:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sabtu, 01 Januari 2005 02:55:44


Aceh Masih Dicintai RI

Ibu, lihatlah
salah seorang anak kesayanganmu
sekarang telah telanjang
benar-benar telanjang
telanjang lahir dan bathin
Anakmu yang bergelar Serambi Mekkah
Sedang mendapat cobaan
cobaan dari sang pencipta
dengan caranya sendiri
tsunami datang dan menari-nari
Lihatlah Ibu
saat ini di sana
anakmu, saudara kami tercinta
telah kehilangan segala-galanya

Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan puisi berjudul ‘Surat Duka Buat Ibu Pertiwi’ karya Abdussukur yang dibacakan di depan posko bencana Aceh-Sumut BPost, Jumat (31/12). Sumbangan puisi ini merupakan salah satu wujud kecintaan seniman Kalsel, terhadap musibah yang melanda propinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Menurut Slamet Rahardjo Djarot (55), aktor yang juga seniman terkenal di tanah air, gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh membawa hikmah tersendiri bagi rakyat di propinsi paling barat RI ini.

Katanya, rasa simpati dan kepedulian untuk menyalurkan bantuan dari masyarakat di tanah air, mengalir bak air bah ke Aceh. Ini, membuktikan masih adanya cinta bangsa Indonesia terhadap kawasan yang ingin merdeka itu.

"Teman-teman Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harusnya bisa menyadari bahwa rakyat Indonesia mencintai Aceh," kata pemeran Teuku Umar dalam film Tjoet Nja’ Dhien (1988) ini, kemarin.

Slamet yang juga pimpinan Sanggar Teater Populer Jakarta menambahkan, meskipun bangsa Indonesia bukan dianggap saudara lagi oleh GAM, namun perhatian dan kasih sayang yang tercurah pada puluhan ribu korban bencana gempa dan tsunami tersebut begitu melimpah.

"Bahkan Papua yang juga dalam keadaan sulit tetap memberikan bantuannya," kata Slamet yang bersama adiknya, Eros Djarot, sutradara Tjoet Nja’ Dhien, pernah menjelajahi tanah Aceh itu.

Seperti diketahui Propinsi Papua, tepatnya di Nabire juga dilanda gempa bumi 27 November 2004, hingga menimbulkan korban jiwa 27 orang. Namun, seperti propinsi-propinsi lainnya di Indonesia, mereka (Papua) juga mengirimkan bantuan ke NAD.

"Masalah GAM terjadi karena mereka benci terhadap pemerintah, namun kebencian itu jangan ditujukan pula pada bangsa Indonesia ini," ujar pengajar Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta itu.

Slamet yang saat syuting pernah menempuh perjalanan delapan jam dari Banda Aceh ke Meulaboh —lokasi terparah, terdekat dengan pusat gempa— itu juga menyayangkan penanganan pemerintah yang lambat.

"Ke mana itu pesawat-pesawat pribadi yang disewa saat kampanye kemarin? Kenapa tidak digunakan untuk mengangkut bantuan bagi para korban bencana?" kritik pria kelahiran Serang itu.

Rasa kepedulian terhadap bencana alam di Aceh, juga ditunjukkan oleh Krisdayanti. Diva pop Indonesia itu bersama suaminya, Anang Hermansyah, tetap menyajikan hiburan musik pergantian tahun 2004 ke 2005, Jumat (31/12) malam, di Hotel Gran Melia, Jakarta. Tapi, konsep konser mereka diubah, dari untuk party (pesta) jadi untuk charity (amal).

Menurut Anang, inisiatif untuk mengubah konsep itu datang dari dirinya dan istrinya setelah terjadi bencana alam di Aceh dan Sumatera Utara, Minggu 26 Desember lalu. Mereka membicarakannya dengan pihak penyelenggaranya, Tommy Pratama Hernanto dari Original Production dan Hotel Gran Melia.

Shalat Ghaib

Sementara itu di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, dilaksanakan shalat ghaib bagi korban tewas musibah gempa dan tsunami. Semula pelaksanaannya direncanakan setelah shalat Jumat, namun akhirnya dimajukan lebih awal.

Meski dimajukan, shalat ghaib itu tetap mampu menyedot ribuan jamaah, karena niatnya tidak hanya ditujukan pada kaum muslimin dan muslimat di daerah NAD dan Sumut, tapi juga untuk negara-negara tetangga yang juga ikut terkena musibah bencana alam seperti di Thailand, India, dan Malaysia.

Pelaksanaan shalat ghaib berlangsung hikmat dan penuh keharuan. KH Akhmad Bakeri --akrab dipanggil Guru Bakeri-- yang memimpin doa bahkan sampai meneteskan air mata.

Guru Bakeri sangat berharap, para korban yang terkena musibah mendapat predikat mati syahid di akhirat, dan terlepas dari siksa kubur. Kemudian, kepada para keluarga yang selamat dapat diberi ketabahan dan meningkatkan iman dalam menghadapi musibah tersebut.

