Ibu, lihatlah
salah seorang anak kesayanganmu
sekarang telah telanjang
benar-benar telanjang
telanjang lahir dan bathin
Anakmu yang bergelar Serambi Mekkah
Sedang mendapat cobaan
cobaan dari sang pencipta
dengan caranya sendiri
tsunami datang dan menari-nari
Lihatlah Ibu
saat ini di sana
anakmu, saudara kami tercinta
telah kehilangan segala-galanya
Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan puisi berjudul Surat Duka Buat
Ibu Pertiwi karya Abdussukur yang dibacakan di depan posko bencana Aceh-Sumut BPost,
Jumat (31/12). Sumbangan puisi ini merupakan salah satu wujud kecintaan seniman
Kalsel, terhadap musibah yang melanda propinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Menurut Slamet Rahardjo Djarot (55), aktor yang juga seniman terkenal di tanah air,
gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh membawa hikmah tersendiri bagi
rakyat di propinsi paling barat RI ini.
Katanya, rasa simpati dan kepedulian untuk menyalurkan bantuan dari masyarakat di tanah
air, mengalir bak air bah ke Aceh. Ini, membuktikan masih adanya cinta bangsa Indonesia
terhadap kawasan yang ingin merdeka itu.
"Teman-teman Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harusnya bisa menyadari bahwa rakyat
Indonesia mencintai Aceh," kata pemeran Teuku Umar dalam film Tjoet Nja Dhien
(1988) ini, kemarin.
Slamet yang juga pimpinan Sanggar Teater Populer Jakarta menambahkan, meskipun bangsa
Indonesia bukan dianggap saudara lagi oleh GAM, namun perhatian dan kasih sayang yang
tercurah pada puluhan ribu korban bencana gempa dan tsunami tersebut begitu melimpah.
"Bahkan Papua yang juga dalam keadaan sulit tetap memberikan bantuannya,"
kata Slamet yang bersama adiknya, Eros Djarot, sutradara Tjoet Nja Dhien, pernah
menjelajahi tanah Aceh itu.
Seperti diketahui Propinsi Papua, tepatnya di Nabire juga dilanda gempa bumi 27
November 2004, hingga menimbulkan korban jiwa 27 orang. Namun, seperti propinsi-propinsi
lainnya di Indonesia, mereka (Papua) juga mengirimkan bantuan ke NAD.
"Masalah GAM terjadi karena mereka benci terhadap pemerintah, namun kebencian itu
jangan ditujukan pula pada bangsa Indonesia ini," ujar pengajar Sinematografi di
Institut Kesenian Jakarta itu.
Slamet yang saat syuting pernah menempuh perjalanan delapan jam dari Banda Aceh ke
Meulaboh lokasi terparah, terdekat dengan pusat gempa itu juga menyayangkan
penanganan pemerintah yang lambat.
"Ke mana itu pesawat-pesawat pribadi yang disewa saat kampanye kemarin? Kenapa
tidak digunakan untuk mengangkut bantuan bagi para korban bencana?" kritik pria
kelahiran Serang itu.
Rasa kepedulian terhadap bencana alam di Aceh, juga ditunjukkan oleh Krisdayanti. Diva
pop Indonesia itu bersama suaminya, Anang Hermansyah, tetap menyajikan hiburan musik
pergantian tahun 2004 ke 2005, Jumat (31/12) malam, di Hotel Gran Melia, Jakarta. Tapi,
konsep konser mereka diubah, dari untuk party (pesta) jadi untuk charity (amal).
Menurut Anang, inisiatif untuk mengubah konsep itu datang dari dirinya dan istrinya
setelah terjadi bencana alam di Aceh dan Sumatera Utara, Minggu 26 Desember lalu. Mereka
membicarakannya dengan pihak penyelenggaranya, Tommy Pratama Hernanto dari Original
Production dan Hotel Gran Melia.
Shalat Ghaib
Sementara itu di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, dilaksanakan shalat ghaib bagi korban
tewas musibah gempa dan tsunami. Semula pelaksanaannya direncanakan setelah shalat Jumat,
namun akhirnya dimajukan lebih awal.
Meski dimajukan, shalat ghaib itu tetap mampu menyedot ribuan jamaah, karena niatnya
tidak hanya ditujukan pada kaum muslimin dan muslimat di daerah NAD dan Sumut, tapi juga
untuk negara-negara tetangga yang juga ikut terkena musibah bencana alam seperti di
Thailand, India, dan Malaysia.
Pelaksanaan shalat ghaib berlangsung hikmat dan penuh keharuan. KH Akhmad Bakeri
--akrab dipanggil Guru Bakeri-- yang memimpin doa bahkan sampai meneteskan air mata.
Guru Bakeri sangat berharap, para korban yang terkena musibah mendapat predikat mati
syahid di akhirat, dan terlepas dari siksa kubur. Kemudian, kepada para keluarga yang
selamat dapat diberi ketabahan dan meningkatkan iman dalam menghadapi musibah tersebut.
