadian itu merupakan dampak dari kejadian di wilayah Kodya Yogyakarta.
Meski seluruh sasaran kerusakan adalah gereja, Bambang Suherman secara tegas bahwa tindakan anarkis itu bukan tindakan balasan dari kasus pengemboman Masjid Besar Kauman.
Tak terkait
Ketua LKPSM NU DIY, Mashyur Amin diemui usai pelantikan PW Muslimat NU DIY di Hotel Istana, Minggu (30/1) secara tegas menyatakan bahwa NU tak terkait pada gerakan-gerakan yang merugikan orang lain.
"Islam di NU justru ingin berbuat baik untuk bangsa dan negara," katanya. brn/dtk/ant
updated: Thursday, February 04, 1999 10:22:18 AM