Sementara itu, Drs Muhammad Nurdin dari MUI Kabupaten Batoladalam khotbah Jumatnya, berharap untuk menyikapi bencana yang berakibat tewas maupun hilangnya ribuan warga di Aceh, perlu adanya partisipasi nyata.

"Jangan hanya sering berkomentar membangun saja kalau buktinya tidak diperlihatkan secara nyata. Yang perlu kita butuhkan saat ini adalah kebersamaan yang ikhlas untuk membantu para korban bencana ini," kata Muhammad Nurdin.

Pada bagian lain, Guru Bakeri menyerukan agar dalam penggalangan dana maupun natura bagi para korban yang tertimpa musibah gempa dan gelombang tsunami, tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Jangan ambil kesempatan, seru Guru KH Akhmad Bakeri ketika ditemui sejumlah wartawan media cetak dan elektronik usai memimpin shalat ghaib dan shalat Jumat, kemarin.

"Saya berharap dana maupun natura yang terkumpul tersebut memang benar-benar tersalurkan kepada yang berhak menerimanya. Jangan masuk kantong sendiri, sadarlah ancaman Allah itu ada," tegas Pimpinan Pondok Pesantren Mursyidul Amin, Gambut ini.

Hal senada diutarakan Gubernur Kalsel, Sjachriel Darham. Dia menyambut positif penggalangan dana sebagai bentuk keprihatinan sesama penduduk Indonesia yang akan disumbangkan kepada para korban musibah di Aceh dan Sumut.

Hanya, dia berharap sumbangan yang terkumpul dari sekian banyak posko peduli yang bermunculan di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, tidak sedikit pun menyimpang dari tujuan awal untuk para korban bencana tersebut. "Saya harapkan sumbangan yang terkumpul benar-benar tertuju kepada yang berhak," tandasnya.

Kirim Kapal Perang

Entah tujuan apa, empat kapal perang dan sembilan pesawat P-3C Orion (pesawat pengintai) Amerika Serikat telah merapat di wilayah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Namun, AS berdalih untuk memberikan bantuan kemanusiaan terkait bencana tsunami.

Sebelumnya pemerintah AS telah mengirim pesawat angkut milik Angkatan Laut AS yang terbang dari Hongkong ke Sumatera. Pesawat pertama, Hercules C-130, telah mendarat di wilayah Indonesia membawa selimut, kain sprei, dan obat-obatan.

Pemerintah Bush dicurigai memanfaatkan bencana itu untuk menunjukkan kemampuan militer AS dalam melakukan misi kemanusiaan. Tetapi seorang pejabat AS menyatakan, penyelamatan jiwa lebih penting daripada kepentingan politik. "Berdasar kebutuhan mendesak, apa pun akan kami lakukan meski tidak cukup cepat," ujar Juru Bicara Kedubes AS Charles Silver.

Silver mengatakan pesawat angkut C-130 pertama dari pangkalannya di Kadena, Jepang, dan telah mendarat di Bandara Polonia Medan, Kamis (30/12), membawa berbagai bantuan dan kantong-kantong mayat. Pesawat itu juga membawa tim pendahulu --puluhan personel militer-- yang akan menilai kondisi di wilayah bencana dan memutuskan logistik apa saja yang diperlukan untuk operasi bantuan AS.

"Kita harus menyambut baik respon pemerintah AS. Pada saat ini kita membutuhkan pasukan militer, sebab misi ini berada di luar kemampuan sipil," ujar Rizal Sukma, analis politik dari Indonesia’s Center for Strategy and International Studies.

Banjarbaru Kirim Sukarelawan

Pemko Banjarbaru akan mengirimkan beberapa pegawainya, terutama alumnus APDN, STPDN dan IIP untuk menjadi tenaga sukarelawan ke lokasi bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut.

Walikota Banjarbaru H Rudy Resnawan seusai menghadiri acara pengukuhan pengurus MUI Banjarbaru di Aula Gawi Sabarataan, Jumat (31/12) siang mengatakan, pihaknya menerima surat dari Mendagri yang mengimbau pemerintah kota/kabupaten mengirimkan tenaga sukarelawan dari kalangan PNS.

"Ada surat dari Mendagri yang mengimbau kepada walikota dan bupati, kalau ada PNS --terutama alumnus APDN, STPDN dan IIP yang bersedia jadi tenaga sukarelawan, membantu korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara," tutur Rudy.

Rudy menjelaskan, para tenaga sukarelawan dari berbagai daerah di Indonesia itu, nantinya di bawah koordinasi Depdagri dan berkumpul di Jakarta pada 7 Januari 2005. ant/m8/iid/ant/ap


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Aceh Masih Dicintai RI

Menko Kesra Harus Di Aceh


Tsunami Termaut Dalam Sejarah


Mendadak, Diskotek Ditutup


Muslim-Non Muslim Bisa Satu Makam


2005, Kalsel Kehilangan Atlet


Jakarta-Aceh Rp1,2 Juta Lebih


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123