Sementara itu, Drs Muhammad Nurdin dari MUI Kabupaten Batoladalam khotbah Jumatnya,
berharap untuk menyikapi bencana yang berakibat tewas maupun hilangnya ribuan warga di
Aceh, perlu adanya partisipasi nyata.
"Jangan hanya sering berkomentar membangun saja kalau buktinya tidak diperlihatkan
secara nyata. Yang perlu kita butuhkan saat ini adalah kebersamaan yang ikhlas untuk
membantu para korban bencana ini," kata Muhammad Nurdin.
Pada bagian lain, Guru Bakeri menyerukan agar dalam penggalangan dana maupun natura
bagi para korban yang tertimpa musibah gempa dan gelombang tsunami, tidak disalahgunakan
untuk kepentingan pribadi.
Jangan ambil kesempatan, seru Guru KH Akhmad Bakeri ketika ditemui sejumlah wartawan
media cetak dan elektronik usai memimpin shalat ghaib dan shalat Jumat, kemarin.
"Saya berharap dana maupun natura yang terkumpul tersebut memang benar-benar
tersalurkan kepada yang berhak menerimanya. Jangan masuk kantong sendiri, sadarlah ancaman
Allah itu ada," tegas Pimpinan Pondok Pesantren Mursyidul Amin, Gambut ini.
Hal senada diutarakan Gubernur Kalsel, Sjachriel Darham. Dia menyambut positif
penggalangan dana sebagai bentuk keprihatinan sesama penduduk Indonesia yang akan
disumbangkan kepada para korban musibah di Aceh dan Sumut.
Hanya, dia berharap sumbangan yang terkumpul dari sekian banyak posko peduli yang
bermunculan di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, tidak sedikit pun menyimpang dari tujuan
awal untuk para korban bencana tersebut. "Saya harapkan sumbangan yang terkumpul
benar-benar tertuju kepada yang berhak," tandasnya.
Kirim Kapal Perang
Entah tujuan apa, empat kapal perang dan sembilan pesawat P-3C Orion (pesawat
pengintai) Amerika Serikat telah merapat di wilayah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam
(NAD). Namun, AS berdalih untuk memberikan bantuan kemanusiaan terkait bencana tsunami.
Sebelumnya pemerintah AS telah mengirim pesawat angkut milik Angkatan Laut AS yang
terbang dari Hongkong ke Sumatera. Pesawat pertama, Hercules C-130, telah mendarat di
wilayah Indonesia membawa selimut, kain sprei, dan obat-obatan.
Pemerintah Bush dicurigai memanfaatkan bencana itu untuk menunjukkan kemampuan militer
AS dalam melakukan misi kemanusiaan. Tetapi seorang pejabat AS menyatakan, penyelamatan
jiwa lebih penting daripada kepentingan politik. "Berdasar kebutuhan mendesak, apa
pun akan kami lakukan meski tidak cukup cepat," ujar Juru Bicara Kedubes AS Charles
Silver.
Silver mengatakan pesawat angkut C-130 pertama dari pangkalannya di Kadena, Jepang, dan
telah mendarat di Bandara Polonia Medan, Kamis (30/12), membawa berbagai bantuan dan
kantong-kantong mayat. Pesawat itu juga membawa tim pendahulu --puluhan personel militer--
yang akan menilai kondisi di wilayah bencana dan memutuskan logistik apa saja yang
diperlukan untuk operasi bantuan AS.
"Kita harus menyambut baik respon pemerintah AS. Pada saat ini kita membutuhkan
pasukan militer, sebab misi ini berada di luar kemampuan sipil," ujar Rizal Sukma,
analis politik dari Indonesias Center for Strategy and International Studies.
Banjarbaru Kirim Sukarelawan
Pemko Banjarbaru akan mengirimkan beberapa pegawainya, terutama alumnus APDN, STPDN dan
IIP untuk menjadi tenaga sukarelawan ke lokasi bencana gempa dan tsunami di Aceh dan
Sumut.
Walikota Banjarbaru H Rudy Resnawan seusai menghadiri acara pengukuhan pengurus MUI
Banjarbaru di Aula Gawi Sabarataan, Jumat (31/12) siang mengatakan, pihaknya menerima
surat dari Mendagri yang mengimbau pemerintah kota/kabupaten mengirimkan tenaga
sukarelawan dari kalangan PNS.
"Ada surat dari Mendagri yang mengimbau kepada walikota dan bupati, kalau ada PNS
--terutama alumnus APDN, STPDN dan IIP yang bersedia jadi tenaga sukarelawan, membantu
korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara," tutur Rudy.
Rudy menjelaskan, para tenaga sukarelawan dari berbagai daerah di Indonesia itu,
nantinya di bawah koordinasi Depdagri dan berkumpul di Jakarta pada 7 Januari 2005. ant/m8/iid/ant/ap